192. ’Simuleh Karaben’

Viewed : 749 views

Apa hendak dikata. Ini sudah terjadi. Fakta di depan mata. Itulah simula jadi. Adam dan Hawa diusir dari taman sorga. Sorga di dunia telah hilang entah ke mana. Oooh nasib. Generasi berikutnya sama saja. Semuanya hidup di dunia. Di dunia untuk hidup harus bekerja.

Dari anak-anak hingga dewasa. Di masa tua juga tidak berbeda. Semua harus bekerja. Maaf, tidak ada yang cuma-cuma. Ini bukan tempat untuk goyang-goyang kaki. Jauh dari hidup hanya sekedar santai-santai. Peluh bercucuran. Kadang air mata ikut juga berjatuhan. Banting tulang hingga senja. Tak henti hingga tutup mata. Itulah hidup di dunia.

semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:18,19)

The Message:

The ground will sprout thorns and weeds, you’ll get your food the hard way, Planting and tilling and harvesting, sweating in the fields from dawn to dusk, Until you return to that ground yourself, dead and buried; you started out as dirt, you’ll end up dirt.”

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Tanah akan menumbuhkan duri dan lalang. Agar kenyang! Dikau harus kerja keras banting tulang. Cabut duri dan lalang. Gemburkan tanah hingga siap ditanam. Berharap kepada alam hingga siap dipanen. Tak ada waktu untuk ongkang-ongkang. Keringat bercucuran. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam. Itulah nasib manusia untuk bisa bertahan. Berapa lama? Hingga dikau tiada! Mati dan dikuburkan. Ingat! Dikau berasal dari debu dan akan kembali ke jerabu. Aaahhh! Itu tak terelakkan.

Senja ini tidak biasa. Langit di ufuk Barat terlihat kemerah-merahan. Matahari bak tersenyum malu-malu di balik tirai. Petani tahu itu tanda selesai. Mereka bergegas membereskan perkakas. Sepanjang hari bekerja keras. Dan segera pulang karena khawatir gelap tiba di rumah.

Ramai kulihat mereka berjalan di tegalan sawah. Rindu segera tiba di rumah. Yang satu memanggil lainnya. Saut-sautan mereka saling tegor sapa. Sangat indah menyaksikan panorama. Kala petani beriring jalan seirama. Semua merindukan segera tiba di rumah.

Lelah! Setelah seharian bekerja. Kerja keras hingga senja. Siapa yang dapat pastikan. Padi akan tumbuh seperti yang diharapkan. Akhirnya semua berharap kepada kemurahan alam.

Letih! Menghadapi ketidakpastian. Kapan akan turun hujan. Setiap pagi hati cemas, berharap akan ada awan.

Capek! Seiring seringnya sirna pengharapan. Musim yang tidak bisa lagi ditentukan. Apalagi dengar kabar menyesakkan.

Kalau sudah demikian. Apakah yang diharapkan? Kecuali istirahat sejenak dari penderitaan.

Aaahhh! Rumah tempat yang diidam-idamkan. Kediaman melepaskan lelah dan kesedihan. Kulihat mereka senyum sambil berjalan. Menuju desa tempat perhentian. Searah seperjalanan. Bercanda dengan handaitolan. Riang gembira menuju rumah tempat perhentian. Lepaskan lelah dari kejenuhan.

Alangkah bahagianya mereka yang tahu jalan pulang. Ke kediaman untuk melepaskan penat. Walau itu sesaat. Bukankah manusia merindukan untuk istirahat? Tempat rehat! Dari jerih payah yang semakin hari semakin berat.

Ups! Gawat! Aku tersesat. Tak tahu jalan pulang!

Sekarang aku harus kemana pulang?
Di mana aku dapat terlentang?
Aku lelah hidup sepanjang hari.
Pikiran kusut tak henti-henti.

( Inspired by lagu Karo klasik ‘Simulih Karaben’ /’Yang Pulang Senja’)

Bukankah kita semua merindukan tempat perhentian. Kediaman untuk melepaskan lelah. Dunia yang penuh penderitaan. Alangkah leganya jika ada tempat melepaskan kepenatan. Rehat dari kehidupan yang rutin membosankan. Bak petani pulang setelah bekerja seharian. Gembira ria melangkah ke desa perhentian.

“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan… “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka… (Wahyu 14:13)

Mana jalan pulang? Tak tahulah. Apakah ada tempat rehat di dunia? Apakah mungkin istirahat? Menikmati hari-hari walaupun hanya sesaat. Kala onak dan lalang di halaman. Jika darah dan daging masih dominan. Masih adakah yang bisa diharapkan? Di dunia yang dikendalikan oleh tipu-tipuan.

Semua lelah bekerja. Ada yang pulang lewat senja. Dan Besok pagi-pagi bergegas kembali bekerja. Ikhtiar mencapai puncak dunia. Hidup bak mengejar fatamorgana. Capek menangkap bayangan. Semakin dekat semakin jauh dia melayang.

Aaahhh! Sungguh rindu pulang. Tempat badan dapat terlentang. Angkat kaki sambil goyang-goyang.

Senja telah menjelang. Tak lama lagi gelap mendatang. Kalau kuat 70 tahun banting tulang. Jika itu merasa kurang. Ya sudah, yang pasti semua akan pulang.

Aaahhh! Aku tak tahu jalan pulang. Jalan kembali ke Taman Eden yang lama telah hilang. Semua seolah memberi peluang. Bisa jadi, itu curang! Sang Simulih Karaben, moga dikau selamat tiba di kampung halaman. Desa perhentian. Rumah tempat peristirahatan. Saudara, hati-hati di jalan. Kiri kanan banyak godaan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Qui Nguyen Khac from Pixabay

Comments

comments