374. Sekutu atau Seteru!

Viewed : 503 views

Trailer di Taman Surga, sejatinya, diselumuti berbagai misteri. Rasanya keki,, narasi yang begitu berarti, seolah-olah pemahaman dibiarkan liar tak terkendali. Drama yang begitu esensi bagi peradaban insani. Namun ceritanya nanggung masih banyak perkara seakan-akan didiamkan sebagai teka teki.

Ada drama lain yang serupa tapi tidak sama. Itu peristiwa ribuan masa kemudian, akan tetapi menggambarkan apa yang terjadi di Taman Sorga. Kisahnya di dunia nyata, namun layaknya cerita kilas balik apa yang terjadi di Taman Sorga. Mungkinkah kisah ini memberi petunjuk apa yang terjadi di Taman Allah?

Ini senandung ratapan sang nabi terhadap nasib raja Tirus dalam kitab Yehezkiel 28: 11-19. Raja Tirus yang cemerlang namun arogan. Kecantikannya akhirnya membuat dia tergelincir jatuh dalam kejumawaan. Jatuh jauh hingga ke dalam perut bumi.

“Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (Yehezkiel 28:12,13)

Narasi ayat di atas terasa janggal, bukankah raja Tirus semestinya berada di wilayah Tirus? Mengapakah justru sang raja ini diingatkan keberadaannya ada di Taman Sorga? Perkara apakah yang hendak disampaikan nabi Yehezkiel?

Mungkinkah sang nabi tengah menyampaikan pesan mendalam tentang apa yang terjadi di Taman Allah? Bisa jadi, raja Tirus sebagai perlambang makhluk supranatural, sang ular. Jika ini benar, maka lazimlah dia digambarkan berada di atara batu mulia sebagi simbol kehadiran unsur ilahi, adi kodrati.

Sang makhluk digambarkan sebagai lambang kesempurnaan, penuh hikmat dan indah. Lukisan yang menunjuk kepada satu pribadi yang cemerlang nan berintelektual. Mungkinkah sang nabi tengah bercerita ulang, adegan tipu menipu di Taman Eden?

Aku telah mengangkat engkau untuk menjadi kerub pelindung. Engkau dibolehkan memasuki gunung kudus Allah. Engkau berjalan di antara batu-batu gemerlapan. “Engkau sempurna dalam segala perbuatanmu sejak engkau diciptakan sampai engkau berbuat salah… (Yehezkiel 28:14-15 FAYH)

Sebagai kerub pelindung, posisi si ular bukanlah sembarangan. Bak paspampres, dia ada akses ke gunung kudus Allah, tempat YAHWEH bertahta. Kebebasan untuk berpatroli ke sana ke mari untuk memastikan tugas dijalankan dengan tidak ada cacat cela. Jabatan terhormat di antara makhluk sorgawi, hierarki tinggi di gunung kudus Ilahi.

Hingga suatu masa. Tatkala dia diperhadapkan dengan kenyataan, rencana DIA menghadirkan insan di dunia sebagai bagian dari keluarga-NYA. Pilihan untuk mendukung atau menentang ada di depan mata. Misteri pergumulan bathin ini tersimpan dalam kalbu, hingga pagi hari itu.

Seperti biasa, Hawa tengah berjalan-jalan menikmati keajaiban karya-NYA. Si ular datang menghampiri bak seorang teman. Tanpa curiga, jauh dari syak wasangka, disambut dengan ceria. Siapa sangka, pertemuan tak seberapa lama telah menentukan nasib daku, seisi dunia, dan bahkan seantero alam semesta.

Kecerdasan menyembunyikan rupa, niat licik untuk menjerat Hawa. Memutarbalikkan fakta, hingga Hawa terperana, sebagai keahlian generik dari si Pendusta. Selebihnya, bukankah tinggal cerita nestapa yang menimpa seluruh umat manusia?

Sebagaimana di Taman Sorga, begitu juga kini di dunia, si ular dapat tampil sebagai sekutu yang tidak tahunya seteru. Laksana serigala berbulu domba, senantiasa dia mencari cara untuk memunahkan Anda. Melawan kehendak-NYA untuk manusia. Dulu kini dan nanti dia tidak berbeda. Harap Waspada..! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments