Sepenggal kisah kepahlawan Daud dan kelompoknya di kota Kehila telah membuka tabir misteri kedudukan free will dalam hubugan dengan kemahatahuan-kedaulatan-kemahakuasaan-NYA. Isu-isu yang menjadi diskusi hangat sepanjang zaman.
Pembaca yang budiman! Sementara dikesampingkan dulu paham dari teolog ternama John Calvin, dengan konsep predestinasinya, ataupun Jacobus Arminius di abad ke 16. Mereka dan yang lainnya adalah teolog yang begitu berjasa dalam memahami perkara-perkara tersebut, walaupun mereka tidak sejalan satu dengan yang lain. Namun, pengajaran mereka telah turut memberkati umat dari zaman kuda gigit besi hingga kini.
Sebaliknya, mari daku dan dikau bersama fokus hanya kepada Alkitab. Biarkanlah hati yang tidak mau diam, jiwa yang rindu akan Sang Kekal, terus merengsek akal agar terus maju walau hanya sejengkal. Acap kali isunya buntu bagi logika, siapa nyana itu nyaman bagi sanubari yang haus nan dahaga. Ayo, kalau mentok bagi rasio, biarkanlah hati yang ambil komando!
Mari ayunkan langkah, melihat peritiswa sejarah, kota Kahila yang tengah dijarah. Perhatikan khusus adegan itu di 1 Samuel 23: 1-5. Suasana mencekam, layaknya tatkala HAMAS merayap menembus pertahan super cangih Israel. Pas pula itu terjadi di hari raya Sukkot (Pondok Daun), Sabtu, 7 Oktober 2023, dan akan diingat sebagai peristiwa berdarah-darah.
Berita penjarahan itu sampai juga di telinga Daud, sementara mereka di kejar-kejar raja Saul hingga nyaris terdesak ke laut. Daud kalut, tak tega membiarkan pembantaian itu berlanjut. Sementara kening raja berkerut memikirkan langkah strategis menghabisi Daud.
Dalam suasana kebatinan awut-awutan, dia bertanya kepada DIA Yang Maha Tahu segala hal tentang peristiwa di masa depan. Kalbu semrawut, wajar jika bertanya apakah Kehila akan dapat lagi direbut?
Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (1 Samuel 23:5)
Bagi DIA tidak ada yang tersembunyi, tidak ada teka teki! Sang Maha Tahu menjawab positif! Daud cs mendatangi Kehila dan persis terjadi seperti yang dinubuatkan, penduduk dapat diselamatkan.
Dalam adegan berikutnya di dalam 1 Samuel 23:6-13, Daud cs bak terperangkap dalam kota yang berbenteng. Dalam situasi tercepit, Daud lagi lagi bertanya kepada DIA Yang Maha Tahu. Akankah raja Saul mendatangi kota Kehila dan akankah penduduk akan menyerahkannya? Dan DIA menjawab: Positif. Pasti!
Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang. (1 Samuel 23:13)
Tidak satupun dari yang diketahui Sang Maha Tahu terjadi. Daud cs ambil langkah seribu, keluar kota dengan buru-buru. Akhirnya, raja Saul tidak jadi datang ke kota Kehila, dan karenanya penduduk tidak pernah menyerahkan Daud.
Sang Maha Tahu tahu, jika raja Saul datang, apa yang akan dilakukan penduduk. Dengan bahasa lain, DIA tahu segala kemungkinan. Namun dikau bisa yakin dengan pasti bahwa pengetahuan-NYA akan masa depan (foreknowledge) tidak mengharuskan DIA mendorong ataupun merekayasa agar hal itu terjadi. Lebih-lebih lagi memastikan bahwa peristiwa itu telah ditetapkan sebelumnya (predestination).
Kenyataan dari adegan pembebasan kota Kehila dan adegan langkah seribu Daud cs dapatlah dirangkum bahwa isu foreknowledge dan predestination adalah 2 hal yang terpisah. Tentu apa-apa yang DIA ketahui tentang masa depan, mungkin saja atau mungkin juga tidak telah tetapkan sebelumnya.
Kenyataan bahwa pengetahuan-NYA akan masa depan tidak otomatis perkara itu telah ditetapkan sebelumnya merupakan fondamental idea yang menjadi urat nadi keseluruhan kisah, peristiwa, drama, dan sejarah yang ada di Alkitab.
Bersyukur, DIA sudah tahu apa yang terjadi di Taman Sorga, sehingga telah menyiapkan obatnya. Mungkinkah itu sebabnya dalam 1 Petrus 1: 20, dikatakan bahwa Kristus telah dipilih sebelum dunia dijadikan (predestinasi)? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

