186. ’Dunia Lika Liku’

Viewed : 1,366 views

Siapakah yang masih percaya? Adakah kisah ini masuk logika? Jika dikata. Lihat fakta. Narasi dari dahulu kala. Bahwa di masa-masa belum ada dosa. Saat hanya tahu jujur bicara. Bicara apa adanya. Polos tak mengada-ada. Semua indah tak terkira. Itulah hidup mula-mula. Di Eden Adam dan Hawa. Berdua hidup mesra.

ULAR adalah binatang yang paling cerdik di antara semua makhluk di darat yang dijadikan TUHAN Allah. Maka datanglah ular itu kepada perempuan itu dan berkata, ” Benarkah Allah melarang engkau memakan buah-buahan di taman ini? Tidak satu pun boleh kaumakan?” “Bukan begitu,” sahut perempuan itu, “kami boleh memakannya. Hanya buah dari pohon yang di tengah-tengah taman ini yang tidak boleh kami makan. Allah telah berfirman, ‘ Kamu akan mati kalau kamu memakannya ataupun menjamahnya.’” (Kejadian 1-3, versi FAYH)

Ups! Ada pribadi ke tiga. Tokoh yang piawai merangkai kata. Cerdas dalam berbahasa. Tutur kata tiada tercela. Kalimat berurut tertata. Menggoda dengan bersilat kata. Kalimat manis yang membuat nalar tak berdaya. Siapa sangka. Walau tak rela. Melihat mereka pasrah begitu saja. Dan akhirnya! Terbujuk oleh rayuan kata-kata.Terperangkap dalam lobang dalam tercela.

“Itu tidak benar!” desis ular itu. “Engkau tidak akan mati! (ayat 4)

Aaahhh! Sila saja kalau itu dianggap hanya khayalan belaka. Dongeng zaman baheula. Bak legenda danau Toba. Mitos. Cerita bagi yang tidak menggunakan logika. Sila itu anggap apa saja. Sejatinya, Adam dan Hawa sudah termakan dusta. Mentah-mentah tertipu. Oleh bujuk rayu. Dahulu begitu. Sekarangpun seperti itu.

Sudah pasti dikau tak usah ragu. Manusia pertama telah termakan bujuk rayu. Adam Hawa tertipu. Lebih percaya kata-kata palsu. Akibatnya Dunia dirasuki tipu menipu. Generasi selanjutnya adalah turunan si penipu. Semua manusia telah tertipu. Tidak terkecuali. Dikau dan dakupun sudah tertipu. Muslihat menjadi strategi jitu. Tidak ada yang murni semuanya palsu. Semu yang diburu.

Selamat datang di dunia lika liku! Dunia tipu menipu.

Perempuan itu melihat betapa enak dan segar kelihatannya buah itu! Lagipula buah itu akan menjadikan dia sangat bijaksana. Maka ia pun tertarik, lalu memetik buah itu dan memakannya sebagian; sedangkan yang sebagian lagi diberikannya kepada suaminya. Suaminya juga memakannya. (ayat 6)

Ups! ‘Seeing is believing’ (melihat maka percaya). Pedoman yang dianut sejak dulu kala. Hati-hati. Siapa tahu. Di belakangnya ada bencana. Wah wah wah! Itu ternyata ‘seeing is deceiving!’ (melihat jadi terpedaya). Dikau tengah dikadali. Jangan percaya pada mata. Apa yang terlihat belum tentu nyata. Mata membawa malapetaka. Semuanya jadi sia-sia. Bak usaha mengejar asap yang melayang ke angkasa.

Betapa enak dan segar! Bukankah itu yang dikejar-kejar? Wah wah wah! Lihatnya saja sudah membuat lapar. Sepertinya kalau dimakan tubuh akan jadi bugar. Mengapa selama ini tidak sadar. Buah begitu menjanjikan dibiarkan di luar pagar. Berlama-lama kena panas terik terbakar. Sayang sebaik itu dibiarkan terlantar. Angan melayang-layang liar. Jadi tak sabar. Tak tahan lagi walau menunggu sebentar.

Dari mata turun ke hati. Nalar mengolah hingga nafsu tak terkendali. Logika liar sekali. Ingin menjdi sangat bijaksana seperti Sang Ilahi. Tahu yang baik dan hakiki. Lepas dari kodrat insani. Dan terus terbang tinggi. Manusia akhirnya sama dengan Sang Ilahi. Membayangkan dapat mengatur hidup sendiri. Semua keperluan terpenuhi. Siapa lagi yang harus ditakuti? Hidup sesuka hati. Bukankah bujukan itu sangat menawan sekali?

Selamat datang di dunia lika liku. Dunia tipu menipu.

Penglihatan tak lagi dapat diandalkan. Yang dilihat bisa menjerumuskan. Walau itu didengar merdu. Harmonis membuat hati sendu. Jangan percaya dulu! Bisa jadi itu jerebu! Keinginan hati belum tentu kebutuhan. Yang masuk logika justru mencelakakan. Tak tahu lagi jalan. Jalan pulang sudah hilang. Tinggallah dusta. Dan daku dikau juga telah tertipu.

Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2:16)

The Message:

Practically everything that goes on in the world—wanting your own way, wanting everything for yourself, wanting to appear important—has nothing to do with the Father. It just isolates you from him.

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Singkatnya, begini! Sejatinya, kerinduan untuk memuaskan diri adalah ciri khas duniawi. Maunya jalan sendiri. Semuanya untuk untuk-ku sendiri. Selalu ingin dinomorsatukan. Ingat! Semuanya itu tak ada hubungan dengan tujuan hidup-mu. ‘Great Tragedy!’ Itu membuat dikau semakin jauh dari tujuan semula jadi.

Selamat datang di dunia lika liku. Dunia tipu menipu. Yang aslipun terlihat palsu. Yang semu justru sangat bermutu. Pilu! Tragedi hidup-ku! Yang ditinggalkan diburu. Yang perlu, aaahhh dibiarkan berlalu. Moga dikau tidak begitu. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Denis Doukhan from Pixabay

Comments

comments