Kesadaran akan lingkungan sekitar. Kewarasan dalam mengalisa alam. Itu membuat manusia pintar. Cerdas sehingga bertahan hidup di alam liar. Manusia satu-satunya makhluk yang merasa paling pakar. Bukan saja ada kemampuan untuk merealisasikan yang samar-samar. Namun juga ada kecerdasan untuk berkelakar. Pintar, berkelakar, dan jangan lupa, pandai pula bermain gitar.
‘Aku berpikir. Maka aku ada!’ Keberadaan selaras dengan kesadaran. Kesadaran akan keberadaan membuat hidup ini berbeda. Bukan saja dapat menganalisa hal-hal yang nyata. Menggenggam apa yang di depan mata. Angan-anganpun mudah dipercaya. Yang akan datang. Yang belum terjadi sekarang. Hingga di dunia mendatang. Manusia hidup dengan sekarang dan yang akan datang. Nyata dan bayang-bayang. Duanya sama saja!
Dari manakah kecerdasan ini datang? Kemampuan yang tidak sembarang.
Manusia satu-satunya mahkluk yang terus berpikir. Piawai dalam mengkomunikasikan informasi.
Dari lukisan tangan di gua Chauvet-Point-d’Arc. Berangan-angan suatu waktu nanti di ujung sana. Dan setelah sekitar 30.000 tahun kemudian. Generasi yang datang belakangan. Ataupun siapa saja dapat menangkap pesan. Mereka dapat membaca dan menerka maksudnya. Lambaian tangan dari lukisan masa lalu. Seolah itu berkata: ‘Hai aku ada!’
Hingga Voyager Golden Record yang dibawa oleh pesawat angkasa Nasa. Voyager 1 membawa disk dengan data 116 gambar di dalamnya. Disertai dengan suara binatang, guruh, angin, dan nada alam lainnya. Serta tak tertinggal alunan musik gamelan dari Jawa. Berbagai irama dari beberapa negara. Dan tentu tak lupa musik klasik karya Johann Sebastian Bach yang mendunia.
Diperkirakan setelah 35 tahun mengangkasa. Dengan kecepatan lebih dari 62.000 km/jam. Pada bulan Agustus 2012 yang lalu. Bulan para pakar menggoreskan sejarah baru. Voyager 1 telah melewati batas tata surya. Belum ada yang tahu ada apa setelahnya. Pesawat itu sekarang melayang-layang entah sudah sampai di mana. Mengkhayal suatu waktu nanti di sana. Entah bagaimana. Akan ada yang menangkap pesannya. Dan mampu menganalisa datanya. Ataupun menerka kerinduan pengirimnya. Dan akirnya tahu itu dari dunia. Serta paham seruannya: ‘Hai aku ada!’
Baik dari era Zaman Batu Tua (Paleolitikum) seperti lukisan tangan di gua. Maupun di era sejarah modern semisal pesan dalam pesawat angkasa Nasa. Duanya tidak beda. Manusia rindu menyapa yang lainnya. Dan yakin ada sesuatu di luar sana. Seperti dapat melihat walau belum nyata. Percaya walau tak kasat mata. Dia tidak sendirian di dunia. Dari generasi ke keturunan berikutnya. Seakan semua berseru: ‘Aku tidak sendiri di alam semesta. Hai kamu yang di sana!’
Dari manakah kerinduan ini datang? Kecakapan yang tidak alang kepalang.
So GOD expelled them from the Garden of Eden. (Kejadian 3:23, the Message: Maka ALLAH mengusir mereka dari Taman Eden). He threw them out of the garden… (24: Dia melemparkan mereka keluar dari taman itu).
Mungkinkah begitu saja kerinduan ini datang? Tanpa proses evolusi yang panjang. Bukankah itu muncul karena kangen pulang? Bagai orang yang ditendang. Didorong dari belakang. Terbuang dari kandang. Mereka terusir dari kampung halaman. Daku dan dikau ada di negeri seberang.
Dan dan dan. Keinginan yang tak terucapkan. Kerinduan terdalam. Dari dulu hingga sekarang. Rindu pulang. Bagaimana mungkin lupa desa tempat kelahiran. Bukahkah begitu, kawan?
Segala usaha dilakukan. Pikiran dan daya nalar jadi berkembang. Kreatifitas bermunculan. Dari generasi ke zaman mendatang. Manusia terus berusaha untuk pulang.
Sadar dunia bukanlah kampung halaman. Ada sesuatu yang menanti di seberang. Bisa jadi, itulah pesan yang hendak disampaikan. Baik dari gua berupa lukisan tangan. Hingga keluar dari tata surya untuk menyampaikan nada gamelan. Berita yang seirama tak tertahankan: ‘Hai aku ada. Apakah kau ada di sana? Aku tersesat! Rindu kampung halaman.’
Kapankah kemampuan mengirim pesan itu bermula?
Para pakar angkat bahu. Namun kelihatannya semua setuju. Kemampuan itu tiba-tiba muncul saja begitu. Bagaimana kok bisa seperti itu? Tidak ada yang tahu. Lalu?
Pakar cenderung percaya. Ada kejadian yang tiba-tiba. Seketika ada perubahan luar biasa. Terjadinya mutasi genetik tanpa direka-reka. Begitu saja tanpa disengaja. Mutasi itu merubah sel-sel otak dan jaringan syaraf. Perubahan ini memungkinkan proses berpikir begitu maju yang tak dikenal sebelumnya. Bahasa dan komuikasi, dua hal yang betul-betul baru. Keduanya tidak ada di lainnya ( Sapiens, Harari).
Seakan sambil guyonan. Harari menyebut kejadian tiba-tiba itu sebagai ‘Mutasi Pohon Pengetahuan!’ Sindirian bagi yang percaya ada Tuhan.
Apapun sebutannya. Sejarah berbicara. Gua dan angkasapun turut bersuara. Mutasi pohon itu membuat turunan Adam merana. Dari dahulu kala. Sekarangpun sama saja. Semuanya rindu pulang ke Taman Sorga. Nada di hati tak tahan untuk berseru: ‘Hai aku ada! Apakah dikau ada di sana?’ Daku perlu penunjuk jalan. Selamat jalan. Moga selamat sampai tujuan! (nsm).
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |


