158.’Penggoda Cinta’

Viewed : 969 views

Sejatinya, cinta itu adalah pilihan. Cinta tumbuh mekar dalam kebebasan. Dia tak dapat dipaksakan. Cinta sering datang di luar kebiasaan. Sejujurnya, cinta itu kepercayaan. Setia walau kekasih tak kelihatan.

Apa boleh buat. Pilihan telah bulat. Adam terperangkap dalam rayuan. Ia terjebak godaan. Ikuti bujukan. Cinta dikhianati. Tak setia kepada janji. Akibatnya tidak hanya kepada dia seorang diri. Itu merambat ke keturunan berikutnya bahkan hingga dewasa ini. Bukankah nyata? Jika, ada pasangan yang tak setia, anak-anak turut menjadi korbannya?

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1)

Jika saja dikau ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Menyaksikan apa yang terjadi. Bak reporter invistegatif berita online ternama. Siaran langsung, dalam hitungan detik, berita tersebar entah ke mana-mana. Ketika dikau mulai menyelidiki. Boleh jadi, dikau akan geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin, ular berbicara? Berkomunikasi dengan Hawa. Jauh lebih logis kalo itu burung beo atau kakaktua?

Mungkinkah ular binatang paling cerdik sedunia? Menurut embah Google, simpanse-lah binatang terpandai di dunia fauna. Dan dapat bertingkah laku bak manusia! Namun, mengapa ular? Mengapa Hawa harus diperhadapkan dengan binatang yang paling top kepintarannya? Ada ada di balik ular?

si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. (Wahyu 20:2)

Ooo, begitu! Ternyata di balik si ular itu adalah representasi dari pribadi Iblis! Bagaimana bisa si ular ada di Taman Sorga? Mungkinkah itu terjadi dalam buku riwayat hidup di halaman-halaman awal? Sehingga tak dapat dicerna akal?

Oklah! Adam di mana? Mengapa Hawa yang kena?

Ups! Dikau sadar. Sebagai reporter ternyata TKP di Taman Sorga. Taman di mana dimensi kasat mata dan tak kelihatan bertegor sapa. Suasana Sorga dan dunia terjalin sempurna. Itulah Taman Sorga. Tak heran, jika langkah Tuhan-pun ketika jalan-jalan terdengar nyata (Kejadian 3:8). Sepertinya, itu beda dengan dunia nyata. Begitukah?

Celaka!

Si ular paham perintah dari Sang Kuasa. Itukah sebabnya dia pakar menyusun ulang kata-kata? Dalam bahasa yang menantang manusia sepanjang masa: ‘Ragu cinta tulus Sang Kuasa.’ Rayuan maut dari sejak dulu kala. Niat busuk dibungkus godaan mata. Bisikan jahat manis di telinga! Janjikan kebebasan, ujungnya jadi budak semata. Kesenangan akhirnya derita nestapa. Bak rasa madu ternyata bisa ular cobra. Tepat nian si ular disebut si Penggoda (1 Tesalonika 3:5)!

Ucapan apa saja yang dilontarkan si Penggoda? Berapa lama rayuan maut itu ditawarkan? Sekali? Berulang kali? Sampai-sampai Hawa hilang percaya kepada cinta Sang Pencipta. Ragu ketulusan hati-Nya. Merasa dikibuli Sang Kuasa. Setelah ditimbang-timbang. Hati serasa terbang. Tak ada ragu ataupun bimbang. Puncaknya, Hawa ambil keputusan.

Ups! Jangan tergesa-gesa menghakimi Hawa. Bukankah berita bohongpun jika berulang-ulang disampaikan dapat menjadi keyakinan? Tidakkah itu hoaks kekinian yang dikau dapat rasakan? Setali tiga uang, aku dikau juga dapat jadi korban?

Dan Dia Diam! Sila tentukan tarian. Ritme hidup keturunan Adam.

Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta… isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN… Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, (1 Raja Raja 11:2,3,4)

Pelan tapi pasti. Rayuan tiada henti. Selangkah demi selangkah. Hingga hati tak terkendali. Hati terpaut dengan cinta. Sekaliber Salomo yang ‘berjumpa’ Tuhan berulang kali. Cintanya yang luar biasa kepada Sang Ilahi. Akhirnya, di masa tuanyapun ‘angkat kaki!’

Wah! Di Taman Eden saja tidak aman dari si Penggoda! Di situ manusia pertama tak berdaya. Apalagi di luarnya. Di Taman Sorga begitu. Dan kinipun seperti itu. Tak ada yang imun dari rayuannya. Tak ada yang terlewat dari bujukannya. Hanya satu kata: ‘Berjaga-jagalah!’

Wah gawat! Jangan-jangan aku dan dikau telah tergoda. Rayuan jeruk manis ternyata asam cuka. Bisa saja, hoaks itu telah berubah rupa. Ular jadi agama. Menjalar mrnjadi keyakinan ritual sesuai selera. Akibatnya? Sesama tak tegor sapa karena beda agama. Apalagi pilihan pilpres tak sama.

Ooo, apakah itu sebabnya cinta kepada-Nya terasa hambar? Tak ada ‘gregetnya.’ Bahkan telah kehilangan romantikanya. Tak lagi rindu menyapa-Nya. Jauh dari mesra dalam berbicara. Berkata datar sekedarnya. Kata-kata keluar dingin kaku bak ritual belaka. Tanpa nada. Hilang rasa. Tawar semata-mata.

Di tampilan itu tersembunyi. Tapi jelas dirasa di hati. Tak perlu diajari. Rasanya semua mengakui. Cinta-Nya telah dilukai!

Hati termakan hoaks si Penggoda. Aku manusia celaka! Itukah sebabnya cinta-Nya tak lagi terasa? Jauh dari nyata. Akhirnya? Ya, ragu kepada cinta Sang Kuasa. Mari waspada. Agar terhindar dari jebakan. Hati-hati di jalan! Di setiap tikungan, menanti godaan. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by OpenClipart-Vectors on Pixabay

Comments

comments