520. The Original Plan

Viewed : 15 views

“Sejarah bukan pengembaraan tanpa arah, melainkan lingkaran kepulangan ke RUMAH; di mana rancangan-NYA bermula, tertunda, dan akhirnya sempurna!”

Entah apa yang memicu mulanya, atau rahasia apa yang menggerakkan hati-NYA; yang pasti, daku dan dikau telah hadir di panggung peradaban. Apa pun ketetapan Sang PENCIPTA, keberadaan Adinda bukanlah sebuah kebetulan tanpa makna. Jika manusia fana saja bertindak demi sebuah tujuan, apalagi DIA, Sang Maha Bijaksana!

Dari fragmen the first and second rebellion, tersiratlah seutas benang merah: DIA berkehendak agar insan menjadi layak menghuni Taman Kudus. Sebuah kerinduan agar Adam dan Hawa mendiami rumah-NYA, berdampingan dengan entitas dari dimensi seberang. Di sana, makhluk dari dua alam duduk tentram, bercengkerama tanpa batas di hadirat-NYA, di bumi. Inilah rancangan mula: the original plan!

Melalui mandat untuk beranak cucu, sejatinya Taman Eden akan mengembang ke segala penjuru hingga melingkupi seluruh permukaan bumi. Kawasan di luar taman pun perlahan terserap dalam suasana Kerajaan Ilahi. Sejak awal, kerinduan-NYA adalah agar manusia mengolah dan menyulap bumi serupa alam surgawi.

Namun, apa hendak dikata! Rancangan mula itu seolah patah di tengah jalan: the original plan goes wrong!

Dalam fragmen the second rebellion di Pasal 6 ayat 1, muncul istilah anak-anak Allah. Sebuah bentuk jamak yang menegaskan bahwa mereka bukan hanya satu pribadi, melainkan sebuah kaum. Entitas dari dimensi tak kasat mata—anak-anak sekaligus anggota keluarga-NYA di alam non-fisik—bergerombol memberontak.

Sementara itu, imbas dari the first rebellion, manusia terpelanting dalam keterasingan; terputus dari hadirat-NYA, terasing dari Sang Sumber HIDUP. Sempurnalah sudah: gagasan agung itu bak gugur sebelum berkembang. Redup sebelum sempat menyala, rancangan-NYA seakan kandas sebelum benar-benar bermula!

²⁰Murka TUHAN tidak akan surut, sampai Ia telah melaksanakan dan mewujudkan apa yang dirancang-Nya dalam hati-Nya; pada hari-hari yang terakhir kamu akan benar-benar mengerti hal itu. (Yeremia 23)

Selebihnya, setiap narasi Alkitab adalah jerih payah perwujudan rancangan mula: memulangkan manusia ke dalam dekapan keluarga-NYA, bersanding dengan makhluk adikodrati yang setia. DIA tidak pernah, dan tidak akan pernah, surut dari niat purba-NYA.

Pada pengujung masa, Sang SAUDARA (Iberani 2:11) tidak segan menyapa Anda sebagai kerabat; sebab sejatinya kita adalah anak-anak Allah, selaras rancangan-NYA sejak semula. Rasul Yohanes pun tertegun takjub menghadapi fakta ini: bahwa daku dan dikau benar-benar diakui sebagai anak-anak-NYA (1 Yohanes 3:1). Sebuah martabat mula yang kini dipulihkan kembali.

Sebutan “anak” ini hadir sebagai pengingat: sejak awal DIA rindu dikau dan daku bernaung di rumah-NYA, menyandang predikat sebagai anggota keluarga yang terkasih. Demikian pula hakikat bagi anak-anak dari dimensi seberang; sebuah kesatuan rumah tangga semesta yang melampaui batas fisik dan dimensi.

Mungkinkah itu sebabnya Sang SAUDARA berujar: jika satu orang bertobat, anak-anak dari dimensi seberang bertempik sorak (Lukas 15:10)? Mereka bersukacita karena satu lagi saudara telah pulang ke dekapan BAPA.

Di mana rekonsiliasi mewujud, di situ semesta bersukacita! Alangkah indahnya jika saudara yang puluhan tahun membisu, kini kembali merangkul dan saling memaafkan dalam haru. Bumi bergetar menyambutnya, langit pun bergemuruh ria; sebab satu langkah lagi, maksud dari niat mula sedang digenapi!

Bak keluarga yang broken home, kini perlahan namun pasti mulai menyatu kembali. DIA rindu anak-anak yang terhilang segera menapak jalan pulang. Inilah alasan utama mengapa daku dan dikau hadir di penggalan waktu dan era ini: agar sebanyak mungkin “saudara” lainnya menemukan arah pulang, melalui jalinan relasi denganmu, Adinda, anak-anak-NYA.

Aaahhh… entahlah, semua ini terasa terlampau indah untuk menjadi nyata: too good to be true! Namun, cepat atau lambatnya perwujudan the original plan kini tergeletak di tangan Tuan dan Puan. Walau mungkin merasa tak berarti, nyatanya hidupmu, Adinda, sungguh amat dibutuhkan di era ini! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments