379. Eres

Viewed : 440 views

Serial adengan lanjut setelah pengkhianatan pertama di Taman Sorga, ternyata menjadi penentu kisah drama kolosal peradaban manusia. Siapa sangka, satu tindakan sepele yang seakan-akan tidak menyolok mata, tidak menarik untuk dibaca, menjadi bencana bagi siapa saja sejak dahulu kala hingga akhir masa.

Sebagai bagian dari tim pasukan khusus, layaknya paspampres, si ular terbilang sukses dalam mngelabui manusia. Akibat dari tindakan ini sangat merana, manusia menjadi makhluk fana, kematian menjelma. Alam kubur sebagai simbol pembrontakannya menjadi bagian tak terlepaskan dari kehidupan manusia.

Selamat datang di dunia fana!

Dunia serba sementara. Tidak ada yang abadi di bawah mentari, semua akan mati! Adam Hawa diusir dari sumber kehidupan, dipaksa ke luar dari hadirat TUHAN. Ini pengalaman daku sehari-hari, ratap tangis ditinggal oleh orang yang dikasihi. Dikau tentu mengerti, ini fakta hidup di bumi.

Tunggu dulu! Lalu, bagaimana dengan nasib si ular itu?

Sebab itu Aku akan mencampakkan engkau dari gunung kudus Allah. Aku akan membinasakan engkau dari antara batu-batu gemerlapan, hai kerub pelindung. Hatimu menjadi sombong karena keindahanmu; engkau merusak hikmatmu demi kemegahanmu. Sebab itu Aku akan mencampakkan engkau ke bumi,… (Yehezkiel 28:17 FAYH)

Perangai si kerub pelindung terbuka lebar, nyata ingin menjadi terbesar. Alih-alih tekad untuk terbang tinggi, sang kerub dihempaskan ke dasar paling dalam dari bumi. Dia terlempar dari anggota dewan musyawarah ilahi, gunung kudus Allah, dikeluarkan dari pasukan elite ring-1. Kejatuhan yang sangat menyesakkan hati.

Dicampakkan ke bumi, kata bahasa Iberani untuk bumi, eres. Di sepanjang Perjanjian Lama (PL), kata ini juga berarti tanah, namun juga menunjuk kepada domain alam kematian (Yunus 2:6; Maz 30:9). Dalam kitab Yunus tersebut, kata eres disandingkan dengan istilah lubang kubur (Iberani: sahat), istilah yang sering dijumpai berbicara tentang kubur ataupun alam di bawah sana (underworld).

Kalau saja potongan adengan Yehezkiel 28:17; Yesaya 14:11,12 didempetkan dengan narasi dialog dalam Kejadian 3:14, maka cara penulis menggambarkan nasib si ular menjadi lebih terang.

Bagi pembaca PL, adegan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dunia binatang. Debu-tanah itu sebagai ekspresi alam kematian. Kata-kata eres, sahat, dan sheol dalam bahasa Iberani secara umum menunjuk kepada alam kubur, dunia kematian.

Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (Kejadian 3:14)

Your pomp is brought down to Sheol… “How you are fallen from heaven, O Day Star, son of Dawn. How you are cut down to the ground [eres],… (Yesaya 14:11,12 versi ESV)

Ini penggambaran hukuman kepada si ular yang hidupnya penuh duka (debu) dan terbuang dari hadirat-NYA. Si kerub dicampakkan ke eres! Alam kematian, hidup dalam alam kegegelapan, jauh di perut bumi.

Penggambaran ini tepat dengan kanyataan hidup, mereka yang mati di kebumikan, diturunkan ke perut bumi. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa kematian itu sebagai tanda kemenangan atau pun sengat si ular, putra fajar!

Alam terang dan alam gelap, sumber kehidupan dan dunia kematian, alam angkasa raya (heaven) dan underworld. Mungkinkah penggambaran perbedaan ini sebagai ekspresi penjelasan kerajaan terang vs kerajaan gelap (Kolese 1:13)?

Ini deklarasi perang antar dua alam dalam memperebutkan hati Adinda. Perang yang tidak mengenal jalan tengah, no win-win solution. Sebagaimana si ular menggoda Hawa di Taman Sorga (2 Korintus 11:2), begitu jugalah sekarang Adinda digoda untuk mendua hati kepada Sang Pencipta! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments