“Ketika fajar rasio menyingsing terlalu terik, bayang-bayang alam roh perlahan memudar. Di hadapan takhta akal yang dingin, mukjizat ditarik mundur, dan misteri dipaksa padam.”
Hampir seribu tahun lamanya, peradaban Eropa digenggam oleh gereja. Sekian lama pula lembaga ini mengemudikan hajat hidup khalayak luas. Gereja tidak sekadar menggembalakan iman umat, melainkan merayap ke seluruh urat nadi kehidupan—bahkan memegang kendali penentu dalam tampuk politik pemerintahan.
Kuasa gereja begitu perkasa, hingga acap kali menundukkan wewenang penguasa. Seiring melimpahnya kekuasaan di tangan, lembaga ini perlahan tergelincir menyimpang dari panggilannya. Korupsi merebak, doktrin pengampunan dosa (indulgensi) disalahgunakan, bahkan takhta gereja pun ‘bermain mata’ dengan penguasa demi faedah sesaat.
‘Api dalam sekam’ akibat kemelut ini cepat membara dan menjalar ke mana-mana. Pergumulan internal di kalangan rohaniwan akhirnya meledak! Reformasi Protestan pun meletus pada abad ke-16—sebuah gerakan pembaruan dari dalam guna meluruskan kembali haluan yang menyimpang.
Dipelopori oleh Martin Luther, aksi memaku 95 tesis di gerbang Gereja Kastil Wittenberg pada 31 Oktober 1517 terukir dalam tinta emas sejarah. Momen bersejarah ini menandai fajar pembaruan gereja—gerakan yang tegas menepis setiap tradisi yang menabrak kebenaran Firman Tuhan.
Ia menyerukan agar gereja berpulang kepada Firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi. Sola Scriptura— Hanya Kitab Suci. Dialah panduan tertinggi dalam iman dan tatanan hidup gereja. Ia pun menggugat praktik penjualan indulgensi. Sola Fide— Hanya oleh iman. Manusia dibenarkan di hadapan Allah semata-mata lewat iman.
Ironisnya, belum tuntas gerakan pembaruan tersebut, peradaban Eropa dihantam gelombang dahsyat Abad Pencerahan. Era ini justru berbenturan keras dengan pilar-pilar utama Reformasi. Maka selama beberapa abad setelahnya, perang terbuka antara iman dan ilmu pengetahuan mewarnai perjalanan peradaban—bahkan gaungnya terus bergema hingga abad ke-21.
Dunia teologi abad ke-17 hingga 19 berguncang hebat disapu badai Pencerahan. Arus pemikiran yang kelak dinamai teologi liberal berikhtiar ‘mendamaikan’ sains dan realitas empiris dengan iman. Pada era ini, nalar dinobatkan sebagai tolok ukur tertinggi. Ranah mukjizat pun ‘dijinakkan’ agar selaras dengan akal.
Disebut liberal karena aliran ini menanggalkan pasung dogma tradisional. Doktrin-doktrin iman tak lagi kebal uji. Ia kini ditakar lewat nalar, sains, penelusuran sejarah, kritik sastra, hingga kebenaran pengalaman insani.
Spektrum teologi liberal amat membentang dan beraneka corak. Namun dampak paling menohok bagi nalar umat adalah tersingkirnya alam supranatural. Sebuah kompromi ‘terpaksa’ demi menyelaraskan narasi Alkitab dengan rasio modern. Tanpa disadari, ketundukan ini mempreteli denyut supranatural dan metafisika dari dada Alkitab.
Surga dan neraka, alam roh, hingga mukjizat dipandang sebatas mitos oleh para teolog liberal abad ke-20. Semua itu dianggap sekadar wahana penyampai nilai etis bagi masyarakat purba yang hidup dalam bingkai mitologi.
Tak heran bila Puan dan Tuan masih merasakan jejak cara pandang ini pada kaum tamatan sekolah teologi. Alih-alih mengulas alam tak kasat mata, fokus warta mereka bergeser pada urusan bumi: kemiskinan, keadilan, serta pembebasan manusia dari belenggu kebodohan.
Tentu tak salah mengulas kehidupan nyata—bahkan isu-isu itu semestinya menjadi wujud nyata dari iman. Namun, daku dan dikau telah kehilangan kacamata alam supranatural dalam kaitannya dengan realitas hidup sehari-hari.
Aaahhh…, hampir 300 tahun terakhir ini, pemahaman akan alam roh redup dari pangkuan gereja. Misteri disingkirkan, perkara teologi kini dibedah lewat pisau rasionalisme dan sains—mana yang tak selaras, dicap sebagai mitos dan takhayul belaka. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


