Taman Eden, taman sorga. Di taman itulah bersinggungan dimensi sorga dengan dunia. Sorga ada di dunia. Spiritual dan fisik terjalin menyatu sempurna. Tuhan dan Adam bertegor sapa. Sang Ilahi dan manusia saling tatap muka. Ooo, cinta terjalin mesra. Bahkan langkah kaki-Nya terdengar dan terasa.
Cinta, sejatinya, adalah kebebasan. Mungkinkah itu sebabnya aku dan dikau bukan boneka? Bak patung dingin kaku turut saja apa kata sutradara. Bukan! Sebab cinta tak dapat dipaksakan. Tak bisa diada-adakan. Apalagi direka-rekakan. Karena Dia begitu ‘tergila-gila’ dengan cinta. Amor amor amor yang keluar dari hati yang rela. Itu yang Dia terpesona. Sesungguhnya, Dia mencari kekasih!
Apa daya? Ini sudah fakta. Nyata. Ini bukan masalah kriminal biasa. Apalagi hanya setingkat pencuri buah mangga.
Ini bukan juga sekedar pelanggaran aturan agama. Tidak pula gagal penuhi tuntutan gereja. Lupa baca doa. Perpuluhan tidak setia. Bukan bukan bukan.
Ini fatal! Ini pengkhianatan cinta. Adam selingkuh. Ada orang ‘ketiga’ di taman sorga. Runtuhlah semua romantika. Berantakan kisah cinta. Hilang kasih mesra. Kekasih main mata!
Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. (Hosea 6:7)
Adam diusir dari taman. Nasib universal, wabah semesta menjalar tak henti ke mana-mana. Cinta berubah jadi curiga. Rindu berbalik cemburu. Percaya berganti ragu. Memang sakit sekali, cinta yang dikhianati. Kekasih berubah hati, pedih hingga ulu hati.
Selamat datang di dunia! Dunia curiga, cemburu, dan ragu. Alam tipu menipu. Silakan tentukan ritme tarian. Sila tulis sendiri naskah ceritera. Ambil peran yang dikau inginkan. Semua bebas tentukan pilihan. Begitu dulu di taman. Sekarangpun demikian. Hingga di hari kemudian.
Bermula di pertengahan abad ke 18, bersamaan dengan gempa besar yang melanda kota Lisbon pada tahun 1755. Sejarahwan menyebut itu sebagai era bangkitnya ‘new kind of thinking.’ Era pencerahan, enlightenment, di Eropah yang juga merambat hingga ke Amerika. Rasio, science, sukses menjelaskan fenomena alam. Ini era perkembangan ilmu pengetahuan. Science yang dapat diandalkan dan akhirnya menjadi ‘tuhan.’
Kaum enlightenment anggap Allah itu sekedar legenda alias mitos. Mereka yang percaya adanya Tuhan dianggap kolot, masih primitif. Manusia diagungkan karena tahu segalanya. Manusia telah merasa menemukan jalan pulang.
Fisik bisa tak meyakinkan. Bicarapun suara tak dapat dikeluarkan. Jangankan jalan, dudukpun kepayahan. Dialah Stephen Hawking, ilmuwan, Einstein abad ke 21. Otak cerdas, khayalan tanpa batasan. Dalam akhir hidupnya dia menemukan. Rahasia semesta. ‘Allah tidak ada!’, pekiknya dalam buku terakhirnya tahun 2018.
‘Kita ada kebebasan untuk percaya apa yang kita mau. Pandangan saya untuk penjelasan yang paling sederhana adalah bahwa tidak ada Tuhan.Tak ada pribadi yang menciptakan alam semesta ini. Tak ada siapupun yang mengarahkan takdir kita.’ (Stephen Hawking, Brief Answers to the Big Questions, p.38).
Dan Dia diam. Silakan tentukan tarian. Monggo, tulis ulang peran. Naskah hidup setiap insan!
Tak ada insan yang tak merindukan hidup di taman nirwana. Semua serba ada. Yang sakit tidak ada. Penuh sukacita. Gembira. Sahabat saudara tegur sapa. Akur dan ria selama-lamanya. Dan di atas segalanya? Kekasih hati selalu ada di dada!
Celaka! Taman Eden telah tiada. Itu hilang entah ke mana. Siapa yang tahu jalan ke sana? Jalan pulang.
The Lost Eden.
Dalam Setiap agama. Di berbagai budaya. Semua ciptaan merindukan ‘Seorang Penunjuk’ jalan pulang. Semacam Ratu Adil di budaya Jawa. Seorang yang akan menuntun pulang. Tiba di kampung halaman, taman sorga yang telah hilang. Sejatinya, itu rumahku dan dikau yang dirindukan. Itu ada dalam setiap dada walau tak terucapkan.
Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka… (Roma 1:24)
Dalam versi The Message: So God said, in effect, “If that’s what you want, that’s what you get.” (terjemahan bebas: Lalu Tuhan berkata, oklah, ‘Jika itu maumu, itulah yang dikau dapatkan.’)
Stephen Hawking dan konco-konconya telah memilih ‘mau’nya. Dan dia konsekwen dengan pilihan itu hingga tutup mata.
Gawat!
Aku tak tahu. Apa lebih tepat tak sadar. Ataukah lebih parah EGP ( emangnya gue pikirin)? Bisa jadi aku lebih kepada ikut-ikutan. Ikut kata mereka dari kaum bangsawan. Seringnya, aku tidak tahu apa mau-ku. Kalau Sahabat: ‘ Apa maumu?’ Selamat menulis ulang perjalanan pulang. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |

