Betapa istimewanya anugerah yang satu ini. Sampai-sampai DIA sepertinya harus menahan diri, agar kehendak bebas manusia dijalankan seturut dengan keinginan hati. Laksana DIA rela kalaupun Adam Hawa mengangkangi titah ilahi, kalau itu syarat agar manusia dapat memilih jalan hidup sendiri.
Bukankah baru dapat dikatakan kehendak bebas, jika daku ada kapasitas yang sama untuk rela mengikuti titah-NYA atau mengesampingkannya? Bolehlah dikatakan, kemampuan untuk memilih taat dan tidak taat sama besarnya, alias 50% – 50% kemungkinannya.
Mungkinkah itulah karakteristik mendasar mengapa daku tercipta, agar menjadi photocopy Sang Pencipta di dunia nyata (Kejadian 1:26). Menjadi wakil-NYA di bumi, seakan-akan wujud nyata DIA terrepresentasi di diri setiap insani.
DIA bukanlah robot. Daku dan dikau itu memantulkan siapa Sang ADA, DIA yang mempunyai kehendak bebas, tidak terpenjara, dan merdeka, serta terlepas dari kaidah-kaidah alam semesta. Tanpa kapasitas genuine free will, mustahillah manusia sebagai gambar-NYA. Adinda bukanlah gambar dan rupa dari a cosmic automaton, bukan pantulan dari sang robot alam semesta.
Puan Tuan bukanlah bak wayang kulit yang seakan-akan tinggal bergerak mengikuti ayunan tangan si dalang. Ataupun pemain sandiwara yang hanya mengikuti lakon yang telah ditulis oleh sang sutradara. Bukan pula makhluk yang kaku, terikat, dan tidak bebas sesuka selera.
Bukan bukan bukan! Adinda penentu jalannya cerita, daku dan dikau yang membuat kisahnya sedih ataupun gembira. Bukankah itu terlihat nyata di trailer Taman Sorga? Sebagaimana DIA bebas dari kaidah-kaidah alam semesta, begitu jugakah daku dan dikau bebas dalam bingkai dimensi alam nyata?
Mungknkah itu maksudnya daku dan dikau tercipta seturut gambar dan rupa-NYA? Sebagai wakil-NYA di alam nyata. Sebagaimana makhluk lain di alam sana, juga sebagai photogopy-NYA di alam maya. Dan ke dua makhluk dari alam yang berbeda bertegor sapa di Taman Sorga.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16,17)
Ingatlah! Perintah kepada Adam Hawa di atas disampaikan sebelum mereka paham apa itu yang baik dan yang jahat. Ini hanya menyangkut percaya kepada apa yang dikatakan-NYA atau ragu-ragu apa begitu adanya.
Kemampuan untuk bimbang bisa jadi menjadi bagian utama mengapa disebut sebagai kehendak bebas. Bandingkan peringatan: ’Semua pohon…boleh dimakan buahnya!’ dengan larangan yang hanya ditujukan kepada satu pohon. Mungkinkah DIA tengah mempertontonkan justru kemungkinan untuk taat secara matematis menjadi jauh lebih besar? Ataukah paling tidak, DIA berharap lebih kecil kemungkinan manusia kesasar?
Kehendak bebas akan terlihat dalam tahap-tahapan proses pengambilan keputusan, decision making process. Algoritma yang menunjukkan bagaimana Adam Hawa sampai kepada suatu sikap di titik paling penghabisan. Dalam setiap tahapan, dalam setiap tikungan ada pilihan bebas ke kiri ke kanan atau tetap dalam barisan.
Kemampuan itu sedemikian rupa, sehingga setiap keputusan menjadi murni timbul dari makhluk yang bersangkutan. Jika taat, hidup berkepanjangan di Taman Sorga. Sebaliknya, tidak dapat mengelak dari konsekuensi ketidaktaatan.
Prinsip itu berlaku di Taman Eden tatkala Adam Hawa belum menyentuh buah pengetahuan. Itupun masih berlaku hingga sekarang, dan bahkan mungkin hingga kedalam keabadian. Apapun yang kelak nanti terjadi padaku di alam kekekalan, itu tentulah gelora ekspresi dari kebebasan!
Bukankah kehendak bebas itulah yang membuat manusia tidak menjadi photocopy sang robot alam semesta? Puan Tuan pun ada kebebasan, bukan bak robot yang hanya tinggal menjalankan yang sudah dipastikan. Sila, percaya yakin DIA ada. Ataukah ragu-ragu DIA nyata? (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
