65. ‘Habitat Manusia’

Viewed : 1,141 views

Sekedar mengingatkan pembaca! Bahwa sejauh ini kita belum sama sekali mendiskusikan masuknya dosa ke dunia. Kita masih terus memikirkan MAA (Maksud Abadi Allah)  yaitu kerinduan untuk mencari tahu tujuan mengapa Dia menciptakan manusia (lihat Efesus 3:11, baik kalau baca keseluruhan pasal). Maaf agak bahasa pasar: ‘apa gerangan yang ada di hati Allah kala Dia bermaksud menciptakan manusia?’ Mungkinkah kuncinya ada di dalam taman Eden?

Sayang seribu kali sayang! Bagai pungguk merindukan bulan. Apa hendak dikata, usaha kita untuk menggali kehidupan di taman Eden mentok. Mentok bagaimana? Ya, mentoklah karena hanya ada 2 halaman lebih sedikit dari 1340 halaman Alkitab tentang info kehidupan Adam dan Hawa di taman ini. Selebihnya, 1338 halaman, berisi pahit getirnya kehidupan di bawah matahari di luar habitat asli manusia.

Sahabat! Taman Eden taman penuh misteri. Sejak dari awal, Sejak dari semula. Sejak sebelum ada segala sesuatu, sejatinya Allah menciptakan taman Eden sebagai habitat manusia. Manusia cocoknya hidup dalam ekosistem taman Eden. Di dalam lingkungan seperti itulah manusia diperintahkan untuk berkembang biak dan mengusahakannya.

Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28)

Apakah Kejadian 1:28 bermakna bahwa tugas utama manusia sejak semula adalah meluaskan ekosistem taman Eden hingga mencakup seluruh bumi? Caranya? Berkembang biak secara eksponansial (artinya berlipatganda) sehingga bumi penuh dengan lautan manusia! Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Demikian penuhnya, sehingga tak ada pulau, tak ada daerah, tak ada lokasi yang tak ada manusianya. Seumpama air bah pada zaman nabi Nuh menutup seluruh bumi, demikianlah mandat kepada manusia untuk memenuhi bumi. Singkatnya, seluruh bumi menjadi taman Eden! Sehingga rupa dan gambar-Nya hadir di setiap jengkal di seluruh permukaan bumi.

Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut. (Hab 2:14)

Nabi Habakuk terkesima dengan MAA ini kala ia melihat kembali adegan di taman Eden. Sepertinya dia melihat lautan manusia yang menutupi seluruh bumi. Perhatikanlah dengan seksama, bukan taman Eden yang semakin luas. Bukan! Tapi jumlah manusialah yang berlipatkali ganda. Dimana ada manusia disitu hadir taman Eden. Taman Eden diciptakan untuk didiami manusia, bukan sebaliknya.

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. (Kejadian 2:8)

Wah, bagaimanakah kita dapat kembali menikmati wajah Allah seperti di taman Eden? Mungkinkah habitat asli itu dapat dihadirkan kembali di bumi? Ataukah itu hanya sekedar mitos, legenda, atau cerita level kelas Sekolah Minggu?

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Comments

comments