Seorang Farisi dan Pemungut Cukai

Viewed : 1,424 views

Lukas 18:10-14
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Tuhan Yesus mengisahkan sikap orang Farisi dan pemungut cukai dalam berdoa. Sangat kontras!

Orang Farisi meninggikan diri. Dalam doanya, orang Farisi itu bukannya Tuhan yang dia muliakan, malah bangga diri dan kesombongan yang muncul. Orang Farisi itu memuji dirinya. Dia merasa dirinya baik dan membandingkan dirinya dengan orang yang dia rasa lebih rendah.

Pemungut cukai itu sebaliknya. Dia gemetar dan tidak berani menengadah ke langit. Takut melihat ke atas. Dapat dibayangkan dia ketakutan dan terasa tak berkutik. Sampai dikatakan dia memukul dirinya. Dia memohon belas kasihan Tuhan dan dia ungkapkan bahwa dia sungguh orang berdosa.

Orang Farisi datang kepada Tuhan dengan membenarkan diri…

Tetapi…
Pemungut cukai itu seolah tak berani minta apa-apa. Dia hanyalah datang dengan memandang dirinya tak layak di hadapan Tuhan, dan memohon belas kasihan Tuhan.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa pemungut cukai itu diperhatikan dan dibenarkan Allah.
Ini membesarkan hati!

Sebaliknya, orang Farisi itu ditolak. Tidak digubris. Dalam bahasa anak muda: dicuekin! Tidak dianggap.
Ini menyedihkan!

Kisah tersebut mengajak kita untuk merenungkan dan berpikir; seperti apa gerangan sikap kita membawa diri di hadapan Allah?. Bagaimana kita sering menempatkan diri di hadapan manusia?
Sebagai orang Farisikah?
Sebagai pemungut cukaikah?

Apapun sikap kita di hadapan Tuhan, semua memiliki konsekwensi: ditinggikan atau direndahkan.
Mari memilih yang terbaik dan lakukanlah itu!

Selamat beraktifitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Andrea Don from Pixabay

Comments

comments