Hujan deras malam ini. Suasana mencekam, bulu kuduk terasa berdiri. Badan menggigil tak terkendali. Ruangan ini sempit sekali. Hanya cukup untuk satu orang duduk dan yang lainnya berdiri. Lampu remang-remang dan aku duduk sendiri. Ruangan pengap jauh dari wangi. Perasaan campur aduk antara takut dan segera ingin lari.
Suara langkah sepatu jelas menghampiri. Jantungku berdetak kencang sekali. Seorang ibu muda muncul didampingi perwira polisi. Seharian aku diinterogasi. Aku bingung apa yang mereka maui. Aku terus dipaksa untuk mengakui. Tentu aku berontak dan minta didampingi pengacara untuk membela diri.
Celaka! Aku dituduh sebagai pelaku ‘korban tabrak lari.’ Korban anak SD yang tergilas hingga mati. Aku iba melihat ibu itu menangis di depanku tak henti-henti. Menjerit-jerit namun suara tidak terdengar lagi. Pak perwira memandangku tajam dengan memegang borgol di tangan kiri. Bagaimana dapat mengelak kalau begitu banyak saksi. Semua menuduh aku sebagai pelaku tabrak lari.
Aku ditendang masuk ke belakang jeruji besi. Baru sadar bahwa anak dan ibu itu dari keluarga pejabat tinggi. Jadinya, uang tidak lagi berarti. Jalan damai-damai tidak dikehendaki. Aku menyesali. Mengapa berkendara kurang hati-hati. Aku mengandai-ngandai. Kalau saja tidak jadi pergi. Itu tidak akan terjadi.
Akhirnya! Entah bagaimana. Aku dimasukkan ke sel yang lain lagi. Tak tahunya itu lubang sumur yang dalam menganga. Aku didorong paksa. Aku menjerit meronta-ronta. Sekuat tenaga aku melawan. Mereka ada 4 orang mendorongku dengan kuat ke lobang. Tak kuat aku! Aku terjatuh ke dalam. Masyaallah, lubang yang dihuni ular berbisa. Aku menjerit sejadi-jadinya.
Hingga..?
Aaahhh! Kulihat sekitar. Bagaimana mungkin berada di tempat kasar. Itu bak seperti zaman barbar. Tanganku masih terasa gemetar. Aku merasa kesasar. Baru sadar. Ini hanya bunga tidur. Bak mimpi siang hari disambar halilintar. Sungguh lega rasanya ini tidaklah benar. Ku usap-usap mata. Dan aku tersenyum lebar. Syukurlah, ini bukan nyata. Jangan gusar!
Apakah hidup ini suatu mimpi panjang yang tak henti-henti? Ataukah suatu kenyataan yang riil setiap hari? Kala hidup sesak dan menyakitkan. Kadang berharap ini hanya mimipi. Semua akan berakhir di waktu fajar nanti. Lain kali. Seiring hidup lega dan nyaman. Rasanya ingin terus begini. Dan ada was-was, mungkinkah ini hanyalah mimpi yang akan berakhir lagi.
Maka terbukalah mata mereka berdua mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (dan Kejadian 3: 7)
The Message:
Immediately the two of them did “see what’s really going on”—saw themselves naked! They sewed fig leaves together as makeshift clothes for themselves. (Seketika mereka berdua sadar akan apa yang sebenarnya terjadi—ternyata mereka telanjang! Mereka menjahit daun ara sebagai pakaian darurat untuk diri mereka sendiri.)
Ups! Apa yang terjadi?
Kisah sebelum memakan buah. Ketika mata belum terbuka. Herannya, logika sudah bekerja. Namun, rasa malu belum ada. Mungkinkah Adam dan Hawa tidak sadar akan kenyataan yang ada. Keberadaan mereka yang sesungguhnya. Mereka tidak tahu apa-apa dengan situasi yang ada. Tidak kenal rasa malu, apalagi bangga. Hidup apa adanya. Larut dengan alam sekitarnya. Tak butuh papan apalagi celana.
Hidup dalam dunia saat belum dikenal etika. Masa kosa kata dosa belum ada. Rasa bersalah jauh dari dada. Tak kenal hukuman yang mengancam manusia. Tegor sapa apa adanya. Tak ada niat jahat yang menggoda. Tak dikejar-kejar waktu karena usia. Hidup apa adanya.
Bekerja tapi tak pernah lelah. Sakit penyakit tidak ada. Tabung menabung tidak diperlukan. Alam setiap saat menyediakan apa yang diperlukan. Cukup dan pas sesuai kebutuhan. Tidak kepikir khawatir esok makan apa. Dan puncaknya! Apapun yang dilakukan. Yang dikerjakan. Yang diucapkan. Tidak dibayangi rasa khawatir karena itu akan gagal, apalagi, dipersalahkan.
Dapatkah dikau bayangkan bagaimana rasanya? Hidup saaat malu belum ada. Itulah hidup merdeka! Hidup di taman sorga.
Ini bisa dianggap anugerah. Ataupun akibat dari serakah. Ketika ‘mata terbuka.’ Kesadaran dirilah, ‘self consciousness,’ yang muncul tiba-tiba. Inikah yang menjadikan kita manusia? Yang membedakan dengan hewan melata. Manusia ada etika. Aturan tegor sapa. Sopan santun sebagai mahkluk dengan akhlak mulia.
‘Dalam suatu saat sepanjang 13.8 milyar tahun sejarah alam semesta, sesuatu yang indah terjadi. Pemrosesan informasi ini begitu menjadi sangat cerdas sehingga makhluk hidup menjadi sadar diri!’ (Stephen Hawking, 2018).
Logika berpikir begitu cendikia. Sehingga buah itu dimakan Hawa. Itu jugalah yang menyadarkan kita ini siapa. Lantas, rasa bersalah sudah berdiam di dada.
Selamat datang di dunia. Penguasanya Sang Pendusta. Kesadaran diri. Itu yang meyakinkan bahwa hidup ini bukan ilusi. Hadapi walau terasa pahit sekali. Jangan lari dari kenyataan ini. Selamat menjalani! Ini bukan dunia fantasi. Apalagi hanya mimpi. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by John Hain from Pixabay




