Eden telah hilang, ke dunia nyata manusia telah terbuang. Tidak guna mengkhayal agar tidak usah ada agama, walau memang itu menyebabkan pertengkaran di mana-mana. Rasa-rasanya juga tidak berfaedah menganggap semuanya akan baik-baik saja, bukankah kenyataan hidup punya cerita berbeda?
Trailer di Taman Sorga telah tamat, akibatnya nasib manusia sekarat. Hidup ini singkat, dikau dan daku tidak terasa akan juga mangkat. Meninggalkan tempat, bahkan oleh sanak saudara pun akhirnya dikau tidak lagi akan diingat-ingat.
Semua tinggal kenangan, tinggal catatan kependudukan diwujudkan dengan hiasan batu nisan di pemakaman. Jika nasibmu beruntung, dikau dikenang sebagai tokoh agung. Daku yang biasa-biasa, relalah dilupakan begitu saja. Bak hidup hanya numpang lewat, ujung-ujungnya tidak dapat mengelak untuk menuju akhirat.
Fakta hidup ini hanya bak perantau, temporer karena segera akan tinggal memori masa lampau. Keberadaan ini bak singgah hanya sekadar bergurau ataukah punya makna baru? Hidup yang sejengkal, ternyata berpengaruh hingga kekal. Namun, pilihan tetap ada di tangan.
Sejak keluar dari Taman Sorga, manusia berada tepat di tengah-tengah kancah perang yang tidak kasat mata. Telah ditabuh genderang perang, konflik semakin menjelang. Tidak ada jalan tengah, ketika musuh tujuannya hanya untuk merebut dikau dari pelukan cinta-NYA.
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15)
Bagi dikau yang sudah remaja di tahun 70an, siapakah yang tidak kenal dengan pengarang cerita silat ternama dari kota Solo, Kho Ping Hoo? Cerita yang dibumbui kisah asmara, kepiawaian penguasaan ilmu kung fu, hingga dendam kesumat yang berlanjut turun temurun.
Cerita tidak selesai dalam satu jilid, puluhan buku diperlukan untuk bercerita tentang kisah cinta yang melibatkan dendam hingga cicit. Drama cinta dibumbui balas dendam antara dua keluarga dalam Kisah Sepasang Rajawali, misalnya, terdiri dari 40 jilid.
Drama epik tersebut melibatkan lika liku cinta sejoli Yo Ko dan Oey Yok Su yang berasal dari dua keluarga dunia persilatan: Siauw Lim Pay (Sekolah Suling Emas) dan Bu Tong Pay (Sekolah Pedang Iblis). Dua keluarga yang menjadi musuh bubuyutan! Kisah cinta yang mengharukan yang bernoda darah.
Adegan di Taman Sorga meninggalkan layaknya sebuah drama kolosal berjilid-jilid. Konflik berkepanjangan, tidak ada habis-habisnya hingga berlanjut ke satu turunan ke turunan berikutnya. Kisah miris kehidupan yang bertabur drama, cinta, nestapa, bencana, penuh dengan air mata.
Berbeda dengan cerita silat, ini kisah nyata yang melibatkan dikau dan daku sebagai pemain utamanya. Perseteruan yang tidak berkesudahan, hanya berakhir kala daku meninggalkan kehidupan. Hasil pertempuran akan terbawa hingga jauh sampai di seberang apa yang tidak kelihatan.
Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (Matius 23:33)
Pembaca yang budiman! Ini deklarasi perang yang berlangsung turun temurun hingga habis peradaban. Melampaui imajinasi Kho Ping Hoo, hingga puluhan abad telah berselang, ternyata si ular pun terus mempunyai keturunan dan terus menerus melawan.
Apa mau dikata, sedari awal cinta Sang Pencipta bertepuk sebelah tangan. Daku dan dikau sejak di Taman Eden telah jatuh kepelukan yang lain. Ini laksana pertempuran untuk memperebutkan cinta. Mungkinkah, kalau sudah menyangkut cinta, DIA pun seakan-akan diam seribu bahasa?
Tidak berbeda, sama saja! DIA berdarah-darah untuk mencintaimu. Namun, sebagai mana Adam Hawa di Taman Sorga, begitu juga dikau dan daku di dunia. PIlihan ada di tangan! Puan Tuan, sila ambil keputusan. Ini peperangan nyata, bukan cerita silat hasil karangan. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |




