535. Babel 2.0

Viewed : 65 views

“Tiga abad peradaban mengandalkan rasio, DIA disingkirkan dari puncak komando. DIA legowo, membiarkan manusia menuhankan ego.”

Sejak fajar Pencerahan menyingsing hingga abad ke-20, pertentangan iman dan sains terukir kelam dalam sejarah peradaban. Perseteruan dua ranah ini bahkan disebut sebagai ‘konflik abadi antara agama dan sains’ (Draper-White Conflict Thesis) pada abad ke-19—sebuah perseteruan yang bayang-bayang kelamnya masih bergema hingga abad ke-21.

Pertengahan abad ke-19 dapat dikatakan sebagai puncak perseteruan antara iman dan sains. Sebuah kurun yang menuntut peradaban menjatuhkan pilihan: berpihak pada penjelasan ilmiah atau teguh memeluk dogma tradisi ‘penciptaan’ atas asal-usul kehidupan. Iman dan sains dipandang saling bertolak belakang, tak mungkin lagi berjalan seiring sejalan.

Pada tahun 1859, Charles Darwin menerbitkan ‘On the Origin of Species’— karya yang mengguncang panggung sains sekaligus meretakkan sendi-sendi iman. Mahakarya ini lahir dari ekspedisi ilmiah selama lima tahun mengarungi penjuru bumi, terutama di Kepulauan Galapagos.

Sebagai seorang naturalis, biolog, dan geolog, ia menyingkap jejak evolusi hayati hingga membentuk rupa kehidupan masa kini. Buku tersebut menguraikan peralihan spesies secara perlahan dari masa ke masa melalui jemari seleksi alam.

Selama seribu tahun menjelang Era Pencerahan, penafsiran atas alam raya tunduk pada dogma gereja. Manusia diyakini telah hadir dalam rupa utuhnya sejak awal mula—diciptakan secara khusus dan seketika (special creation), terpisah dari martabat satwa, selaras dengan kesaksian Kitab Kejadian.

Sebaliknya, Darwin dengan meyakinkan memaparkan bahwa hadirnya manusia merupakan buah dari evolusi bertahap, berbagi leluhur yang sama dengan dunia satwa—khususnya primata. Manusia dipandang sebagai hasil tempaan seleksi alam yang membentang selama jutaan tahun.

Lewat karya keduanya, ‘The Descent of Man’ (1871), ia menegaskan bahwa asal-usul manusia tak berbeda dari dunia satwa: berasal dari wujud purba yang lebih sederhana. Ringkasnya, manusia segaris keturunan yang sama dari leluhur kera!

Sebagaimana halnya dunia satwa, manusia mengarungi hidup tanpa roh, jiwa, ataupun maksud Ilahi. Keberadaannya sekadar buah rekayasa hukum alam yang acak dan murni tanpa tujuan. Semesta seperti mesin biologis raksasa yang menapis kehidupan secara random lewat proses tanpa panduan (unguided process).

Charles Darwin berpulang pada tahun 1882, namun gagasan evolusinya telah merombak wajah biologi dan menjadi pilar sains modern. Kendati ia tak pernah secara terbuka mengaku sebagai ateis, namun pemikirannya memicu gelombang besar materialisme di kalangan akademisi dan cendekiawan.

Sebelum Era Pencerahan, kosmologi Kristen mengkaitkan alam fisik dan alam roh dalam jalinan yang rapat. Namun, tatkala materialisme merasuk ke jantung world view peradaban antara abad ke-18 hingga ke-20, narasi supranatural dicap para cerdik pandai sebagai sisa kebudayaan prasains. Segala yang tak sanggup diuji di laboratorium atau dinalar oleh sains sekadar direndahkan sebagai mitos atau takhayul belaka.

Sebagaimana drama The Third Rebellion~Menara Babel, peradaban secara mentah menepis rancangan YHWH (Kejadian 11:4). Demikian pula sepanjang tiga abad terakhir, manusia secara sadar dan terang-terangan mengesampingkan hadirnya TUHAN, lalu berpaling ke akal untuk menyingkap rahasia kehidupan.

Dampak keangkuhan peradaban, bak Babel versi Modern ~ Babel 2.0, sepanjang 300 tahun itu sungguh dahsyat! Gelombang ateisme menerjang panggung akademis. Bagi seorang saintis, meyakini mukjizat seperti ‘air dapat menjelma anggur’ dianggap amat absurd, hingga berujung cemoohan dari sejawat.

Daku, dikau, hingga anak cucu Adinda tak lepas dari gempuran terselubung sejak dini dari world view Babel 2.0—bahwa DIA tak lagi dibutuhkan dalam mengarungi hidup. Tanpa sadar, benak Puan dan Tuan hingga keturunan dicekoki bisikan zaman: ‘Masa depanmu ada di tanganmu sendiri!’

Aaahhh… inilah yang membuat daku geleng-geleng kepala tidak paham. Kendati peradaban telah tenggelam sedemikian dalam, namun: ‘DIA tetap diam..!’— membiarkan peradaban berjalan menuruti keinginan hati yang kelam (Roma 1:24). (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments