Barangsiapa Merendahkan Diri, Ia Akan Ditinggikan

Viewed : 411 views

Lukas 18:11-14
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Tuhan Yesus membeberkan perbedaan cara orang Farisi dan pemungut cukai dalam berdoa. Orang Farisi datang dalam posisi menganggap dirinya terhormat di hadapan Tuhan.

Dalam doanya, orang Farisi berdoa berseru kepada Tuhan betapa dia baik… merasa lebih layak dari pemungut cukai. Hal itu diungkapkannya dengan ucapan merendahkan dengan berkata, “Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan… …”

Apakah orang Farisi itu berkenan di hadapan Allah?
Diterimakah doanya?
Siapakah dia sehingga dengan berani datang kepada Tuhan dengan mengambil posisi tinggi?

Berbeda dengan sikap pemungut cukai yang digambarkan sebagai pendosa. Dia datang dengan merasa tidak layak. Bahkan tidak berani menengadah ke langit. Dia seakan menemukan diriya tidak ada apa-apanya. Karena itu dia berdoa seolah dia tidak yakin apakah Tuhan akan peduli kepadanya dengan suara terputus-putus dan sayup-sayup nyaris tak terdengar. Dia memohon, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”

Tuhan Yesus berkata bahwa orang Farisi itu tidak dibenarkan. Akan tetapi pemungut cukai yang dianggap pendosa itu dibenarkan dan disambut Tuhan. Alasannya orang Farisi datang dengan meninggikan diri. Di sisi lain pemungut cukai datang dengan merendahkan diri.

Bagaimana sikap kita datang kepada Allah?
Kita merasa berjasa?
Kita merasa layak?

Allah Yang Maha Tahu, Dia melihat jauh ke dalam hati kita yang paling dalam.

Selamat bekerja.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments