Sulit dimengerti, bagaimanakah status manusia di Taman Eden dapat dipahami? Begitu berarti, bahkan diperebutkan oleh alam adikodrati. Manusia sebegitu unikkah? Sampai-sampai siapa yang mengganggu Adinda diibaratkan menjamah biji mata Allah (Zakharia 2:8).
Dikau tidak salah lihat! Ayat itu menunjukkan betapa berharga dikau dan daku di hadapan si Pemegang Hayat. Adakah ibarat lain yang menggambarkan nilai itu lebih akurat? Entah bagaimana, tidak tahu mengapa, tak dapat diduga, namun tak segan, jauhlah dari sikap buta, DIA menyamakan diri-NYA dengan Adinda.
Dikau sakit, sekan-akan DIA pun ikut menjerit. Untuk merampas daku dari kuasa dosa, DIA rela terluka. Rasa-rasanya, matahari ada, bulan menjelma, bahkan seantero alam semesta turut gembira menyamput kehadiran sejoli di Taman Sorga (Ayub 38:7).
Apapun kata dunia, siapapun yang bicara, yang pasti keturunan Adam Hawa bak permata di hadapan-NYA. Begitu mulia, DIA idam-idamkan dikau senantiasa. Di ujung dunia mana pun dikau berada, tangan-NYA juga akan menggapaimu hingga di sana (Nehemia 1:9).
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mazmur 8: 4,5)
Bagi hati yang bertanya-tanya, jiwa yang dahaga, dan kalbu yang tidak bisa diam yang senantiasa bergelora, tidak akan puas-puas selamanya. Mengapakah DIA perlakukan daku begitu istimewa? Bukankah daku hanyalah layaknya setitik debu di jagad raya? Apakah DIA tidak tahu betapa bejat dan hinanya daku ini? Mengapakah daku terus dicari-cari?
Bukan kepada makhluk di alam yang tidak kelihatan hati-NYA tertambat. Kepada dikau kasih-NYA terikat dan bukan kepada malaikat-malaikat (Iberani 2:16). Betapa spesialnya dikau, sehingga makhluk yang tidak kelihatan pun ingin tahu rahasia yang disampaikan kepadamu (1 Petrus 1:12).
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:26,27)
Dikau dan daku diciptakan menurut gambar dan rupanya-NYA ( His own image, NIV). Makhluk ini lebih praktis disebut sebagai insan pembawa citra ilahi. Sang ilahi yang tak terlihat menjadi nyata di mana insan tersebut ada.
Ini tentu tidak berkaitan dengan kemampuan emosional maupun intelektual. Setiap keturunan Adam adalah God’s image. Terlepas dari dikau terlahir dengan kapasitas intelektual di atas rata-rata, ataupun Tuhan ijinkan daku dengan berbagai kekurangan yang digolongkan ke kelompok berkebutuhan khusus. Daku dan dikau itu pembawa citra ilahi.
Sebaliknya, robot mirip manusia yang dilengkapi dengan kecanggihan teknologi AI (Artificial Intelligence). Prilakunya lebih sopan, ramah, bahkan berintelejensia lebih dari manusia, itu tetap saja bukan His own image. Boleh saja kemampuannya melebihi anak balita, tetap saja robot bukanlah keturunan Adam Hawa.
Adinda itu rupa Allah (God’s image) sebagai pembawa citra-NYA di muka bumi. Dikau itu pantulan citra-NYA karena diciptakan seturut gambar dan rupa-NYA. Jadi menjadi God’s image merupakan status dan bukan kemampuan.
Begitu berharga Adinda di hadapan-NYA, seakan-akan wibawa dan reputasi-NYA dipercayakan ada di bahu Saudara. Dikau menjadi perwakilan-NYA di dunia. Menjadi insan tidak lain dan tidak bukan untuk memancarkan citra ilahi di manapun dikau ada.
Kerinduan-NYA sejak semula, berada diantara manusia, dan bersama-sama meluaskan Taman Sorga hingga neliputi seluruh benua. Pilihan Hawa (dan Adam) memperlambat perluasan Taman Eden di dunia, namun rencana-NYA tetap sama.
Begitulah pilihan di Taman Sorga, sekarang pun juga tidak berbeda. Puan dan Tuan pun ada pilihan. Ikut mempercepat atau memperlambat perluasan Taman Eden di bumi (2 Petrus 3:12). Di pihak bibit ilahi atau oposisi. Kerinduan-NYA dari sebelum ada matahari, agar aroma sorga terendus di seluruh pelosok negeri. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

