328. Amanat Agung

Viewed : 965 views

Dari turun ke turunan, dunia dipenuhi dengan pertentangan. Bukan saja perkara politik, kehadiran agama pun menjadikan keadaan semakin sulit. Percampuran rumor politik yang dibungkus dengan isu mistik, membuat situasi dunia semakin pelik.

Ditambah lagi world view dari salah satu agama besar, tatkala penerapan iman diharuskan negara dianggap sebagai jalan yang benar. Ketika ’Amanat Agungnya’ menjadikan semua negara sebagai alat agama. Keseragaman menjadi nilai yang utama, yang berbeda segera akan dicela.

Tidak jauh berbeda dengan semua agama. Apabila jumlah jemaat membesar, maka denominasinyalah dianggap ada di jalan yang benar. Dapat diduga, semua aliran berlomba mencari domba. Masing-masing berpendirian yang lainlah yang diangap sesat, sedangkan agamanya yang satu-satunya yang mendapat berkat.

Jangan terkejut, usah kening berkerut. Perpindahan pemeluk antar agama bak persoalan benang kusut. Di negara yang keanekaragaman sebagai prinsip yang dianut, tidak dapat dihindari lagi akan terjadinya ribut-ribut antar maupun sesama pemeluk.

Dari sudut pandang yang mana pun, meninggalkan agama dianggap tidak lagi mendapat ampun. Identitas agama menjadi sertifikat masuk sorga, mengikuti jalan lain sila ke neraka. Tokoh agama telah menduduki kursi Musa, elite rohaniawan yang menentukan nasib manusia.

Semakin terasa, nasib dunia ada di bawah kuasa agama. Dapatlah disangka, setiap agama bertanding meluaskan pengaruhnya di dunia dengan mencari penganut sebanyak-banyaknya.

Jadi, wajar saja! Jika pemeluk mati-matian membela agamanya. Entah terang-terangan dengan pertaruhkan nyawa ataupun sekadar bantuan dana, agar kerajaan agamanya menguasai dunia. Paling banyak penganut, posisi penting di pemerintah ada di tangan pengikut, akhirnya dunia bertekuk lutut.

Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18:36)

Berbeda dengan Sang Raja, DIA tidak tertarik dengan itu semua. Bahkan Sang Raja, Sang Penguasa alam semesta, di dunia tidak ada yang membela. Diperlakukan semena-mena, diinterogasi hingga larut malam bak penjahat ternama.

Fakta ini membuat Pilatus geleng-geleng kepala. Pakar intelejen sekaliber Pilatus pun sulit mencerna. ’Kerajaan tanpa negara. Penguasa tidak ada hamba. Raja terlepas dari senjata,’ gumannya. Ini sistem kerajaan yang tidak serupa dengan yang dikenal sebelumnya. Dia lepas tangan dari perkara.

Di sepanjang interogasi, terungkap suatu misteri. Rahasia yang bisa jadi, daku dan dikau sulit untuk percaya. Ataukah berharap itu bukanlah fakta? Mengapa? Karena itu berlawanan dengan selera, keinginan hati manusia. Berlawanan dengan arah amanat agung semua agama.

Kerajaan agama berlomba-lomba menguasai dunia, karenanya perpecahan semakin parah antar sesama. Kerajaan-NYA sebaliknya, tanpa wilayah, tanpa identitas agama, bahkan dapat dikatakan tidak beragama. Karenanya, dari latar belakang penganut agama apapun, macam apapun dapat menjadi warganya.

Ini kabar gembira bagi dunia yang dilanda keegoisan manusia. Satu-satunya harapan dunia. Harapan sepanjang masa, impian umat sepanjang era, di dunia layaknya di sorga. Damai sejahtera ada di mana-mana, karena aroma Sang Raja dapat diendus oleh semua.

Kok bisa? Raja, Sang Kepala, daku dan dikau serta semua di dalam DIA, kita suadara bersaudara!

Lintas penganut agama. Mereka yang tidak bergereja, yang tidak percaya. Walau suku berbeda, gender tidak sama, hamba atau merdeka, miskin kaya, ada kesempatan mencium harumnya bunga sorga melalui kehadiran dikau dan daku, warga kerajaan-NYA. Semoga! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments