Drama di Taman Eden hanyalah bagian kecil dari keseluruhan cerita Alkitab. Ibarat kumpulan data yang menggambarkan suatu peristiwa, narasi Taman Sorga bak hanya cuplikan, trailer, dari drama kolosal riwayat peradaban manusia.
Mungkinkah Alkitab itu bak mosaik? Setiap peristiwa merupakan penggalan adegan yang bertebaran di sepanjang Alkitab. Semakin banyak kepingan dirangkaikan dengan yang lainnya, semakin jelaslah gambar keseluruhan cerita.
Setiap fragmen merupakan rangkaian dari kepingan yang lainnya. Penggalan cerita ataupun kisah yang misterius, bisa jadi akan terang benderang setelah ditempatkan di antara lempengan lainnya. Setiap adegan akan membentuk episode hingga terbentuklah gambaran keseluruhan.
Namun, aku takut, jangan-jangan, sama seperti ular yang dengan kelicikannya menipu Hawa, begitu pula pikiranmu akan disesatkan dari ketulusan dan kemurnian pengabdian dalam Kristus. (2 Korintus 11:3 AYT)
Aaahhh! Si ular bukanlah salah satu jenis binatang melata dari dunia Fauna. Sementara, lupakan dulu gambar ular berdesis bak di Sekolah Minggu yang tengah menyapa Hawa. Ini jauh dari bayangan percakapan manusia dengan salah satu dari binatang purba.
Ini bukan sembarang binatang, bisa jadi si ular hanya sekadar perlambang. Sebagaimana dia dapat mempengaruhi Hawa, begitu juga hingga sekarang, dikau dan daku dan seluruh umat manusia juga tidak luput dari rayuannya.
Sebagaimana dia dapat berkomunikasi dengan manusia pertama, begitu juga dia gesit mempengaruhi cara berpikir umat manusia sepanjang masa. Tidak berbeda, sekadar cara yang tidak serupa. Tujuannya sama, agar daku dan dikau menentang Sang Pencipta.
Peristiwa di Taman Eden bukanlah akhir dari cerita. Sebaliknya, itu merupakan awal kisah yang meninggalkan duka nan nestapa dalam sejarah manusia. Secuil adegan, dialog tipu muslihat yang mencelakakan, akhirnya mewarnai peradaban.
Naga besar itu — si ular tua yang disebut Setan atau Iblis, yang menyesatkan seluruh dunia — dilemparkan ke bumi bersama-sama dengan segenap bala tentaranya. (Wahyu 12:9)
Setelah seakan-akan adegan puncak keseluruhan cerita akan mencapai klimaksnya, justru di menit-menit akhir barulah dikenalkan siapa tokoh di belakang layar. Pemeran utama yang membuat rencana-NYA bubar, layaknya layu sebelum mekar. Jelaslah, si ular itu, makhluk supranatural yang tidak kelihatan.
Daku dan dikau akan kehilangan bingkai cerita yang begitu esensial, jika rangka adegan tersebut terlepas dari alam supranatural. Apakah ini berarti bahwa di Taman Sorga alam dimensi ruang-waktu dengan supranatural menyatu dalam keharmonisan tiada tara? Dunia kelihatan dan tidak kasat mata melebur dalam satu adegan cerita.
Lalu, mengapa dia dikenalkan alias dilambangkan sebagai sosok seekor ular? Apa uniknya seekor ular? Bagaimana latar belakangnya sehingga dia muncul di Taman Sorga? Mungkinkah kala bagian adegan ini dituliskan, pembaca pada waktu itu dengan segera mengerti maksudnya? Dan pembaca di era modern telah kehilangan maknanya.
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, (Kejadian 3:8)
Jelas, adegan ini terjadi di Taman Sorga. Dan dan dan Sang Pecipta berjalan-jalan di sana! Seakan-akan ingin menunjukkan bawa lokasi taman ini sebagai domisili DIA. Wilayah pemerintahan dan kerajaan-NYA.
Cuplikan adengan di Taman Eden barulah awal dari seri-seri selanjutnya. Ataukah prolog, narasi pengantar, telah di mulai jauh sebelum ada manusia? Mungkinkah dengan meletakkan kepingan potongan-potangan gambar pada tempatnya akan muncul gambar besarnya?
Selama ini daku merasa korban dari trailer Taman Sorga. Dengan mengkaitkan cuplikan adegan pilu itu dengan keseluruhan cerita, insha Allah, hati akan lega. Karena kutahu untuk apa daku hidup di dunia. Bukankah perkara ini menjadi temuan terindah sebagai mahkluk hidup yang namanya manusia? Bahwa DIA mencipta dengan ada maksud dan tujuannya! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
