Terlalu sulit untuk dimengerti. Tak sampai akal budi untuk dapat memahami. Bagaimana mungkin Dia biarkan itu terjadi? Ibaratnya seperti Dia lepas kendali. Sang Cinta tutup mata dan membiarkan mau-mu sendiri. Seolah-olah Dia sembunyi. Seperti tak peduli apapun yang akan terjadi.
Itu terjadi di taman sorga lagi! Kala belum ada iri. Apalagi dengki. Telah terjadi sakit hati. Cinta yang dikhianati rasanya sakit sekali. Kekasih mendua hati. Aku dan dikau ingkar janji.
Dia dikadali. Dia dikangkangi. Dan Dia menahan diri. Dia diam! Dulu begitu. Kinipun seperti itu.
Walau Sang Ilahi sakit hati. Meski sepanjang zaman Dia akan salah dimengerti. Kendati akhirnya Dia harus mati. Akan tetapi, Dia mempersilakan dikau tulis sendiri. Naskah hidup sesuai dengan selera hati. Itu inti cinta sejati. Bisa jadi, nanti ‘disana’ dikau akan mengerti. Arti cinta dari hati.
Pengkhiatan di Taman Eden merubah dunia selama-lamanya. Dunia tak akan pernah sama lagi. Meluluhlantakan berkeping-keping relasi sesama dan dengan Sang Kekasih, Sang Cita.
Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. (Roma 1:23)
Versi The Message: They traded the glory of God who holds the whole world in his hands for cheap figurines you can buy at any roadside stand. (Terjemahan bebas: Mereka menukarkan kemuliaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan cendramata kodian murahan yang dapat dibeli di emperan jalan.)
Sang Cinta di hati telah diganti. Dia digeser. Dia ditukar. Si ‘aku’ ambil kendali. Dan kosonglah hati! Lantas, si ‘aku’ mencoba mencari pengganti untuk mengisi hati. Mungkinkah itu akan terisi?
Ritme tarian telah dipilih Adam. Ritme yang menyebabkan kita saling salah paham. Tarian kehidupan yang telah membuat jurang dengan Dia begitu dalam.
Sebelumnya?
Kala atmosfir romatisme ilahi arum semerbak di Taman sorga, Adam intem dengan Hawa. Bak pinang dibelah dua. Yang satu sakit yang lain duka. Senang yang satu, semuanya suka. Satu rasa. Satu jiwa. Tak ada sakwasangka. Jauh dari curiga. Apalagi bersandiwara. Dunia terasa milik mereka berdua. Begitulah sejoli mesra di Taman Sorga.
Mereka pegangan tangan jalan-jalan sambil tegor sapa dengan Dia (Kejadian 3:8). Ooo, betapa mesranya. Sesama dan dengan Sang Cinta, harmonis seia sekata. Allah bicara, mereka dengar. Bak domba yang kenal baik dengan suara sang gembala (Yohanes 10:4). Tak perlu mengikuti ritual agama untuk dengar suara-Nya. Tak perlu tunduk kepala. Tak guna tutup mata. Apalagi harus melalui pak pendeta. Tak ada perantara. Tak ada rahasia. Semua terbuka. Telanjang dan mereka tak kehilangan muka. Itu relasi mereka dengan Sang Cinta di Taman Sorga.
Mereka mengenal Sang Cinta. Tak perlu menebak-nebak: ‘ini siapa ya?’ Nama mereka ada selalu di hati-Nya. Dijaganya mereka bagaikan biji mata-Nya (Zakharia 2:8). Ibarat gembala tahu domba harus digiring kemana. Padang rumput hijau. Air bening nan jernih. Disitulah mereka bercengkrama dengan kekasih hati, Sang Gembala Agung.
Sekarang?
Taman Sorga telah hilang, entah ke mana. Bekasnyapun tidak ada. Apalagi puing-puingnya. Eden tinggal kenangan. Itu hanya sebatas angan-angan. Romantismepun sirna seturut pudarnya kemesraan. Relasi antar sesama berantakan. Keintimen dengan Sang Kuasa tak karuan. Itu semua tinggal impian, khayalan.
‘The Lost Romance’
akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (Yohanes 16:2)
Romantika berubah jadi malapetaka. Bahkan dalam berusaha mengasihi-Nya harus mengorbankan sesama. Tak heran jika agamapun dapat menelam umatnya. Jalan luruspun bisa jadi ujungnya maut (Amsal 14:12). Mujizat spekatkulerpun belum tentu sumbernya benar (Matius 7:21-23). Pujian dan penyembahan yang megahpun bisa tidak keluar dari hati. Dan itu menyakitkan-Nya (Mat 15:8,9).
Kita telah kehilangan cinta. Cinta sejati sudah lama punah dari hati. Yang tinggal saling curiga. Securiga bertanya: adakah udang di balik batu? Kemana larinya saling percaya? Ragu. Jangan-jangan hatinya mendua. Cemburu. Cemburu buta. Maunya keinginan sendiri yang utama. Yang lainnya nomor dua.
’Setengah dari cinta adalah percaya, selebihnya curiga.
Setengah dari rindu adalah ragu, selebihnya cemburu.’ (CM)
Namun, apa daya. Aku tak kuasa. Hati yang rindu ingin kembali. Kembali ke romantika abadi. The Lost Romance, dimanakah dikau kini? Kangen nian hati ini. Tegor sapa dengan Sang Ilahi bak di Taman Sorga yang telah lama pergi.
Apakah itu juga dikau ingini? Kapankah itu akan terujud kembali? Hidup seperti dulu lagi. Masa sebelum dikenal iri dan dengki. Mencintai Sang Ilahi tak henti-henti hingga abadi. Bisa jadi, hidup kini adalah kisah perjalanan transisi. Perjalanan pulang ke Taman Ilahi. Selamat! Ttdj! (hati-hati di jalan) Semoga sampai di tujuan! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |



