Merendahkan Hati di Hadapan Tuhan

Viewed : 1,551 views

Lukas 18:10-14
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Teks ayat-ayat di atas menunjukkan dua pribadi dengan sikap yang berbeda.

Orang Farisi datang dalam pembenaran diri, dan doanya ditolak oleh Allah. Dia dipersalahkan.

Pemungut cukai yang dipandang rendah dari sisi iman, datang untuk dibenarkan, dan doanya diterima oleh Allah. Dia dibenarkan.

Mengakui ketidaklayakan kita di hadapan Allah dan ambil langkah pertobatan, itulah yang berkenan di hadapan-Nya.

Merasa layak dan membenarkan diri di hadapan Allah, dan merasa tidak perlu bertobat, akan ditolak-Nya.

Mari kita memeriksa diri untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan. Jangan merasa diri kita lebih baik dan lebih suci dari orang lain di hadapan Tuhan.

Jangan mencari pembenaran diri, sebab siapakah kita yang membuat kita berani membenarkan diri di hadapan-Nya?

Oleh kasih karunia dan anugerah Allah kita dibenarkan, dan hiduplah sebagai orang yang telah dibenarkan. Lakukanlah apa yang baik dan benar di hadapan Tuhan.

Selamat beraktifitas.

Tuhan memberkati. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by CCXpistiavos from Pixabay

Comments

comments