536. Padamnya Dimensi Gaib

Viewed : 85 views

“Bermula dari gugatan rasio atas mukjizat, berlanjut pada redupnya dimensi adikodrati dari jiwa peradaban, dan bermuara pada skeptis-nya generasi muda terhadap realitas di luar hukum alam.”

Hempasan Era Pencerahan 300 tahun silam mengguncang fondasi tradisi kekristenan—tradisi yang selama 1000 tahun menuntun arah peradaban. Disrupsi ini memantik gelombang pemikiran baru yang keluar dari ‘pakem’ iman terdahulu. Segala hal yang dahulu diterima tanpa ragu, kini digugat dari hilir hingga hulu.

Tak cuma kelogisan Kitab Suci yang digugat demi keselarasan sains, para sarjana bahkan membongkar asal-usul naskahnya lewat textual criticism. Boleh dikata, sepanjang rentang masa itu, Alkitab dihujani serangan bertubi-tubi dari pelbagai penjuru disiplin ilmu.

Para teolog tak tinggal diam; mereka sigap menyikapi gejolak peradaban. Teolog liberal berikhtiar merespons gugatan sains terhadap peristiwa Kitab Suci yang dianggap menerabas hukum alam. Sebab bagi sains, hukum alam telah menjadi rujukan utama dan pertama dalam menafsirkan alam semesta.

Ikhtiar menyelaraskan narasi yang menyimpang dari kaidah sains justru membidani lahirnya naturalisme metafisik. Paham ini mereduksi pengalaman rohani, gejolak jiwa, hingga kesadaran eksistensial manusia sebatas dinamika hormon serta reaksi fisika-kimiawi semata.

Di satu sisi, gagasan itu memosisikan Kitab Suci sebagai objek bedah. Para sarjana dari pelbagai disiplin seolah meletakkan Alkitab di bawah mikroskop laboratorium. Didorong rasa ingin tahu—baik oleh pakar yang memburu ‘cacat’ maupun yang merindukan kebenaran—berduyun-duyun para ahli membandingkan Alkitab dengan temuan arkeologi serta naskah kuno di kawasan Timur Dekat (Ancient Near East).

Mungkin sepanjang sejarah peradaban, dari era purbakala hingga abad-abad mendatang, Alkitab menjadi satu-satunya naskah kuno yang dihujani kritik setajam ini. Namun, badai kritik ini justru berbuah manis: di kemudian hari lahirlah kesadaran bahwa demi menyelami Alkitab, konteks zaman tatkala naskah itu ditulis wajib diindahkan.

Sisi lainnya, respons radikal sebagian teolog demi menyelaraskan Alkitab dengan nalar modern dikenal sebagai upaya membumikan narasi supernatural. Usaha menanggalkan unsur adikodrati ini dilakukan agar Alkitab dapat diterima manusia modern—meski gagasan ini jelas bertentangan dengan cara pandang para penulis Alkitab itu sendiri.

Era Pencerahan membedah peristiwa alam berlandaskan hukum alam—yang kelak dikenal sebagai metode ilmiah. Pendekatan ini sungguh memikat. Namun peradaban melangkah terlalu jauh: tatkala segala fenomena dianggap tuntas dijelaskan secara ilmiah dan yang diakui nyata hanyalah alam-materi. Dari sinilah rahim worldview materialisme melahirkan eranya.

Menghadapi gempuran materialisme, para teolog liberal merajut ulang narasi supernatural Alkitab. Mukjizat—yang sedianya nyata dalam panggung sejarah—kini dipangkas sekadar simbol iman atau ekspresi pengalaman spiritual umat. Alhasil, Alkitab kehilangan kedalaman kosmis dan metafisikanya, mereduksi iman menjadi sebatas sistem etika-moral belaka.

Kompromi materialisme dalam penafsiran Alkitab membidani lahirnya sekularisme. Agama dikerdilkan sekadar urusan privat. Negara, ruang akademis, hingga kebudayaan tak lagi memerlukan kehadiran Sang Pencipta. Perlahan namun pasti, sepanjang 300 tahun terakhir, DIA disisihkan dari panggung publik—seolah peradaban sanggup melangkah sendiri tanpa lagi mendambakan keterlibatan-NYA.

Worldview manusia modern teguh meyakini bahwa hanya materi yang benar-benar nyata. Jiwa disisihkan sebagai ilusi, dan entitas tak kasat mata dianggap sekadar mitos. Mukjizat ditolak lantaran berlawan dengan hukum alam. Sementara harapan akan kehidupan setelah kematian dicap sebagai candu ataupun pelarian bagi jiwa yang lemah yang tak siap menghadapi kenyataan.

Tak usah geleng-geleng kepala jika mendapati generasi muda tak lagi mempercayai adanya surga atau neraka. Sebab, begitulah sains dan dunia medsos membombardir mereka dengan informasi tanpa jeda. Jangan terperanjat jika Adinda mendengar ajaran tentang mukjizat dirasionalkan sehingga nyaman di telinga manusia modern didengungkan di dalam gedung gereja!

Aaahhh.. kini, masa depan iman the next generation ada di pundak Puan dan Tuan sebagai orang tua. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments