Menelusuri lebih jauh drama di Taman Eden, dialog manusia dengan si ular dalam Kejadian 3 ayat 1 hingga 8, terlihat walau samar-samar keraguan manusia terhadap niat baik hati-NYA (ayat 1-4). Begitu mudahkah Adam Hawa lebih percaya kepada rayuan si binatang paling cerdik?
The first rebellion bermula dari hati yang ragu-ragu, apakah sabda YHWH dapat dipercaya? Ini sebelum dosa masuk ke bumi, posisi hati mereka pada akhirnya melawan titah YHWH. Keinginan hati, pilihan untuk lepas dari kendali untuk mengatur diri sendiri.
Itu kan dulu! Tidak, sekarang pun hati manusia bahkan lebih parah dari itu!
Di balik layar di alam tak kasat mata, si ular, si kerub, berambisi untuk menduduki kursi singgasana tertinggi, menyamai Sang Maha Tinggi (Yesaya 14:14). Makhluk ciptaan bernafsu untuk setingkat dengan Sang Pencipta. Motivasi ini merayap di sepanjang peradaban, keinginan lepas dari otoritas ilahi dan sedapat-dapatnya hidup sendiri, seturut kehendak hati.
The second rebellion, anak-anak Allah yang mbalelo, didasari dengan nafsu liar untuk meniru YHWH menurunkan generasi segambar dengan mereka! Diam-diam segerombolan makhluk tak kasat mata bermufakat, ambil jalan nekat untuk menghadirkan makhluk segambar mereka di alam terlihat. Akibatnya begitu fatal, bencana air bah melululantahkan peradaban secara total.
Inilah dua pembangkangan hebat terhadap rencana-NYA sepanjang peradaban hingga era nabi Nuh. Kehendak-NYA untuk menghadirkan aroma gaharu di seantero bumi seolah-olah menemui jalan buntu. Ibarat bunga layu sebelum mekar, impian terhenti sebelum selesai. Pupuskah maksud-NYA untuk bumi?
Dapatlah dikatakan, sebagian besar manusia dan sebagian kecil makhluk dari alam sana, bersama-sama sepakat untuk angkat tangan untuk melawan! Adam Hawa dan kelak semua keturunan berada dibawah pengaruh sang ular. Anak-anak Allah yang membangkang, melewati batas yang ditentukan, segera ditawan sehingga tidak lagi dapat macam-macam. Namun keturunan mereka yang mati, Nephilim, raksasa, rohnya gentayangan untuk mencari mangsa yang dapat disusupi.
Dari berlaksa-laksa penduduk bumi di era antediluvian, hanya Nuh seorang diri yang dapat memahami, maksud abadi-NYA. Atau lebih tepatnya, di masa sebelum air bah, hanya Nuh sendirian yang hidupnya tidak mengikuti prilaku mainstream.
Pembaca Budiman!
Bayangkan! Hanya Nuh seorang diri dari, mungkin, puluhan juta atau ratusan juta jiwa penduduk bumi. Secara teori probabilitas, begitu besar kemungkinan akhirnya dunia secara mutlak dikuasai si ular dan konco-konconya! Artinya? Tamatlah sudah impian-NYA, apa yang DIA inginkan gagal total!
YHWH gagal, rencana-NYA batal! Bukankah ini berarti si ular dan roh-roh yang gentayangan sukses menancapkan taringnya di bumi. Paling tidak, hanya yang setara yang mampu mengalahkan lawan. Dengan demikian, tercapailah nafsu rakus si kerub sejak dari awal, untuk meng-coup d’état tahta Sang Maha Timggi (Yesaya 14:13,14).
Jika itu yang terjadi, sejarah dunia akan punya cerita lain. Namun, syukurlah YHWH masih menemukan satu, satu-satunya, the one and only manusia yang hati-NYA masih berkenan kepadanya. Dari the one and only inilah YHWH melanjutkan peradaban untuk melaksanakan niat hati-NYA sejak dari kekekalan, menghadirkan kerajaan-NYA di alam yang kelihatan (Mazmur 143:13).
Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. (Iberani 11:7)
Siapa sangka? Hanya karena seorang manusia sederhana, sejarah dapat kembali berjalan di rel yang benar! Entahlah! Namun, sepanjang narasi Alkitab, YHWH senang -atau lebih klop dikatakan hobi- melaksanakan niat-NYA melalui pribadi-pribadi yang tak terpandang, namun percaya kepada-NYA.
Jangan merasa tak berguna karena bukan pengkhotbah ternama. DIA hobi bermitra dengan Anda yang sahaja untuk mempermalukan dunia (1 Korintus 1:27,28).(nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
