388. Rendezvous Antar Dimensi

Viewed : 343 views

Entah apalah yang ada di hati Sang Pencipta, sehingga DIA memutuskan untuk menciptakan makhluk yang namanya manusia. Setelah sekan-akan berdiskusi panjang lebar, akhirnya ditemukanlah jalan keluar. Bukankah itu yang terkandung samar-samar? Kala DIA berujar: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” (Kejadian 1:26).

Gambar dan rupanya-NYA, God’s image, manusia sebagai insan pembawa citra ilahi di muka bumi. Representasi, layaknya mewakili DIA di planet ini. Kehadiran-NYA dalam alam material diwujudnyatakan oleh kehadiran si suami istri. Itulah maksud dari kodrat insani, yang semula jadi tercipta di muka bumi.

God’s image bukanlah kemampuan ataupun kualitas, namun sebagai status alias identitas. Juga tidak berhubungan dengan ciri ataupun karakteristik tertentu. Sebagai agen Sang Maha Kuasa di dunia, ini menyangkut fungsi maupun peran Adam Hawa untuk menghadirkan rupa-NYA dalam dimensi ruang waktu.

Jika dikau pembawa citra ilahi itu sebagai status dan bukan kualitas, maka tidak penting apakah dikau masih muda, energik, dan fisik sempurna bak bintang filem India, Shahrukh Khan? Atau daku sudah berumur 100 tahun yang sudah loyo hidup terlantar di rumah panti jompo. Ataupun bayi yang gugur belum sempat tersenyum kepada ibunda yang melahirkan.

Status, peran, maupun fungsi Adinda tetaplah sebagai pembawa citra ilahi terlepas dari kualitas maupun kemampuan yang dimiliki. Bisa saja daku cacat bawaan yang tidak dapat hidup mendiri, ataupun dikau cukup smart menemukan algoritma sehingga robot dapat berpikir sendiri. Tetap saja daku dan dikau itu statusnya sama, tidak berbeda, God’s image.

Semua keturunan Adam itu mulia karena menghadirkan citra ilahi di alam semesta. Tidak ada makhluk dari dunia binatang, walau bagaimanapun miripnya dengan manusia atau pun kemampuannya dapat terus berkembang, yang dapat menggatikan status Adinda. Status ini hanya eksklusif diperuntukkan untuk Adinda.

Jadi rileks saja, jika pun suatu saat nanti ada alien dari dunia sana, yang jauh lebih cendikia dari manusia. Tetaplah Adinda sebagai citra ilahi di alam fana. Begitupun, tenang-tenang saja seandainya teknologi Artificial intelligence berkembang pesat tak terkendali. Adinda tetaplah tak tergantikan sebagai God’s image di muka bumi. Karena pembawa citra ilahi itu status bukan kemampuan.

Sebagaimana dengan Taman Sorga, begitulah DIA betah tinggal di dalam diri Adinda (Galatia 2:20). Setiap kali dikau tersenyum kepada mereka yang papa, ringan tangan membantu mereka yang tidak bisa apa-apa, DIA semakin merasa at home dalam diri Adinda (Yohanes 14:23).

Sebaliknya! Jika daku tidak peduli dengan nestapa sesama, pura-pura tidak tahu ada tetangga yang lapar. Atau tidak peduli kiri kanan yang terkapar, anggap semua aman-aman saja. Itu identik dengan dengan mengabaikan DIA, Sang Pencipta.

Then the King will say, ‘I’m telling the solemn truth: Whenever you did one of these things to someone overlooked or ignored, that was me—you did it to me.’ (Matius 25:40, the Message)

Dikau itu laksana pertemuan, rendezvous antar dimensi, dimensi alam ilahi dengan dimensi materi. Adinda itu lokasi pertemuan alam sana dengan alam sini. Status Adinda sebagai pembawa panji ilahi, di manapun dikau berpijak disitulah citra ilahi dihadirkan.

Namun sejarah berkata lain, peradaban bukan lagi dipenuhi pembawa citra ilahi. Sebaliknyalah yang memenuhi bumi. Ini fakta yang harus dihadapi. Mungkinkah situasi ini membuat kehadiran Puan Tuan semakin dinanti-nanti? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments