170. ’A Double Risk’

Viewed : 627 views

Selamanya ini mungkin akan tetap menjadi misteri. Mengapa Allah diam dengan peristiwa di Taman Ilahi? Rayuan maut, yang dengar kisahnya saja membuat nyeri hulu hati. Mengapa Hawa menjulurkan tangan dan tidak dihalangi? Bahkan Dia seolah tutup mata ketika Adam tentukan pilihan sendiri. Bukankah itu namanya Dia membiarkan manusia menyiksa diri?

Aaahhh, mengapa Dia biarkan manusia celaka? Bukankah dengan begitu Dia restui laknat datang ke dalam dunia? Akhirnya semua keturunan Adam menanggung beban yang tak setara! Dunia menjadi neraka! Selamanya.

Akibatnya, semua menangis. Canda tawa berubah jadi senyum sinis. Penyakit merajalela secara sporadis. Virus dan sejenis berkembang liar menyerang tubuh secara masif dan sistematis. Serangan membabi buta ini membuat kelabakan dunia medis. Sejujurnya, dari hati yang teriris-iris. Rasanya manusia hanya sekedar hidup, dan akhirnya mati pelan-pelan secara sadis! ini situasi yang amat miris!

Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku! (Ayub 10:18)

Bukankah kita semua turut dapat merasakan jeritan nurani Ayub? Siapakah yang tidak gugup? Jika bencana antri menghampiri hidup. Beban begitu berat, seolah itupun belum cukup. Ayub, yang hidupnya begitu salehpun, nyaris tidak sanggup. Pengalaman Ayub juga pengalam daku dan dikau hingga kelak mata tutup!   

Jika orang memperoleh seratus anak dan hidup lama sampai mencapai umur panjang, tetapi ia tidak puas dengan kesenangan, bahkan tidak mendapat penguburan, kataku, anak gugur lebih baik dari pada orang ini. Sebab anak gugur itu datang dalam kesia-siaan dan pergi dalam kegelapan, dan namanya ditutupi kegelapan. (Pengkhotbah 6:3,4)

The Message: Say a couple have scores of children and live a long, long life but never enjoy themselves —even though they end up with a big funeral! I’d say that a stillborn baby gets the better deal. It gets its start in a mist and ends up in the dark—unnamed. (Terjemahan bebas: Katakanlah suami istri memiliki banyak anak dan menjalani hidup yang sangat panjang tetapi tidak pernah menikmati hidup— meskipun acara pemakanam mereka lengkap 7 hari 7 malam karena sudah cawir metua menurut adat Karo! Saya akan mengatakan bahwa bayi yang lahir mati jauh lebih bahagia! Ia memulai dalam ketiadaan dan berakhir dalam kegelapan— tanpa nama, tanpa penderitaan.)

Ups! Apakah itu maksudnya janin yang gagal lahir, miscarriage, lebih bahagia daripada bayi yang lahir sehat? Bayi yang lahir dengan segudang bakat. Bayi yang kelak menjadi orang hebat. Di sekolah hingga di dunia politik selalu menang debat. Akhirnya menjadi tokoh dan idola masyarakat. Sempurna, berjaya pula di hal-hal dunia dan akhirat. Wah wah wah, semua didapat!

Wajar saja, karena itu adat. Saudara dan tetangga mengucapkan: ‘Selamat selamat!’ Sudah lahir bayi harapan rakyat. Aaahhh, jika bayi lahir tak selamat lebih bahagia dari bayi sehat! Apakah itu semua hanyalah tipu muslihat? Bak harapan hampa yang menjerat.

Kenyataannya, kita semua lahir di waktu yang tidak tepat! Dan diperburuk karena hidup salah tempat! Kita sesungguhnya telah sesat! Sebab Adam telah memilih hidup di tanah yang dilaknat. Sayang, kita telah tinggalkan Taman Sorga yang penuh berkat. Apa boleh buat! Tak ada pilihan lain, harus dijalani, walau berat. Syukurnya, itu hanya sesaat! Secepat matahari tenggelam di ufuk Barat.

We are made for God (St. Augustine, Kita tercipta semata-mata hanya untuk Dia).

O begitu ya! Allah seakan ambil resiko ketika daku dan dikau tercipta. Keharmonisan The Divine Great Dance rela ‘diganggu’ supaya dirimu ada. Seolah Dia rela keluar dari kenyamanan communion Tritunggal Yang Maha Kudus yang begitu mesra. Puncaknya Dia rela dihina. Diludahi hingga menderita. Tewas mengenaskan di bukit Golgota. Bukankah itu semua demi mendapatkan cintaku dan hati Adinda?

Cinta memang misterius!

Daku yang berkhianat, Dia-pun membiarkan diri-Nya ikut kena laknat. Dikau yang berbuat, Dia-pun bersedia ikut terlibat. Adinda yang bermain-main pisau, Dia pula yang tersayat-sayat. Sahabat yang terjatuh, Dia juga alami luka berat. Kita yang sesat, Dia bak Gembala tak lelah-lelah mencari hingga dapat. 

Iya, ya! Apa susahnya bagi Sang Maha, menciptakan yang baru? Melenyapkan yang membuat Dia susah selalu. Akan tetapi, Dia tidak memilih itu. Dia ambil sikap untuk tetap mencintai daku! What a love!  

Mungkinkah dari semula? Begitukah sejak awal ceritera? Apakah sebelum ada apa-apa? Dia membiarkan sukacita-Nya dalam communion Tritunggal terancam bahaya. Dia rela tertimpa becana. 

Bak Simson tulang besi otot baja. Karena hati tertembus panah asmara. Layu lunglai, tak berdaya. Rela tutup mata lemas di pangkuan Delila si cantik jelita (Hakim-Hakim 16:4,16,19).  Agar daku, yes agar dikau, dapat ambil bagian dalam kegirangan abadi tak terkira. Sukacita dalam Tarian Agung Ilahi yang Maha Mulia.

Jika begitu adanya. Kalau memang itu tujuan sejak semula. Manusia tidak akan menemukan jati diri yang sejati sebelum kembali merangkul cinta-Nya. Hidupku dan dikau akan sia-sia, sebelum bertemu dengan kasih-Nya. Tak ada tujuan. Tak ada kegirangan. Jauh dari kesukaan. Hidup hanyalah siksaan. Hingga kembali ke pangkuan. Pelukan Sang Bapa bak kisah ‘Anak Jahanam’ (Lukas 15:11-24).

Apakah itu berarti? Mungkinkah begitu juga terjadi? Allah juga merasakan hal yang sama. Hati-Nya gundah gulana hingga dikau dan daku kembali di jalan menuju rumah Bapa.

Ups! Man is God’s risk. A double risk! Bukan hanya manusia alami nasib tragis. Allah-pun turut menangis!

Aaahhh! Tak tahu dirilah aku! Betapa kerdilnya cintaku. Begitu sering masih bertanya ini dan itu. Apalagi kalau penderitaan menerpa tak kenal waktu. Tak tahunya, Dia-pun turut pilu. Aaahhh! Aku tak pantas lagi bertanya mengapa ini itu menimpaku. Ingat salib, itu sudah cukup bagiku (Roma 8:32). Moga dikau juga begitu. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by PublicDomainPictures from Pixabay

Comments

comments