1 Tawarikh 22:5
Karena pikir Daud: “Salomo, anakku, masih muda dan kurang berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu baiklah aku mengadakan persediaan baginya!” Lalu Daud membuat sangat banyak persediaan sebelum ia mati.
Daud ingin sekali membangun rumah bagi Tuhan, namun Tuhan tidak berkenan akan hal itu, sebab sudah terlalu banyak darah yang tertumpah oleh Daud dalam medan laga perang.
Walau Daud tidak diperkenankan Tuhan, namun niatnya yang besar itu tetap hidup, dan hal itu dia wujudkan dalam bentuk menyediakan bahan-bahannya. Itulah warisan Daud.
1 Tawarikh 22:3-4
Selanjutnya Daud menyediakan sangat banyak besi untuk paku-paku bagi daun pintu gerbang dan bagi tupai-tupai, juga sangat banyak tembaga yang tidak tertimbang beratnya, dan kayu aras yang tidak terbilang banyaknya, sebab orang Sidon dan orang Tirus membawa sangat banyak kayu aras bagi Daud.
Perenungan bagi kita dari tindakan Daud adalah: apa yang kita wariskan bagi generasi yang akan datang setelah kita? Terutama yang berkaitan dengan Kerajaan Allah… rencana Allah atas dunia ini.
Mungkin banyak yang ingin kita lakukan, tetapi kita terbatas dalam banyak hal. Terbatas daya, terbatas dana, terbatas kesempatan, terbatas kekuatan fisik, dan tentu terbatas usia juga.
Tetapi pasti ada yang dapat kita wariskan. Walaupun kecil tidak apa-apa.
Dalam kesinambungan rencana Allah atas dunia ini, mungkin warisan kita berupa harta. Mungkin berupa pemikiran. Mungkin berupa pelipatgandaan murid dan pekerja bagi Kristus. Mungkin memberi motivasi untuk orang agar semangat hidup. Mungkin berupa pengaruh positif dan teladan hidup. Dan sebagainya. Banyak!
Bagian mana kita dapat ikut ambil bagian?
Pasti ada!
Hanya saja kita tidak terpikir untuk itu dan merasa tidak terbeban. Kita terlalu banyak berpikir untuk diri sendiri… habis banyak waktu untuk dunia fana ini.
Semuanya dalam hidup ini akan selesai, ibarat gulung tikar karena pesta telah selesai. Ya… pesta dunia akan selesai menuju panggung kemuliaan bersama Kristus dalam kekekalan.
Yakobus 4:14
sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Hidup ini memang harus kita isi dengan bekerja dan kita haruslah punya cita-cita… harus!
Akan tetapi jangan lupa kepada apa yang bernilai kekal!
Di tengah-tengah tanggung jawab profesi dan pekerjaan kita yang cukup padat dan berat, mari kita bekerja dan memberi warisan yang bernilai kekal!
Puji Tuhan!
Selamat beraktifitas.
Tuhan memberkati dan menolong kita untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kekekalan. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bamdung.
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




