Segala Perkara

Viewed : 2,929 views

RENUNGAN
Filipi 4:13
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Saya terkesan dengan pengalaman seorang alumni yang dulu pernah mengambil beberapa kuliah dengan saya, termasuk kuliah agama. Bahkan sekarang dia ikut membantu saya sebagai asisten kuliah agama di kampus.

Orangnya rajin dan baik hati. Setelah lulus, dia ingin studi lanjut ke Jepang. Untuk itu, dia juga meminta surat rekomendasi dari saya.

Akan tetapi Tuhan belum mengijinkan dia untuk berangkat karena belum mendapat beasiswa yang diperjuangkannya. Sudah dua kali dia usahakan, namun belum terbuka juga jalan, padahal semangatnya untuk studi lanjut tidak diragukan dan kemampuanpun ada.

Selagi dia masih belum ada kegiatan rutin, saya ajak dia bergabung sebagai tim asisten kuliah agama. Diapun siap dan bersedia.

Semangatnya untuk studi tidak berubah. Dia coba lagi berjuang untuk ketiga kalinya untuk dapat beasiswa studi ke Jepang.

Dalam masa penantian itu, ayahnya mendapat kecelakaan lalu lintas. Yang menabraknya lari… tak ketahuan hingga kini.

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, namun akhirnya ayah tercinta dipanggil pulang ke Rumah Bapa di Surga.

Setelah beberapa lama ayahnya meninggal dunia, ternyata ada pengumuman bahwa beasiswa yang dilamar terakhir (yang ketiga kalinya) diterima.

Mestinya dia segera berangkat melanjutkan cita-citanya ambil S2 di Jepang. Tapi ternyata niat itu harus ditunda karena ibunya yang adalah seorang hamba Tuhan sakit. Karena ayah sebagai tulang punggung keluarga sudah tidak ada lagi, maka walau berat hati, dia putuskan untuk mendampingi Ibu setelah ayah pergi. Dia rela berkorban demi Ibu terkasih.

Perasaannya sungguh amat berat. Ayah sudah pergi, Ibu sakit, niat sekolah tidak/belum kesampaian. Dan masih ada pergumulan lainnya.

Atas seijinnya, saya kemukakan di bawah ini diskusi kami kemaren sebagian ungkapan perasaannya ke saya lewat kontak-kontak kami (WA)…
————————————–
Amin…
Iya, pak, saya pun meyakini demikian. Rasanya berat dan melelahkan sekali sebulan belakangan ini. Pencobaan datang bertubi2, tapi saya pun sungguh merasakan kuasa Tuhan dinyatakan. Dia tidak pernah tinggal diam…

Pertama, papa yg tiba2 dipanggil pulang. Saya harus merelakan papa pergi, harus mengampuni orang yg entah siapa menabrak papa, dan harus merelakan mimpi dan semua plan saya ke depan. Saya sangat sangat khawatir akan masa depan saya, hati saya hancur sekali saat itu, pak. Tapi tiba2 pagi itu bapak telepon dan memberikan banyak pandangan. Saya sama sekali tidak menyangka bapak berpikir dan mengambil inisiatif sejauh itu, terima kasih banyak ya, pak. Kehadiran bapak sungguh memberkati hidup saya :’)

Masih dalam suasana berduka, saudara saya yg lumpuh dan keterbelakangan mental yg ikut tinggal di rumah juga mulai bertingkah macam2 (setelah diperiksa ternyata dia ada gangguan jiwa, makanya jadi agresif).
Lelah sekali mengurus dia, pak. Kelakuannya sangat tidak wajar dan egois. Kadang di rumah pun kami tidak bisa istirahat krn dia cari perhatian terus, bahkan sampai tengah malam dan subuh2. Kemarin kami serumaheun sakit semua, pak, mungkin krn terlalu lelah dan stress.
Sudah dari lama kami cari2 panti untuk dia tapi tidak ada yg mau terima. Kalaupun ada, biayanya mahal sekali, 10jt/bulan. Tapi puji Tuhan krn kejadian papa kemarin, Tuhan gerakkan banyak sekali orang untuk membantu kami cari tempat rehabilitasi. Akhirnya tgl 15 kemarin bisa masuk ke rumah pemulihan Gerasa di daerah Cihanjuang. Sebulan kena 3.5jt, belum termasuk obat2an. Yaa nominal segini pun bukan jumlah yg kecil untuk keluarga kami, tapi saya rasa ini pilihan yg terbaik daripada suasana di rumah jadi tidak kondusif…

Baru selesai kami masukkan dia ke sana, tiba2 mama harus operasi dg kondisi kami tidak punya asuransi. Pusing sekali kemarin saya, pak ? tapi lagi2, Tuhan nyatakan penyertaan-Nya. Mama saya membawahi 4 komsel di gereja, dan anggota2 komselnya itu diam2 menggalang dana untuk kami. Hanya dalam 1 malam, sudah terkumpul 30 juta lebih. Biaya RS bisa ditutup dari dana yg mereka kumpulkan itu, pak, bahkan masih surplus. Luar biasa sekali…

Beres mama operasi, ada orang jkt bolak balik telpon ke saya. Ternyata inpex, memberitahukan saya lolos seleksi beasiswa. Speechless banget saya waktu itu, pak. Ga karuan sekali rasanya ?
Saya sempat bertanya2, kenapa Tuhan izinkan saya lolos. Kalau ga lolos kan ga nyesek2 amat ya, pak… tapi saya yakin ini adalah jawaban tegas dan tanda dari Tuhan bahwa kalau sekarang saya tidak bisa ke Jepang, itu bukan berarti krn Tuhan ga mampu kasih saya beasiswa, atau krn Tuhan ga kasih kemampuan ke saya utk saya sekolah lagi. Tapi bener2 krn Tuhan punya rencana lain yg melampaui batas pemikiran saya. Ini aja yg jadi penghiburan saya sekarang, pak
——————————-

Betapa berat bebannya saat ini. Namun terlihat:
• kebesaran jiwanya
• rasa kasih akan orang tuanya
• semangatnya
• kedewasaannya berpikir
• iman dan harapanya yang kokoh kepada Tuhan
• kesiapan hatinya menerima apa menjadi kehendak Tuhan
• … … … … …

Rasanya Filipi 4:13 sedang dia terapkan dalam hidupnya. Saya sendiri banyak belajar dari dia dalam hal ini.

Marilah kita sama-sama belajar terus di tengah badai hidup dan hal-hal yang tidak kita pahami untuk tetap bertahan dan tetap semangat serta kitapun berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

SELAMAT NATAL

Selamat beraktifitas…
Selamat melayani..

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Comments

comments