Masa ini memang tidak ada duanya. Dalam peradaban manusia pun era semacam ini langka. Aku dan dikau diberi hak istimewa. Untuk melihat dengan mata. Merasakan dengan segenap panca indra. Betapa dahsyatnya si Corona. Si virus begitu semena-mena. Semua dilibas seketika. Berubahlah segala-galanya. Termasuk dalam perkara-perkara agama. Sejak itu, tidak ada lagi yang sama.
Sebelum ada si Corona. Hal-hal semacam ini sulit dipercaya. Bagaimanakah mungkin perkara-perkara agama yang begitu peka? Kebiasaan ibadah di rumah Tuhan yang sudah begitu lama. Itu sudah bagian tak terlepaskan dari dogma. Inti sari ajaran setiap agama. Kalau saja salah bicara. Salah ucap karena tergesa-gesa. Dapat dituduh sebagai sang penista. Nyawa jadi taruhannya.
Siapakah sangka? Sungguh, tidak seorang pun yang dapat menduga. Hal-hal yang dulu begitu sulit hanya sekedar untuk ditanya. Dianggap tabu kalau sudah mulai ada niat menyela. Biarpun itu ada dalam Kata di buku Sang Pencipta. Namun, umat tidak ada nyali untuk bicara.
Sekarang, itu begitu mudah dicerna. Tidak perlu lagi diterka-terka. Dan yang sangat penting adalah kamu tidak perlu lagi gentar. Karena tidak akan ada lagi golongan elite rohaniawan yang gusar. Yang akan mencap kamu sebagai penista agama yang benar. Karena Mahkamah Agama telah bubar. Tugas mereka sudah kelar.
Untuk paham tidak ada syarat harus tinggi daya nalar. Tidak perlu menjadi pakar. Apalagi lagi harus terpelajar. Begitu mudahnya fakta ini diakui memang benar! Karena pengertian perkara ini seolah-olah pintu sudah dibuka lebar-lebar.
yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. (Kolose 1:26)
The Message: This mystery has been kept in the dark for a long time, but now it’s out in the open.
Ini rahasia tak terucap. Misteri dari segala abad. Semua tersimpan rapat-rapat. Bak teka teki sepanjanag masa tak terjawab. Tersembunyi di dalam gelap. Gelap bagi akal umat. Bahkan sekaliber penghulu malaikat pun tidak tanggap.
Mungkin itulah sebab. Mengapa sejarah jema’at. Berdarah-darah hanya karena perkara tempat ibadat. Linangan air mata mengalir lebat. Banyak nyawa tidak selamat. Semua dipertaruhkan demi menjaga kehormtan tempat suci yang seakan-akan telah menjadi keramat.
Sejak zaman Musa seperti itu. Sekitar 2.000 tahun lalu juga begitu. Hingga sekarang pun tetap masih berlaku. Tidak ada yang cukup jitu. Berani mengusik kesakralan bangunan dari batu. Tempat jama’ah bertemu setiap hari Minggu. Sampai datangnya si Corona itu.
Terbukalah rahasia. Tersingkaplah misteri sejak purba. Walau narasi dalam ayat-ayat tersebut sejak dahulu kala tidak berbeda. Setiap kata masih sama. Namun si virus tak kasat mata. Mampu membuka tabir yang selama ini sulit dicerna. Walau harus melawan kebiasaan yang sudah begitu lama. Entahlah, namun itu begitu mudah diterima.
Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, (Ibrani 3:5,6)
Rumah keramat itu. Ternyata sejak dua milenial yang lalu. Bait Allah dari kayu dan batu telah berubah ujud menjadi aku dan kamu. Dari sedingin batu. Semati kayu nan kaku. Berubah tahap menjadi hidup. Segar semerbak bak bunga melati tengah berkuncup.
Ini rahasia semesta. Ternyata ada tahap-tahapannya. Nabi Musa bak meletakkan pengertian yang pertama. Bermula dari tabernakel, itu kemah dari bahan yang tersedia. Terbuat dari kain dan perabotan sederhana. Mudah digulung dan di bawa ke mana-mana. Seturut dengan perjalanan umat Israel di padang belantara. Selama 40 tahun hingga lenyaplah generasi pertama. Angkatan tegar tengkuk yang tidak setia.
Kemudian tampillah Raja Salomo yang berjaya. Lantas kemah sederhana berubah ujud menjadi bagunan mewah tiada tara. Antara mimpi ataukah nyata? Raja pun gagap karena tidak menyangka. Bangunan menjelma begitu gagah berdiri di depan mata. Pada waktu pentahbisan, raja pun terbata-bata berkata.
Pada waktu itu berkatalah Salomo: “TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.” (1 Raja-Raja 8:12,13)
Ucapan raja menggema denga berwibawa. Umat senyum-senyum dengan ceria. Mulai saat itu Allah ada tempat untuk menetap. Tempat tinggalnya yang tetap. Tuhan ada rumah. Bait Allah tempat umat sepanjang masa beribadah.
Mari lihat sejarah. Bait Allah di Yerusalem tempat umat beribadah. Ini tidak ada yang salah. Hingga fungsinya genaplah! Sebagaimana sejak zaman Musa. Dia tidak mencari batu bata. Apalagi besi baja. Bahkan keramik dari Italia pun Dia tidak suka. Dia mencari Adinda. Kekasih hati-Nya.
Inilah misteri sejak purba yang dinyatakan kepada umat percaya. Sekarang terserah Anda. Kukuh pada batu bata. Ataukah mulai mengikuti aturan si Corona? Insya Allah, pilihan ini akan membuat hidup jauh berbeda. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Image by Drew Force from Pixabay




