Kebesaran Hati Daud

Viewed : 2,635 views

1 Samuel 24:10-12
Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.
Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.
TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau,

Ketika raja Saul mengejar-ngejar Daud untuk dibunuh, ada satu saat dimana Daud memiliki kesempatan membalas untuk membunuh Saul.

Kalau saja Daud membunuh Saul, maka selesailah perjuangannya melarikan diri. Berakhirlah ketakutannya dari ancaman raja Saul. Daud akan merasa lega dan takhta Saul segera dapat diraihnya untuk menjabat sebagai raja Israel.

Kalau dipikir secara akal sehat, alangkah bodohnya Daud membiarkan peluang emas lewat begitu saja. Bukankah selama ini Saul sangat membenci dan selalu berusaha membunuh Daud?

Seandainya dituntut, maka cukup kuat dasarnya untuk membenarkan tindakan Daud membunuh Saul dengan alasan pembelaan diri. Tetapi Daud berhasil menguasai dirinya.

Daud takut kepada Tuhan. Rasa takut dan hormatnya kepada Tuhan membuat dia menang dalam penguasaan diri sehingga dia masih membiarkan Saul hidup. Dia menghormati raja yang diurapi Tuhan. Batinnya masih bersuara mengalahkan egonya.

Kebesaran hati Daud menjadi teladan bagi kita.

Pengalaman Daud menjadi pembelajaran baik dan berharga bagi kita untuk dapat menguasai diri dalam setiap suasana di dalam berelasi dengan banyak orang, yakni:
• ketika kita merasa diperlakukan tidak baik,
• ketika kita dilupakan,
• ketika hak kita tidak diberikan,
• ketika orang berprilaku tidak pantas kepada kita,
• ketika apa yang harusnya kita peroleh, orang malah lupa,
• ketika … … … …

Hal tersebut dapat terjadi dimana saja; di dalam keluarga, di tengah pekerjaan, di lingkungan tempat tinggal bersama tetangga, bahkan boleh jadi dalam persekutuan atau di gereja.

Manusia tidak akan dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada kita. Kitapun juga tidak akan mampu memuaskan banyak orang karena keterbatasan kita. Hanya Tuhan saja yang dapat diharapkan, dan kepada-Nya kita dapat berharap. Allah tidak lupa akan kita, dan itu yang utama.

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Reza Hasannia on Unsplash

Comments

comments