“Dua worldview berbenturan: yang satu menengadah menatap langit metafisika, yang lain menunduk membedah hukum alam. Dari benturan itu lahir dilema terbesar zaman: apakah iman dan sains dapat bergandengan tangan?”
Institusi gereja yang mengarahkan langkah peradaban hampir seribu tahun lamanya berhadapan dengan guncangan besar kala Abad Pencerahan (Enlightenment Era, EE) melanda Eropa pada abad ke-17. Benturan paling tersohor antara dogma tradisi dan sains mewujud pada gagasan Galileo. Pandangan heliosentrisnya dianggap menantang doktrin gereja yang menggenggam kokoh kosmologi geosentris Ptolemaios—keyakinan purba bahwa bumilah pusat jagat raya.
Bukan tanpa alasan gereja berdiri begitu gigih mempertahankan pendiriannya. Aristoteles (abad ke-4 SM) telah menegaskan bumi sebagai pusat kosmos, dipagari langit berlapis-lapis yang berputar mengelilinginya. Pandangan ini lantas disempurnakan oleh Ptolemaios (±150 M). Gereja merangkul kosmologi ini sebab selaras dengan pengamatan kasat mata, sekaligus seirama dengan tafsir harfiah Kitab Suci (Mazmur 104:5; Yosua 10:12–13).
Muara dari perdebatan sengit ini terukir abadi dalam sejarah peradaban: sains keluar sebagai pemenang! Namun, luka dari pertarungan berdarah antara gereja dan sains meninggalkan noda hitam—membayangi keharmonisan relasi teologi dan peradaban hingga berabad-abad ke depan.
Revolusi ilmiah melahirkan kesadaran baru akan otoritas sains dalam menyingkap rahasia alam. Segala sesuatu di bawah matahari diyakini dapat diurai lewat kaidah ilmiah yang memuaskan akal. Hal-hal di luar cakupan sains modern dianggap sebatas mitos ataupun legenda.
Alkitab yang sarat pandangan alam metafisika dihantam gempuran dari pelbagai penjuru, hingga perlahan ditinggalkan oleh kaum cendekiawan. Puncaknya, perseteruan antara gereja dan sains berganti bentuk secara drastis—menghadapkan manusia pada pilihan biner: iman atau sains!
Iman dan sains dipandang tak mungkin lagi hidup dan berkembang berdampingan. Pilihan seolah menyempit: memeluk iman dengan mempercayai hal-hal yang tak masuk di akal dan tanpa bukti meyakinkan, atau segala peristiwa hanyalah dinamika alam yang sepenuhnya dapat diurai oleh ilmu pengetahuan.
Sejak EE hingga abad ke-20—tiga abad berturut-turut—nakhoda peradaban beralih ke genggaman sains. Dalam rentang waktu ini, melesat pesat mazhab filsafat yang meyakini bahwa hakikat realitas semata-mata adalah materi, yang seluruh fenomenanya sanggup diurai oleh akal budi: itulah paham materialisme.
Pelbagai fenomena yang masih diselimuti ‘misteri’ dianggap sebatas persoalan waktu—ilmu pengetahuan belum cukup matang untuk menyingkapnya. Seiring bergulirnya zaman, apa yang dahulu disangka mukjizat, seperti sambaran petir, kini sanggup dijelaskan secara presisi lewat metode ilmiah, bahkan mampu direka ulang di dalam laboratorium.
Dengan cepat, narasi Kitab Suci mengenai alam metafisika runtuh ditelan gelombang zaman. Mukjizat dicap sebatas takhayul—mitos purba yang hanya cocok bagi peradaban yang belum dewasa.
Para teolog terkemuka di era pergolakan iman dan sains ini tak tinggal diam berhadapan dengan gempuran yang datang bertubi-tubi. Berlandas niat menyelamatkan gereja, mereka berikhtiar menafsir ulang Kitab Suci—menyelaras maknanya dengan derap ilmu pengetahuan modern.
Kelak, sejarah mengukir lahirnya teologi liberal yang merebak pesat sejak penghujung abad ke-18 hingga abad ke-19. Aliran ini mengemuka sebagai jawaban atas gelombang perubahan dahsyat yang ditiupkan oleh EE.
Pola pikir peradaban pada era ini dipengaruhi kuat oleh rasionalisme, materialisme, sains modern, serta skeptisisme terhadap mukjizat. Para teolog dibayangi kecemasan: jika Kekristenan tetap disajikan dalam wujud tradisional, ia akan dianggap tak lagi relevan oleh dunia modern.
Pergolakan antara iman dan sains ini merombak cara pandang terhadap kitab suci. Jika dahulu Alkitab diyakini sebagai Firman Allah yang memangku otoritas ilahi, pandangan itu perlahan bergeser—dianggap sekadar himpunan kesaksian iman umat Israel dan gereja mula-mula yang lahir di dalam konteks sejarah tertentu.
Dahulu, mukjizat diyakini sungguh-sungguh terjadi dalam panggung sejarah. Demi merangkul benak masyarakat modern, mukjizat lantas ditafsir ulang—dipahami sebagai bahasa simbolis, rekam pengalaman religius, atau cara purba memotret perjumpaan dengan Allah.
Aaahhh… ranah spiritual perlahan tersingkir dari pemahaman umat! Sebuah kehilangan mahabesar dalam memahami worldview Alkitab: pupusnya misteri yang menyelimuti relasi antara Puan, Tuan, dan Sang PENCIPTA. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

