Daku tidak mengerti karena memang sulit dipahami! Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? DIA tega membiarkan makhluk yang dijuluki God’s image, representasi DIA di muka bumi, bertekuk lutut sendirian dikadali oleh si pengawal pribadi. Tergoda oleh bujuk rayu sang kerub yang berambisi menduduki kursi Sang Ilahi (Yehezkiel 28:16; Yesaya 14:13,14).
Kawan! Dikau boleh-boleh saja gregetan, tidak sabar, melihat kelicikan si ular. Heran, mengapa Hawa dibiarkan sendiri menghadapi godaan. Apakah tidak ada alternatif lain yang lebih elegan dari adegan yang menjadi cikal bakal keruwetan peradaban?
Bagaimana mungkin Sang Pencipta dipermalukan oleh makhluk cilik? Tak berkutik di hadapan si penipu licik. DIA tidak apa-apa, jika dikau yang membaca peristiwa kejatuhan manusia di kitab Kejadian pasal 3, akan ada kesan meragukan kemampuan Sang Maha Kuasa. Bak berlogika, kok begitu saja tidak dapat menjaga!
Tak terbayangkan, DIA yang dijuluki: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih..’ (Keluaran 34:6) membiarkan adegan berakhir dengan tragedi. Kemesraan berubah dengan sekejab. Dada sesak, harapan menjadi gelap! Bukankah itu dikau dapat rasakan bahkan hingga sekarang ini?
Bagaimanakah perasaan hati-NYA, ketika manusia pertama tergoda untuk melawan titah-NYA? Yang dibangga-banggakan, yang dijagokan, yang dipilihara bak biji mata-NYA (Zakharia 2:8), siapa sangka lunglai tak berdaya dipermalukan di depan mata.
Kalau saja dikau sempat walau hanya sesaat, mendengarkan DIA curhat. Bercerita sambil mengungkapkan apa yang membuat hati-NYA penat. Dikau akan tahu mengapa emosi-NYA meluap-luap. Kalau saja dikau dapat menangkap nada geteran apa yang diucapkan, meraba makna di balik setiap ungkapan. Betapa hancur hati-NYA bak kala kekasih hati memalingkan muka ke yang lainnya.
Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap. (Yesaya 42:14)
Betapa sabarnya Sang Pencipta! Bisa-bisanya mengendalikan diri menyaksikan alur cerita menuju malapetaka. Menahan gejolak hati walau kekasih hati selingkuh di depan mata. Kalau daku dalam posisi ini, ya dapatlah dimengerti! Karena mungkin tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi DIA?
DIA menahan diri, membiarkan daku mengikuti kata hati. Ibarat kisah Anak Hilang (Lukas 15:11-32) yang menuntut warisan untuk dibawa pergi. Sang bapa merelakan tuntutan si anak yang tak tahu diri. Si anak telah kehilangan hati nurani. Akhir kisahnya mempertontonkan kesabaran Sang Ilahi.
Sebagaimana Adam Hawa meninggalkan Taman Sorga, senada dengan emosi itu si anak durhaka meninggalkan rumah bapanya. Anak yang dibesarkan dan dikasihi sejak orok, dibanggakan sebagai penerus keturunan. Siapa sangka setelah dewasa berbalik melawan!
Dikau sebagai manusia, tentulah dapat merasakan hancurnya hati kala anak-anak melawan orangtua. Sepertinya semua capaian, karier, prestasi, bahkan medali rasanya percuma, sia-sia! Namun demikian, di lubuk hati terdalam, walau harapan kelam, masih berharap si anak suatu hari pulang!
“… Dari jauh bapanya sudah melihat dia, dan timbullah belas kasihan dalam hatinya. Ia lari mendapatkan anaknya dan memeluk serta menciumnya. (Lukas 15:20 FAYH)
Siang malam, sepanjang zaman, bak si anak durhaka, Sang BAPA merindukan daku dan dikau pulang! Hati-NYA yang meluap-luap dengan kasih mendorong DIA megap-megap, tidak mungkin tidak, merangkul dan menciummu yang pulang.
Alih-alih DIA membasmi Adam Hawa dan mulai lagi dengan yang baru, DIA rela bermasa-masa sabar berdiri di depan pintu, menanti daku dan dikau pulang! Pandangan-NYA jauh ke depan, walau baru bayangan, DIA sudah mengenal langkahmu untuk pulang!
Sekarang yang membingungkan, mengapa harus pulang! Daku sudah at home di negeri seberang. Tidak ambil pusing, hidup sehari-hari pun sudah membuat pening. Sebagaimana di Taman Eden, begitu juga di zaman modern, akhirnya semua juga berpulang kepada pilihan Puan dan Tuan! Mau pulang ataukah betah di negeri orang? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


