301. The Next Level

Viewed : 909 views

Baru saja terasa lega, kembali pemerintah mewanti-wanti datangnya pandemi gelombang ke tiga. Si Corona kembali dengan cepat bermutasi, si virus sukses lagi menyesuaikan diri. Beberapa negara tengah mengalami, ternyata vaksin bukanlah jaminan sirnanya pandemi dari muka bumi.

Akankah Covid-19 ini pelan namun pasti akan berubah menjadi endemik? Keberadaannya akan selalu ditemui, terus akan berdampingan dengan daku dan dikau hingga nanti. Sebagaimana penyakit endemik lainnya, si virus akan betah bertahan berlama-lama dan tidak akan pergi ke mana-mana.

Jika vaksin bukanlah melenyapkan pandemi, kekebalan komunitas (herd immunity) juga bukan solusi. Apakah ini artinya, dikau dan daku bahkan seluruh penduduk dunia harus menyesuaikan diri hidup bersahabat dengan Covid-19? Anggap si Corona sebagai tamu yang menjadi bagian dari peradaban.

Jika prediksi kaum pakar itu ternyata benar, siap-siaplah hidup seakan-akan semua mulai lagi dari level Sekolah Dasar. Dunia bisnis akan cepat belajar, dipaksa antisipatif kalau tidak ingin bubar. Dunia kerohanian digiring untuk mengalami perubahan yang sangat mendasar. Perubahan akbar yang di depan bentuknya masih samar-samar.

Mungkinkah jema’at tengah dituntun menelusuri jalan yang sebelunnya tidak terbayangkan? Jika pertemuan-pertemuan di gedung akan akhirnya ditiadakan, bagaimanakah kehidupan umat ke depan dalam memelihara iman?

Ritual baptisan, perjamuan kudus, bahkan hingga perpuluhan tidak lagi seperti yang dahulu dilakukan. Mungkinkah ritual sakral itu hanyalah kebiasaan yang dilaksanakan bergantung kepada keadaan, dan itu bukanlah suatu keharusan?

Urut-urutan cara menyembah Tuhan, liturgi kebaktian ibadah di hari Minggu, semua dilibas tanpa pandang bulu. Bapak/ ibu pendeta berkhotbah terbata-bata, berdiri sendiri di mimbar tanpa jema’at di depan mata. Pengalaman berat membuat mata berkaca-kaca. Seperti ini akan berapa lamakah?

Persekutuan-persekutuan, kelompok-kelompok belajar Firman Tuhan, bahkan pemuridan yang selama ini diandalkan sebagai sarana jitu untuk bertumbuh dalam iman, itu tinggal romantisme masa yang telah silam. Kenyataan ini menyakitkan, tidak lagi leluasa tegor sapa bercanda nyata dengan teman-teman.

Di dunia misi juga tidak dikecualikan, gagap menghadapi kenyataan. Jika daku tidak leluasa lagi bertemu orang baru, tetangga pun bertemu daku ragu-ragu, lalu bagaimana dapat berbagi isi kalbu? Ke manakah arah perubahan ini sedang dituju? Tulus, daku tidak tahu!

Sudah hampir 2 tahun, jema’at Tuhan terlepas dari rutinitas ibadah yang diwariskan turun temurun. Kebiasaan yang tidak mungkin dihilangkan dari kehidupan, bahkan timbul rasa berdosa kalau absen melakukan. Sekarang umat sudah terbiasa, tidak lagi merasa dituntut beribadah pola lama, dan hati sudah dapat menerima.

“Bangunlah dan makanlah, karena engkau harus menempuh perjalanan yang jauh.” Elia bangun, lalu makan dan minum. Makanan itu memberi kekuatan kepadanya untuk melakukan perjalanan empat puluh hari empat puluh malam menuju Gunung Allah, yaitu Gunung Horeb. (1 Raja-Raja 19:7,8 FAYH)

Perjalanan ini berat adanya, umat diharuskan memasuki terowongan gelap tanpa cahaya. Dibutuhkan stamina, saling menerima, dan hati yang terbuka karena berakhirnya daku dan dikau masing-masing bisa di tempat berbeda. Sila pahami dan nikmati roti ‘manna’, itu membuat dikau dan daku ada tenaga.

Ini perjalanan spiritual, secara kolosal umat global ke tahap berikutnya, the next level. Ziarah rohani, perjalanan sempurna selama ‘40 hari 40 malam.’ Perjalanan massal, namun bersifat individual. Daku dan dikau dipaksa berjalan, untuk maju tidak lagi mengikuti kebiasaan. Ayo jangan diam!

Laksana nabi Elia mendaki ke Gunung Allah, tinggalkan semua kebiasaan lama karena ganasnya wabah. Covid-19 menjadi pengarah, perjalanan dari Sekolah Dasar ke tahap Sekolah Menengah. Selamat ziarah! Moga tetap gagah, walau memasuki dunia antah berantah. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Vladimir Fedotov on Unsplash

Comments

comments