312. Sejarah Berdarah-darah

Viewed : 818 views

Tidak harus meneliti masa yang sudah lama berlalu, membaca peristiwa yang terdapat dalam buku-buku usang berdebu. Peristiwa-peristiwa pilu, kekejaman antar sesama yang sangat mencederai kalbu. Kenangan pahit yang akan diceritakan turun temurun, hingga menjadi penyakit yang menahun. Warisan peradaban, yang tidak akan pernah luntur dari ingatan.

Sekarang pun dikau dan daku sudah dan sedang mengalami, melihat dengan mata kepala sendiri. Tindakan-tindakan yang sangat tidak manusiawi, dan itu dilakukan demi menjalankan syariat ilahi. Hukum agama yang seharusnya membuat manusia jauh lebih bijaksana, entah bagaimana, itu membuat logika pemeluknya tidak lagi bekerja.

Bolehlah dikau seorang terpelajar ternama, deretan gelar sarjana berjejer di belakang nama, ataupun rakyat biasa. Kalau sudah menyangkut keyakinan agama, umat tunduk buta, seakan-akan akal tidak lagi berguna, semua diikuti begitu saja. Tidak ada yang cukup berani bertanya, sebaliknya rela mati demi membela agama.

Tidak tahu datangnya dari mana, akan tetapi pemeluk agama cenderung begitu emosional. Jika keyakinannya dilecehkan, tiba-tiba umat menjadi temperamental. Amarah demikian mudah meluap-luap, tak terkendali, gelap mata, kalap. Baik ekspresi itu terlihat maupun hanya sebatas niat. Semua ini demi membela agama.

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. (Kis 7:54,57,58)

Sekitar 2000 tahun yang lalu begitu, sekarang pun bukankah seperti itu? Kalau sudah menyangkut akidah, walau sudah 20 abad sikap itu tidak berubah. Kejam, sadis, tidak berprikemanusian, dan tidak disangka-sangka melakukan tindakan yang sebrutal itu. Melempari Stefanus hingga mati dengan batu.

Bagi penganut dari agama apa saja, lumrah anggap agamanya yang paling benar. Paling berkenan di hadairat Sang Pencipta, yang lainnya dituduh dalam keadaan ke sasar. Tanpa disadari, ataukah itu sudah melekat terpatri? Akibat langsung, umat manusia terkurung. Terkotak-kotak dalam sekat agama. Antara ‘kita’ dan ‘mereka’, agamaku dan agamamu.

Setiap orang dari agama apa pun, menjadi sasaran tembak dari yang lainnya, untuk dimenangkan menjadi anggota baru ke dalam golongan sendiri. Setiap kali ada yang dimenangkan, itu semakin membuktikan, bahwa agamanyalah yang paling gemilang. Maka berlomba-lombalah saling memenangkan.

Tidak heran, jika di abad-abad kegelapan, Majelis Agama dengan tega menjatuhkan hukuman mati bagi siapa saja yang keluar dari kekristenan. Mereka ini dianggap pengkhianat, musuh umat, layak untuk dilaknat, bak Stefanus yang dianggap sesat.

Bukankah perlakukan yang mirip kepada mereka yang dianggap menyeleweng, sekarang pun daku dan dikau dapat saksikan tindakan-tindakan mereka yang sedeng? Apalagi, jika daku dicap murtad karena pindah agama, sikap elite rohani tidak berubah dari dulu hingga kini. Itu dianggap aib bagi keluarga sendiri, hingga tega dijatuhi hukuman mati.

Jadilah, kehadiran agama justru memecah belah. Bahkan memutus tali silaturahmi sesama saudara sedarah. Jangankan tetangga, abang adik pun dapat dibuatnya tidak lagi tegor sapa. Jangan-jangan, walau sekandung namun terasa ada yang tidak nyambung. Musuh orang, ya mereka yang dari kelompok seberang. Itu semuanya hanya karena tidak seagama.

Kerajaan Agama membawa bala, konflik sesama yang tidak ada habis-habisnya. Sejarah berdarah-darah sebagai fakta, agama tidak membawa damai sejahtera.

Di satu sisi, agama tidak lagi dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Di sini lainnya, agama membawa petaka. Ini buah simalakama. Masihkah ada harapan di bumi seperti di sorga? (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Image by PublicDomainPictures from Pixabay

Comments

comments