378. Ketua Dewan

Viewed : 380 views

Sejauh yang dapat dicerna, daku tidak menemukan petunjuk bahwa sudah ada pembrontakan makhluk supranatural sebelum Adam Hawa. Layaknya, keberadaan manusia sebagai pencobaan tiada tara bagi makhluk yang tidak kasad mata.

Potongan-potongan adegan ejekan terhadap raja Babel (Yesaya 14:1-21) dan ratapan terhadap raja Tirus (Yehezkiel 28: 1-19) jika disandingkan dengan trailer di Taman Sorga (Kejadian 3) memberi gambaran lebih nyata apa sesungguhnya yang terjadi di Eden.

Sang kerub begitu membabi buta, ambil sikap berbeda dengan Sang Pencipta. Kehendak Sang Kuasa memperluas keluarga-NYA dengan menghadirkan Adinda di dunia nyata, ternyata si ular tidak suka. Ide ini menggelisahkan hatinya.

Peristiwa di Taman Sorga dapatlah dikatakan sebagai pemberontakan makhluk adi kodrati yang pertama. Perdana adanya kegelisahan di keluarga-NYA, bibit egois yang terus menguasai jiwa dan logikanya.

Si kerub menjadi tokoh sentral, seorang diri ambil sikap melawan arus normal. Isi hatinya menjadi terang benderang, ambisi menjadi pemenang, menduduki kursi chairman di gunung Allah yang cemerlang.

Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! (Yesaya 14:13,14)

Obsesi untuk mengatasi posisi anak-anak Allah yang lain, nafsu tak terbendung mengambil alih posisi sebagai ketua di bukit pertemuan, dewan musyawarah Tuhan. Dan sebagai puncaknya, keserakahan ingin dijadikan Tuhan.

Pembrontakan makhluk surgawi, keinginannya merebut palu Sang Ketua bukit pertemuan alias sidang ilahi dari Sang Maha Tinggi. Mungkinkah dia sebegitu tidak puas dengan kehendak ilahi untuk menghadirkan manusia dalam keluarga-NYA? Apakah itu sebabnya dia begitu benci dengan manusia?

Ambisi menjadi penguasa dari pada menikmati peran sebagai hamba, telah menjerumuskannya ke dalam lembah nista. Sebagai pemberontakan pertama makhluk dari alam sana, pendusta yang merayu Hawa, kelak dia dikenal sebagai ilah zaman ini, the god of this world (2 Korintus 4:3,4).

Mbalelo, melawan kehendak ilahi, membuat dia lupa diri, berlari kian ke mari sehingga menemukan ide untuk menduduki posisi tertinggi. Mungkinkah dia sadar diri, rencana itu tidak mungkin terjadi? Kelihatannya kesadaran itu dikalahkan oleh ego untuk menjadi tertinggi untuk mengatur kehadiran makhluk insani di bumi.

Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. (Yehezkiel 28:15)

Mungkinkah sang kerub pun memiliki kehendak bebas, free will, sebagaimana Adam dan Hawa? Bagi si ular, kehadiran manusia memicu kehendak tersembunyi itu baru ke luar. Layaknya manusia pertama, begitu pulahlah makhluk tak kasat mata, tercipta dalam keadaan tak bercacat cela. Pilihanlah yang membuat semuanya berbeda!

Kemungkinan besar, pilihan untuk melawan kehendak ilahi, posisi di ring-1, penuh hikmak, dan sebagai gambar kesempurnaan (Yehezkiel 28:12) membuat sang kerub lupa diri. Melangkah terlalu jauh sebagai ciptaan yang ingin mandiri, lepas dari kendali Sang Ilahi.

Bukankah hal-hal yang seperti itu juga yang dikau alami godaan sehari-hari? Daku cenderung berjalan menurut hikmat diri, bebas dari tuntunan ilahi. Lihatlah sana sini, bukankah hasrat manusia menjadi tuan untuk diri sendiri? Sebelas duabelas dengan si ular, aku ingin menjadi terbesar! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments