Sebagai orang percaya, mata kita saat ini pasti akan mengikuti perkembangan apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini. Sebuah kerinduan yang laten akan mewujudnya pengharapan kita akan apa yang akan terjadi di masa depan, Maranatha.
Namun juga betapa mudahnya kita mengikuti arus narasi dari berita-berita yang kita dengar, dan barangkali mereka mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Kita perlu terus mempertanyakan setiap berita yang muncul, dan dengan hati-hati kita perlu melakukan konstruksi ulang akan setiap informasi yang kita peroleh.
Pengalaman peristiwa C19 beberapa tahun lalu memberikan pelajaran bagi kita, bahwa sebuah agitasi ketakutan sanggup membuat seluruh dunia harus tunduk kepada sebuah narasi dan protokol kesehatan yang jahat.
Apa yang kita lihat saat ini, dalam perang Israel + USA vs Iran, telah menjadi fokus perhatian kita, dan seolah mendorong kita untuk berpihak ke salah satu pihak. Sangat manusiawi. Tetapi bagaimana kita bisa mencernanya di dalam terang cahaya kebenaran Kristus?
***
Sejarah selalu berulang.
Demikian juga kita mencatat di dalam kita Perjanjian Lama, bagaimana bangsa Israel jatuh lagi dan jatuh lagi ke dalam kejahatan yang luar biasa, sebelum akhirnya mengalami penghukuman. Nabi Yehezkiel, yang hidup di dalam pembuangan, mencatat semua :
Yehezkiel 5:6-7 “Tetapi ia menentang peraturan-peraturan-Ku dengan melakukan kefasikan
lebih dari pada bangsa-bangsa, dan menentang ketetapan-ketetapan-Ku lebih dari pada
negeri-negeri yang di sekitarnya; sebab mereka menolak peraturan-peraturan-Ku dan tidak
kelakuanmu menurut ketetapan-ketetapan-Ku. Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh
karena kerusuhanmu lebih jahat dari pada bangsa-bangsa yang di sekitarmu dan kamu tidak
kelakuanmu menurut ketetapan-Ku dan tidak melakukan peraturan-Ku, bahkan kamu tidak
melakukan peraturan bangsa-bangsa yang di sekitarmu…”
Yehezkiel 16:47-48 “Engkau bukan saja hidup menurut tingkah laku mereka dan melakukan
kekejian mereka, tetapi belum berapa lama engkau sudah berlaku lebih busuk dari mereka
dalam segala tingkah lakumu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH,
sesungguhnya saudaramu Sodom beserta anak-anaknya perempuan tidak berbuat seperti
engkau dan anak-anakmu perempuan berbuat.”
Yehezkiel 16:51 “Samaria tidak berbuat dosa setengahpun dari dosamu, bahkan engkau
melakukan kekejianmu lebih banyak dari pada mereka, sehingga engkau membuat
saudara-saudaramu perempuan kelihatan benar oleh karena segala kekejian yang engkau
lakukan.”
Teguran nabi Yehezkiel ini membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap
ketidakadilan atau kejahatan, tidak peduli siapa pun pelakunya, termasuk bangsa Israel sendiri.
Bahkan umat Israel, melakukan kejahatan yang lebih busuk dari pada bangsa-bangsa lain
disekitarnya. Umat Israel merasa aman karena memiliki tanah dan Bait Suci (Bait Suci Pertama).
Yehezkiel memperingatkan kehancuran karena kemurtadan mereka. Dan nubuatan itu mewujud,
Israel dihancurkan oleh Babel (586 SM).
Sejarah terjadi kembali.
Tujuh abad kemudian, peristiwa yang sama berulang, ketika 70 Masehi, Titus meluluhlantakkan
Yerusalem.
Perjanjian Baru mencatat :
Lukas 19:41-44 (Yesus Menangisi Yerusalem): Saat mendekati kota itu, Yesus menangis dan menubuatkan pengepungan militer: “Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan
mengelilingi engkau dengan kubu… dan mereka akan membinasakan engkau… karena
engkau tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat engkau.”
Lukas 21:20-24 (Zaman Bangsa-Bangsa): Yesus menubuatkan bahwa Yerusalem akan
“diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman
bangsa-bangsa itu.” (Penggenapan utama dari hal ini adalah penghancuran total oleh
Jenderal Titus dari Romawi pada tahun 70 Masehi).
Matius 23:34-36 “Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang
bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu
salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu… supaya kamu
menanggung akibat tumpahan darah orang yang tidak bersalah di bumi... Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”
Matius 23:37-38 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! … Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”
Matius 21:13 “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya
sarang penyamun.“
Yohanes 19:15 “Tetapi mereka berteriak: ‘Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!’ Kata
Pilatus kepada mereka: ‘Haruskah aku menyalibkan rajamu?’ Jawab imam-imam kepala:
‘Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!'” (Para elit Yerusalem secara terbuka
menolak pengharapan Mesianis mereka dan bersumpah setia kepada kekaisaran Romawi
penyembah berhala. Ironisnya, kekaisaran Romawi inilah yang kelak membumihanguskan
mereka.
Sebuah catatan sejarah oleh Yosefus, yang otoritatif dan yang menjadi saksi kehancuran Yerusalem, yang ditulis di dalam buku yang berjudul The Jewish War (Perang Yahudi / Bellum Judaicum), ditulis sekitar tahun 75 Masehi. Ini adalah laporan pandangan mata (saksi langsung) yang paling rinci mengenai kengerian tahun 70 Masehi. Demikian tercatat:
• Penodaan Bait Suci dengan Darah Saudara Sendiri: Sebelum Romawi menyerang, para Zealot menjadikan Bait Suci sebagai benteng militer mereka. Yosefus mencatat bahwa mereka masuk ke ruang-ruang kudus dengan kaki yang masih berlumuran darah setelah membunuh sesama orang Yahudi di jalanan kota. Mereka membantai para imam yang menentang mereka, sehingga altar persembahan dibanjiri oleh mayat orang Yahudi sendiri.
• Kebejatan Moral yang Menyerupai Sodom (Buku 4, Bab 9): Yosefus mencatat perilaku salah satu faksi Zealot (pengikut Yohanes dari Giskala) dengan nada yang penuh rasa jijik. Ia menggambarkan bagaimana mereka merampok rumah-rumah orang kaya, membunuh para prianya, dan kemudian melakukan pesta pora yang sangat menyimpang. Yosefus mencatat bahwa mereka berpakaian seperti perempuan, menata rambut mereka, memakai riasan wajah, dan mengubah seluruh kota Yerusalem menjadi semacam “rumah pelacuran.” Mereka melakukan tindakan homoseksual dan pembunuhan secara bersamaan—bertingkah seperti wanita tuna susila, tetapi secara tiba-tiba menghunus pedang tersembunyi untuk membunuh orang yang lewat.
• Yosefus Mengutip “Sodom” (Buku 5, Bab 13): Secara luar biasa, Yosefus—yang tidak percaya kepada Yesus—menggemakan nubuat Yehezkiel 16. Karena muak melihat kejahatan para Zealot ini, Yosefus menulis sebuah kesimpulan teologisnya sendiri:
“Aku percaya bahwa andaikata orang-orang Romawi menunda penghukuman atas para penjahat ini, kota itu pasti sudah ditelan bumi, atau disapu oleh air bah, atau merasakan petir dari Sodom. Karena ia (Yerusalem) telah melahirkan generasi yang jauh lebih fasik daripada mereka yang pernah menderita hukuman-hukuman semacam itu.”
Yosefus mencatat bahwa Titus sebenarnya ingin menyelamatkan Bait Suci yang megah itu sebagai monumen kemenangannya. Namun, dalam kekacauan pertempuran, seorang prajurit Romawi melemparkan obor ke dalam jendela, dan api menjalar tak terkendali. Emas di dinding meleleh dan masuk ke celah-celah batu. Untuk mengambil emas tersebut, tentara Romawi membongkar batu- batu itu satu per satu, menggenapi nubuatan Yesus di Matius 24:2 secara harfiah (“tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu lainnya”).
Yerusalem hancur. Bangsa Israel terserak ke seluruh penjuru bumi. Kota itu tidak dihancurkan semata-mata karena invasi asing yang zalim, tetapi karena dari dalam, kota itu telah membusuk secara moral, dipenuhi nabi palsu, penumpahan darah orang tak bersalah, dan kebejatan ala Sodom—tepat seperti yang didakwakan oleh Kristus dan para nabi.
Sejarah akan berulang kembali.
Apakah hal yang sama akan terjadi kembali kepada Yerusalem?
Rasul Yohanes mewahyukan demikian :
“Dan mayat mereka akan terletak di jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.” (Wahyu 11:8)
Rasul Yohanes menuliskan nubuatkan yang mengidentifikasikan Yerusalem (sebagai tempat dimaan Tuhan mereka disalibkan) dengan Sodom dan Mesir.
Apakah artinya Sodom dan Mesir?
• Sodom Melambangkan kemerosotan moral yang ekstrem, kemesuman rohani, asusila, penyimpangan seksual (seperti homoseksualitas, pedophilia, dan kekerasan seksual di Sodom dan Gomora, Kejadian 19), kesombongan, kekerasan, dan penolakan total terhadap Tuhan serta kebenaran-Nya (Yeh. 16:49–50). Kota ini digambarkan sebagai tempat di mana dosa-dosa bejat merajalela tanpa malu, bahkan dianggap “normal” atau dibenarkan.
• Mesir melambangkan penindasan, perbudakan, tirani, dan penolakan terhadap Allah yang hidup. Mesir adalah tanah di mana bangsa Israel diperbudak secara kejam, dipaksa bekerja berat, dan Firaun menyombongkan diri dengan berkata, “Siapakah TUHAN itu, sehingga aku harus mendengarkan suara-Nya?” (Keluaran 5:2). Mesir juga identik dengan penyembahan berhala, kekuasaan duniawi yang menindas umat Allah, dan ketidakpercayaan kepada Tuhan yang benar.
Sebagaimana orang Ibrani akan berpaling ke Sodom ketika mereka menolak Allah, demikian pula mereka akan berpaling ke Sodom ketika mereka menolak Kristus. Allah menyatakan tentang orang Yahudi melalui nabi Yesaya:
“Israel adalah bangsa yang penuh dosa, suatu bangsa yang dibebani rasa bersalah, sekelompok anak-anak yang berbuat jahat, anak-anak yang penuh dengan kejahatan. Mereka telah meninggalkan TUHAN; mereka membenci Allah, Yang Mahakudus dari Israel, dan telah berpaling dari Dia seolah-olah Dia adalah orang asing.” (Yesaya 1:4)
Dan dalam keadaan ini, Tuhan menyebut Israel sebagai Sodom:
Dengarkan firman Tuhan,
Hai para penguasa Sodom!” (Yesaya 1:10)
Dan Yerusalem, setelah membunuh Kristus, disebut Sodom oleh nabi Yohanes: “di jalan kota besar yang secara simbolis disebut Sodom dan Mesir, tempat Tuhan mereka disalibkan.” (Wahyu 11:8).
Seberapakah Sodom dan Mesir bangsa Israel saat ini?
Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu sikap mawas diri kita terhadap arus zaman ini. Penggambaran tentang Yerusalem yang duniawi telah diperihatkan kepada kita sepanjang sejarah pewartaan sabda Allah, sejak dari zaman Perjanjian Lama hingga Wahyu. Apakah pengharapan kita terhadap Yerusalem Duniawi atau pengharapan kita tertuju kepada Yerusalem Sorgawi?
***
Sejarah yang berulang ini mengajarkan saya, untuk tidak melihat Yerusalem Duniawi sebagai dasar pengharapan saya. Bagaimana kemuliaan lahiriah Yerusalem dengan sangat mudah dikorupsi oleh kejahatan manusia, mengalami kemerosotan moral yang tidak terbayangkan, bahwa bangsa-bangsa lain disekitarnya tidak melakukan kejahatan seperti mereka yang memiiki Yerusalem.
Pandangan saya dan pengharapan saya adalah Yerusalem Surgawi, dimana Allah sendiri yang menjadi penerang abadi di dalam kehidupan kita, yang tidak lekang atas masa dan menang atas sejarah.
Berdasarkan data yang saya baca, saya menemukan fakta empirik bahwa populasi LGBT di Tel Aviv menurut catatan adalah sekitar 25%, dan merupakan ibukota LGBT di Timur Tengah. Kemudian terbukanya kasus Epstein yang merupakan Yahudi Connection, saya melihat sisi gelap pekat dari para elite global ini. Lebih gelap dibandingkan zaman Yehezkiel maupun catatan Yosefus. Dan banyak fakta lain yang bisa ditambahkan.
Saya perlu menarik diri untuk tidak terjebak di dalam narasi orang lain untuk melihat setiap peristiwa sejarah. Saya perlu melihat kembali dan mencernanya di dalam cara pandang yang lebih tepat mengenai maksud Allah atas sejarah. Meskipun di dalam keterbatasan informasi yang saya punya, kita tidak pernah dapat melihat sepenuhnya apa yang terjadi, namun saya bisa memilih untuk melihat di dalam cara pandang baru dan pengharapan akan Yerusalem Sorgawi, dibandingkan pengharapan akan Yerusalem Duniawi.
***
Seorang sahabat membagikan cerita kepada saya, “Bang Teja (Dia selalu memanggil saya Bang Teja, meskipun saya tahu dia orang Cirebon – Sunda dan saya orang Jawa), pelayanan onlinenya (red: lewat website yang berisi bacaan Alkitab online dan tersedia di dalam berbagai bahasa) sejak perang di Timur Tengah banyak sekali pengunjungnya, naik pesat. Dan paling banyak pembacanya dari Israel.”
Wow, Puji Tuhan. Senang mendengar berita ini.
Kita mendengar banyak kabar saat ini, bahwa di tengah masyarakat Iran, banyak orang mengalami berbagai perjumpaan pribadi dengan Kristus, dan menjadi orang percaya, meskipun beresiko.Dinasti berganti dinasti. Penguasa silih berganti. Bangsa yang kalah takluk kepada penakluknya. Tidak ada yang kekal, dan setiap masa selalu berganti. Tetapi ada yang kekal, yaitu pemerintahan Allah atas orang-orang percaya, dan akan selalu ada kerinduan yang kekal di dalam hati manusia, untuk mengenal Sang Alfa – Omega, Kristus. Raja sebuah kerajaan kekal yang tidak terkalahkan sepanjang masa.
Ayuk, mari kita berjalan ke Sion (tanpa menjadi Zionist), menuju Yerusalem Baru, Yerusalem Sorgawi, dimana tidak ada tangis dan air mata, semua digantikan sukacita dan sorak-sorai.
KRI 68 Berjalan Ke Sion
We’re Marching To Zion
Isaac Watts & Robert Lowry
Hai s’kalian orang yang
mengasihi Tuhan.
Hendaklah kamu pun datang,
hendaklah kamu pun datang
menyanyi pujian,
menyanyi pujian.
Ke Sion, ke Sion, kami berjalan ke Sion.
ikutlah kami ke Sion, berjalan ke kota Allah.
Masamlah mukanya
yang b’lum kenal Tuhan.
Yang ada Bapa di surga,
yang ada Bapa di surga,
bersuka-sukaan,
bersuka-sukaan.
Seb’lum kami sampai
kota Sion itu,
beribu padang yang permai,
beribu padang yang permai
yang kami mau lalu,
yang kami mau lalu.
Kami s’kalian tuju
ke kota yang indah.
sapulah air matamu,
sapulah air matamu.
bersorak-soraklah,
bersorak-soraklah.
(catatan: syair lagu ini ditulis pada tahun 1707, ketika belum ada gerakan Zionist)
Soli Deo Gloria
Teja Samadhi
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |




