“Tatkala cinta direduksi sekadar gejolak hormon dan doa diciutkan sebatas percikan elektrokimia, sains tidak sedang menuntun jiwa—ia sedang mengubur alasan mengapa manusia ada.”
Jika the third rebellion dalam Kejadian 11 memperlihatkan peradaban yang terang-terangan enggan tunduk kepada YHWH—menentang titah-Nya untuk berpencar memadati bumi (Kej. 11:4). Perlawanan itu diwujudnyatakan lewat terobosan material dan teknologi konstruksi bangunan tinggi yang puncaknya berambisi “mencakar” langit.
Maka sepanjang 300 tahun terakhir, peradaban melangkah kian jauh: kehadiran-NYA tak lagi diindahkan lantaran segala fenomena alam dianggap tuntas dijelaskan sains. DIA tersingkir, dicap sekadar mitos era pra-sains. Bahkan, mereka yang masih memelihara iman dituduh sebagai jiwa-jiwa lemah yang mendambakan tempat pelarian dari kejamnya kenyataan.
Tak berlebihan jika dikatakan the third rebellion purba menemukan wujud barunya di era ini—lewat berkembang pesatnya sains dan teknologi. Setali tiga uang dengan Kejadian 11, manusia modern menyisihkan DIA dari panggung peradaban.
Di era modern, sains menjelma satu-satunya tolok ukur yang digenggam erat oleh peradaban untuk menyingkap segala fenomena alam serta kehidupan. Hukum alam dipandang sebagai sistem tertutup dan deterministik—sebuah closed system of cause and effect. Dengan kata lain, peradaban berpatok tegas: intervensi Ilahi mutlak ditanggalkan dalam menafsirkan realitas.
Demikianlah, ketika mereka menjauhkan diri dari Allah dan bahkan tidak mau mengakui-Nya, Allah membiarkan mereka melakukan apa saja yang terlintas dalam pikiran mereka yang jahat itu. (Roma 1:28 FAYH)
Sejak tiga abad silam, perlahan namun pasti, peradaban dikemudikan oleh alam pikir yang berpusat pada ego manusia. Seturut pilihan itu, DIA mempersilakan manusia melangkah mengikuti seleranya. Nafsu tersebut kian menjerumuskan manusia ke dalam pencarian jati diri yang tak berdasar—sebuah sumur tanpa dasar, a bottomless pit.
Dalam perkembangannya sepanjang abad ke-18 dan 19, hukum alam disanjung bak setara “Tuhan” dalam menafsirkan alam semesta—sebuah kedaulatan yang dikenal sebagai Methodological Naturalism. Fenomena alam dipandang sekadar pertautan sebab-akibat fisik. Di luar itu, mutlak dicap takhayul.
Namun, Naturalisme Metafisik yang muncul kemudian melangkah kian jauh: menegaskan bahwa hanya entitas fisik-materi yang sungguh-sungguh ada. Segala dimensi transendental atau spiritual direduksi sekadar halusinasi atau bentukan psikologis semata.
Tak berhenti di situ, corak pikir ini melaju kian liar hingga pada abad ke-20 merebaklah paradigma Reduksionisme atau Fisikalisme. Sebuah worldview yang memandang segala yang ada pada hakikatnya bersifat fisik—atau bertumpu sepenuhnya pada keadaan materi. Dengan kata lain, seluruh realitas kehidupan diciutkan sekadar menjadi peristiwa fisik belaka.
Proses pikir, misalnya, diringkas sekadar dinamika elektrokimia pada jaringan neuron yang tunduk pada hukum fisika. Dengan begitu, kesadaran, kehendak bebas, emosi, bahkan dalamnya pengalaman religius diurai tuntas sebagai hasil proses fisik di dalam otak.
Melalui kacamata ini, pengalaman mistis, gelisah cemas, hangatnya kasih, hingga kesadaran (consciousness) diciutkan sekadar percikan neurotransmiter, gejolak hormon—seperti oksitosin atau dopamin—serta reaksi elektrokimia otak. Bahkan yang luar biasanya: fenomena psikis tersebut sanggup diduplikasi di laboratorium hanya lewat rekayasa dinamika hormon.
Di bawah cengkeraman worldview reduksionisme, manusia pada hakikatnya dicap sekadar organisme biologis—dikemudikan oleh otak lewat jejaring saraf ke seluruh tubuh melalui denyut elektrokimia. Ujung dari paham ini amat kelam: manusia kehilangan pegangan makna hidup!
Sungguh, ini kehilangan yang amat besar! Sains memang mumpuni mengurai bagaimana
sesuatu menjadi ‘ada’ melalui mekanisme alam. Namun, ia mendadak tumpul tatkala dihadapkan pada pertanyaan pamungkas: “Mengapa sesuatu itu ada?”
Aaahhh… sains telah mereduksi keberadaan manusia sekadar proses biokimia dan fisika semata. Bayangkan bila kemajuan teknologi yang sedemikian dahsyat tergenggam di tangan peradaban yang nirmakna: bukankah peradaban tengah berada di jurang malapetaka? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
