187. ’Seeing the Unseen!’

Viewed : 764 views

Bermula ketika Adam dan Hawa tercipta. Berdua hidup di Taman Eden bak sorga. Mereka hidup di dunia tapi bak nirwana. Tak ada siapa-siapa. Hanya dua insan di seluruh alam semesta. Sejoli saling jatuh cinta. Hidup mesra. Setiap tegor sapa. Saban kedipan mata. Senyuman. Semuanya adalah ungkapan. Hati yang membara dengan cinta.

Hari demi hari berlalu. Ikatan dua hati semakin menggebu-gebu. Dua tapi satu. Cintalah yang hanya mampu membuat begitu. Yang berbeda. Yang tidak sama. Semuanya menjadi setara. Sedemikian sama, sehingga dapat berkata. Engkau adalah aku. Aku adalah engkau!

…keduanya menjadi satu… (Kejadian 2:24)

Kalau sudah begitu. Lambayan daun tertiup angin. Burung bersiul saut-sautan. Suara gemercik aliran sungai. Semua terasa turut sukacita. Bahkan sinar mentari pagi pun ikut terasa menari ria. Seanteronya bahagia. Sekalian ceria. Turut merayakan cinta!

Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kejadian 2:25)

Mereka telanjang tapi tidak merasa apa-apa. Semua terbuka. Transparan. Putih. Bersih. Tak ada yang ditutup-tutupi. Apalagi disembunyikan. Tak ada aib diantara mereka. Jauh dari noda. Apalagi cela. Berkata apa adanya. ‘Luar’ dan ‘dalam’ sama. Betapa indahnya. Alangkah bahagia dan senangnya. Jika dalam hidup, satunya kata dan tindakan. Tak ada syak wasangka. Jauh dari curiga. Apalagi tanda tanya seraya menduga-duga.

Namun! Siapa sangka. Bagaimana bisa percaya. Bukankah mereka hidup sempurna? Langit menjadi atap. Bulan bintang menjadi lampu nan gemerlap. Selangkah semua kebutuhan didapat. Tak perlu berkeringat. Matahari siang tak menyengat. Hidup senantiasa sehat-sehat. Tak kurang apa-apa. Semua kebutuhan ada. Cukup dan bahagia. Relasi bebas hambatan lagi dengan Sang Pencipta! Lengkaplah hidup di Taman Sorga. Faktanya?

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. (Kejadian 3:6)

Ups! Mereka tertipu oleh rangkaian kata. Kalimat taktis yang menggoda. Bujuk rayu dibungkus logika. Terpengaruh dengan apa yang dilihat mata. Tertawan karena rasa. Terjebak karena logika. Dan dan dan. Lupa kepada kekasih yang setia. Yang meyaksikan semua. Sebagaimana Adam dan Hawa. Begitu juga. Semuanya sama saja. Daku dan dikau berselingkuh di depan mata. Mata-Nya yang berkaca-kaca! Tidakkah dikau dapat rasa? Hati-Nya terluka.

Aaahhh! Celaka! Rasa enak belum tentu sehat. Itu bisa menuntun ke jalan sesat. Yang kelihatan sedap. Hati-hati itu perangkap. Bisa jadi kecanduan hingga bisa kalap. Apa yang dilihat dapat berbahaya. Jangan percaya apa di depan mata. Walau buka mata lebar-lebar. Belum tentu bisa terhindar. Terkelabui dengan apa yang didengar. Yang didengar belum tentu benar. Akhirnya hati yang diincar! Dan dan dan. Ooo nasib. Yang menarik hati. Itu justru membawa mati!

Aku, manusia celaka! (Roma 7:24)

Aaahhh! Celaka! Daku dan dikau terperangkap mata. Terjebak panca indra. Hidup berdasarkan apa yang dilihat. Tahun-tahun hidup habis mengejar apa yang tampak. Rela habiskan harta. Sikut kiri sikut kanan bahkan tendang kolega. Kadang tak sadar korbankan keluarga. Bahkan hingga jiwa raga. Memburu yang dapat memuaskan mata. Memenuhi keinginan selera. Rasa dan dahaga. Tak tahunya itu semua bayangan fatamorgana. Aku manusia celaka!

Gawat! Daku tak dapat lepas lagi dari apa yang terlihat. Arah hidup semua mengejar apa yang tampak. Itulah cita-cita luhur setiap umat. Menggapai yang terlihat. Ini darurat! Ini berat. Walau sekarat. Sejatinya, setiap insan masih dapat. Memutuskan untuk keluar dari perangkap!

So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen, since what is seen is temporary, but what is unseen is eternal. (2 Korintus 4:18, NIV)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Kami putuskan untuk tidak melihat yang terlihat. Kami bertekad untuk melihat yang tak terlihat. Karena yang terlihat akan berlalu. Yang tak terlihat akan tetap tak lekang karena waktu.

Selamat datang di dunia tipu menipu. Jalan lika liku. Yang dilihat menipu. Semua telah terkecoh. Tak ada lagi yang berpendirian kokoh. Cerdaspun menjadi bodoh. Karena palsupun kelihatan bermutu. Yang semu diburu. Diuber yang berlalu. Dan dan dan. Daku dan dikau mengimpikan yang akan berlalu. Itu bak memburu jerabu. Sia-sialah hidupku!

Aaahhh! Celaka! Daku memburu apa yang semu. Berjuang habis-habisan menggapai yang akan berlalu. Aku hidup untuk yang palsu. Aku tertipu. Dari dulu juga semua seperti itu. Semoga dikau tidak begitu. Mengejar yang tetap hingga di seberang waktu. Dapat melihat yang tak terlihat. Karena di seberang cakrawala. Di balik angkasa. Di situ menanti Sang Cinta. Walau hidup bertubi dengan nestapa. Moga hati mu tetap tertarik kepada-Nya. Dia yang tak kasat mata! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Free-Photos from Pixabay

Comments

comments