Dapatlah disimpulkan bahwa makhluk surgawi yang pertama memberontak disebabkan karena tak tahu diri, siapa dia di hadapan Sang Ilahi. Kehendak terbang tinggi mengatasi bintang-bintang bahkan hingga berambisi menyamakan diri dengan Sang Maha Tinggi. Seakan-akan pelampiasan ambisi tak terkendali itu tercermin dari kebenciannya tak terkira terhadap kehadiran umat manusia di muka bumi. Nafsu tersembunyi di dalam…
Tag: taman eden
393. Eternal Absence
Siapa sangka, adegan sederhana di Taman Sorga menyebabkan alam kematian, realm of dead, menjelma. Bukan hanya di alam fana, di dunia sana pun terkena imbasnya! Pengalaman kematian kini menjadi pengalaman sehari-hari manusia. Begitu pun itu akan kelak di alami si ular yang piawai berdusta (Mazmur 82:7, Yehezkiel 28:8). Betapa dahsyat akibat ketidaktaatan! Sekali salah langkah,…
207. ’A Long Road’
Sang Cinta seakan berdiri sambil memandang tertegun. Pandangan ke depan polos Dia serasa melamun. Bukankah sejak semula semuanya rukun-rukun? Setiap ekspresi cinta dirangkai dalam tutur kata sopan nan santun. Bukankah masih terngiang-ngiang ucapan janji setia? Tekad untuk senantiasa menyenangkan hati Sang Cinta. Cinta bertabur tegor sapa nan mesra. Setiap kerlingan mata menggoda. Kata-kata bak puisi…
187. ’Seeing the Unseen!’
Bermula ketika Adam dan Hawa tercipta. Berdua hidup di Taman Eden bak sorga. Mereka hidup di dunia tapi bak nirwana. Tak ada siapa-siapa. Hanya dua insan di seluruh alam semesta. Sejoli saling jatuh cinta. Hidup mesra. Setiap tegor sapa. Saban kedipan mata. Senyuman. Semuanya adalah ungkapan. Hati yang membara dengan cinta. Hari demi hari berlalu….
186. ’Dunia Lika Liku’
Siapakah yang masih percaya? Adakah kisah ini masuk logika? Jika dikata. Lihat fakta. Narasi dari dahulu kala. Bahwa di masa-masa belum ada dosa. Saat hanya tahu jujur bicara. Bicara apa adanya. Polos tak mengada-ada. Semua indah tak terkira. Itulah hidup mula-mula. Di Eden Adam dan Hawa. Berdua hidup mesra. ULAR adalah binatang yang paling cerdik…
184. ’The Greatest Tragedy’
Dari Taman Eden daku dan dikau telah ditendang. Entah bagaimana. Ini fakta. Eden telah hilang. Pahit. Penyakit merajalela. Nestapa di mana-mana. Itulah dunia sekarang. Nasib mujur dan sial, sama saja. Kaya miskin juga tidak berbeda. Cepat atau lambat, semua akan pergi ke ujung ‘sana.’ Pergi ke antah berantah di balik cakrawala. Di luar Eden, daku…