62. ‘The Missing Fellowship’

Viewed : 664 views

Beberapa waktu yang lalu, ada Sahabat yang bertanya: ‘dimanakah letak Taman Eden itu?’ Lantas, mengapa dan untuk apa Taman itu diciptakan? Apa yang khusus dan uniknya Taman ini kok begitu spesial sampai-sampai disebutkan pada ayat-ayat pertama Alkitab? Ngapain aja opa Adam kala dia seorang diri? Dan banyak lagi pertanyaan yang dapat ditambahkan.

Sadar atau tidak! Kisah hidup Saudara bahkan seluruh umat manusia, yang pernah hidup maupun yang akan datang, terkait dengan apa yang terjadi di dalam Taman Eden. Namun apa hendak dikata. Rasanya tak cukup kata tertulis di halaman Alkitab yang dapat memuaskan semua pertanyaan kita tentang misteri taman ini. So, kalau kata, halaman, dan daya nalar sudah tak memadai, biarlah hati ambil komando! Biarlah hati yang berbicara. Hati sering kali banyak akalnya!

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. (Mazmur 63:2)

Hari agak terik. Sudah beberapa waktu berselang tapi belum selesai juga memberi nama semua binatang! Aaahhh. Tiba-tiba aku sadar betapa aku rindunya untuk menatap rupa dan wajah Allah lagi dan lagi dan lagi! Keindahan burung cendrawasih dengan bulu warna warninya. Aroma bunga melati yang tiada tara. Bahkan rasa dahaga tak dapat menutupi kerinduanku untuk bertemu Dia. Aku agak sulit mengatakannya kepada kalian yang hidup di abad ke 21 ini! Maaf opa Adam, tolonglah ceriterakan pengalaman bersekutu dengan Allah!

Begini! Kehausan dan kerinduan itu bukan hanya jiwa yang di dalam ini. Akan tetapi juga tubuh ini ikut-ikutan merana! Jiwa dan tubuh bersatu padu tak terpisahkan menjerit dan meronta-ronta merindukan Dia. Luar dalam bersatu merindukan kekasih jiwa! Maaf Opa! Agak sulit mengerti ini! Tolonglah diperjelas lagi! Agar kami yang hidup dalam era ibadah kaku dingin dan dangkal ini dapat memahaminya.

Begini, bagaimana ya untuk menjelaskannya? Yes, pernah dengar kisah nabi Musa di gunung Sinai waktu kau masih Sekolah Minggu? Bagaimana Musa muka dengan muka bertemu TUHAN selama 40 hari non-stop tanpa air dan roti!

Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman. (Keluaran :34:28)

Ooo! Selama 40 hari tanpa air dan tanpa nasi apalagi saksang! Kalau jiwa sudah puas dengan rupa TUHAN maka tubuh yang dari tanah ini akan mengikuti. Cukup jelas bukan kesatuan jiwa dan tubuh yang di Mazmur 63 tersebut? Cukup jelas Opa Adam. Opa, apakah itu artinya persekutuan itu luar dalam dan 24 jam sehari 7 hari dalam seminggu? Menurutmu? Kayaknya begitu Opa. Tapi sulit juga ya bagi kami yang sudah terbiasa hanya 1 kali seminggu ‘berjumpa’ Tuhan!  Maaf Opa, tapi rasanya persekutuan seperti itu telah hilang dari kamus kami! Bagaimana dengan di kamu Sahabat? 

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Free-Photos from Pixabay

Comments

comments