63. ‘Taman Rendezvous’

Viewed : 654 views

Sahabat! Kita ini karya masterpiece, dari Sang Pencipta. Maha karya dari Sang Maestro. Seakan-akan Allah mencurahkan ‘segala’ kemampuan-NYA untuk mewujudkannya. Tak berlebihan, kalau dikatakan karya masterpiece itu merupakan perwujudan diri Sang Maestro!  Apakah karena itu manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26)? Wow! Sepertinya manusia adalah gambar diri Allah sendiri. Manusia adalah perwujudan yang paling sempurna dari apa yang ada dalam hati Allah!

Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Jumlah kosa katapun tak mampu mengungkapkan fenomena ini. Namun kayaknya aman kalau dikatakan manusia sepertinya ’belahan hati Allah.’  Ada ikatan ‘bathin’ ataupun ‘emosional’ yang demikian kuat dan dalam antara Sang Khalik dengan makhluk ciptaan yang namanya manusia, Adam berikut semua keturunannya.

Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. (Yesaya 64:8)

Sahabat! Kita ini buatan tangan Allah. Tangan-Nya sendiri yang merajut, menenun, dan memahat Saudara dan saya. Setiap cengkokan, guratan, rajutan, maupun ‘dinamika hidup’ ada tujuan dan maksud khusus. Itu unik, special design, dan tiada duanya. Itu hanya khusus diperuntukkan bagi Saudara sendiri.

Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. (Mazmur 143:7)

Ooo, adakah ungkapan lain yang lebih jelas menggambarkan hubungan khusus tersebut? ’Mati rasanya!’ Ini bukanlah ungkapan canda anak remaja ingusan yang lagi demam cinta monyet! ’Turun ke liang kubur’ adalah jeritan hati sang masterpiece kala persekutuan tersebut kehilangan ‘wajah-Nya’! 

Maaf ya! Rasanya kesan hubungan yang begitu dalam ini, jangankan mengalaminya, membayangkan saja sudah tak mampu. Wah, bagaimana ya?

Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! (Mazmur 34:9)

Ups! Panca indra turut dapat mersakan kehadiran TUHAN di taman Eden! ’mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,’ (Kejadian 3:8). Wow! Bukan hanya ‘kecap’ dan ‘lihat’ tapi juga ‘dengar’. Wah, jangan-jangan maksud diciptakan panca indra dari semula adalah untuk dapat melihat, mengecap, mendengar, merasakan, dan mengendus keberadaan TUHAN!  Aaahhh, masak? Jauh panggang dari api dengan kenyataan yang saya alami, moga Saudara tidak begitu! 

Di taman Eden, mata dapat melihat. Lidah dapat mengecap. Dan telinga dapat mendengar kehadiran TUHAN. Di taman Eden, dimensi ruang-waktu berpadu dengan dimensi sorgawi. Di taman Eden, yang kelihatan berpadu satu dengan dunia yang tak kelihatan. Di taman Eden, keabadian bergandengan tangan dengan kefanaan. O…taman Eden, taman Allah, taman rendezvous misteri Allah dan sang masterpiece! Aaahhh, Opa Adam, tolong ceritera kan: ‘ngapain aja Opa kala bertemu Allah?’ Menurut Saudara apa jawaban Opa Adam?

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Lubos Houska from Pixabay

Comments

comments