Wow Allah rindu akan dikau. Allah rindu kepada ku? Yes yes yes! Dia kangen kepada buatan tangan-Nya, dikau (Ayub 14:15). Aaahhh! Muskillah Sang Pencipta rindu kepada ku! Boleh jadi itu hanya ‘bunga tidur’ di siang bolong. Hai sobat! Bukan, itu bukan lamunan. Itu tidak juga khayalan bani Adam. Itu kenyataan, itu rintihan kalbu Sang Cinta. Seandainya Dia bersenandung, bisa jadi jeritan hati Farid Hardja sayup-sayup terdengar.
’Oh…aku rindu
Katakan padanya aku rindu Oh burung nyanyikanlah
Katakan padanya aku rindu
Aku rindu…’
Hati sanubariku merana karena rindu. (Ayub 19:27). Hati gundah gulana. Kalbu masygul. Sanubari merana.
Itu namanya baru rindu! Rindu Allah kepada dikau!
‘Bagai roti dan mentega’, cetus remaja zaman now, ungkapkan rindu hati. Tak terpisahkan, bersatu baru serasi. ‘Bagai amplop dan perangko’, kata zaman old. Tanpa yang satu, tak ada artinya yang lain. Dimanapun kekasihnya, dia dambakan selalu di sisinya. Tak terpisahkan, ingin selalu dekat, sedekat dan selengket gadget di tanganmu. Terasa ada yang hilang jika kau tak digenggam.
’Oh aku rindu
Biarlah cinta berjuta-juta menggoda jiwa
Biarlah hati berkeping-keping asal kau di sisiku
Oh aku rindu…’
Aaahhh, kalau boleh ada satu permintaan. Jika ada kesempatan ungkapkan isi kalbu. ‘Biarlah hati berkeping-keping asal dikau di sisiku!’ Di sisimu, itu dambaanku. Di sisimu, puaslah hatiku. Di sisimu, itulah arti hidupku.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (Yohanes 14:3).
Itu namanya baru rindu! Rindu Allah kepada dikau! Rindu menguasai lubuk hati. Kangen mengendalikan sanubari. Aaahhh tak sadar diri aku, karena rindu (Kidung Agung 6:12).
Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. (Lukas 13:34)
Biar terluka, asal dikau sembuh. Biarlah merana, asal dikau senang. Biar maut, kuhadapi. Nyawa melayang, tak apa. Asal, ya asal, engkau tenang di dekapan sayapku.
Itu namanya baru rindu! Rindu Allah kepada dikau!
Hai sobat! Dapatkah dikau rasakan rindu-Nya? Aaahhh, aku tertunduk. Aku terdiam. Aku gagap. Aku mengaku: ‘Aku tak dapat rasakan apapun, maaf!’ Masyaallah, hatiku kebas. Hatiku bak dibius tak merasakan apa-apa! Bersyukur jika hatimu masih tahap semut-semutan (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




