469. Penghapus Rindu

Viewed : 141 views

Secara kasat mata, bolehlah dikatakan YHWH telah gagal melaksanakan impian-NYA melalui Adam dan keturunannya. Keinginann-NYA menghadirkan aroma gaharu di seluruh muka bumi seakan-akan gugur disapu oleh pilihan yang terburu-buru. Adam Hawa termakan bujuk rayu, dari pada Sang Pencipta mereka lebih memilih si ular sebagai teman pembunuh rindu!

Entahlah, aku tak tahu pasti, tetapi patut diduga! Di alam tak kasatmata, si ular membusungkan dada, penuh percaya diri karena tipu muslihatnya berhasil. Makhluk kebanggaan Sang Kuasa kini tak berdaya, terjerat dalam umpan yang dibalut bujuk rayu mematikan.

Apa daya! Adam tak berniat, namun itulah kenyataannya. Manusia pertama dan keturunannya jatuh menjadi hamba dosa (Roma 6:17). Tuannya bukan lagi Sang Pencipta, melainkan dirinya sendiri. Alih-alih hidup dalam harmoni dengan YHWH, manusia justru memilih melepaskan diri dari otoritas-NYA.

Bak permaianan catur, YHWH laksana dalam posisi terpojok, salah langkah bisa-bisa diskakmat oleh gerakan kuda yang tak terduga. Semua mata makhluk di alam surga melotot, ingin tahu langkah apa yang DIA lakukan untuk terlepas dari keadaan terpojok!

Jika Adam dan Hawa dieliminasi lalu digantikan dengan manusia baru, bukankah itu sama saja seperti memulai permainan dengan papan catur yang baru? Permainan ini justru berakhir tragis bak pion yang menjatuhkan sang raja—tak ada bedanya dengan mengangkat bendera putih tanda menyerah.

Namun, jika permainan terus berlanjut dengan Adam dan Hawa, bukankah DIA sudah tahu siapa mereka? Ini bukan seperti permainan sepak bola dengan pemain cadangan. Ini drama tanpa pengganti! Hanya ada dua pilihan: memulai kembali dengan yang baru atau tetap melanjutkan dengan manusia yang telah terjerat tipu daya!

Walau begitu, DIA memilih untuk melanjutkan cerita. Niat-NYA menghadirkan aroma surga di seluruh dunia kini bergantung pada Adam, Hawa, dan keturunan mereka. Pilihan ini penuh risiko—si ular pun tersenyum puas, merasa dirinya kini memegang komando.

Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (Kejadian 6:11)

Cerita semakin kelam, sejarah tertulis dengan darah. Keadaan ini melukai hati-NYA (Kejadian 6: 6). Namun, keturunan Adam telah melewati batas, peradaban harus segera dilibas.

Meski begitu, masih ada satu-satunya, the one and only, Nuh. Di tengah kegelapan dunia, ia tetap memilih YHWH sebagai sahabat penghapus rindu. Karena ketaatan Nuh, keluarganya pun turut diselamatkan (Kisah Para Rasul 16:31).

…sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.” (Kejadian 9: 6,7)

Sejak sebelum bumi tercipta, kehendak-NYA tak berubah. DIA melanjutkan rencana-NYA dengan mengandalkan Nuh yang tak sempurna. Mandat Taman Eden kini diamanatkan ulang kepada seorang yang bergaul dengan-NYA (Kejadian 6:9).

DIA tak pernah putus asa, meski manusia terus membelakangi-NYA. Selalu ada satu-dua jiwa yang rindu bertemu dengan-NYA di setiap zaman. Mereka tersembunyi, tak menonjol, terselip di antara riuhnya dunia. Namun, DIA melihat mereka. Bukan seperti manusia yang menilai kinerja, tetapi DIA menatap hati (1 Samuel 16:7).

Walau hanya tinggal satu dari berlaksa-laksa orang, YHWH tetap dengan rancangan-NYA. Itulah cara-NYA sejak di Taman Eden hingga kelak Yerusalem surgawi menjelma di bumi. Bisa jadi di era digital ini, DIA mempercayakan mandat-NYA kepada Adinda.

Manusia mungkin melihat cela, tapi DIA melihat hati. Bukan yang tampak di mata manusia yang menjadi perkenanan-NYA, melainkan siapa sang penghapus rindu dalam jiwa Adinda! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments