Meskipun rumah-NYA retak, namun ambang pintunya tetap terbuka; menanti anak durhaka kembali pulang ke dalam dekapan Sang BAPA.
Entahlah! Namun getar ceritanya mustahil dielakkan. Apakah sang penulis sengaja berniat agar daku—sang pembaca yang melintasi ribuan musim kemudian—tak melewatkan pesan rahasianya? Sebuah hikayat memang menyimpan selaksa makna; mungkin di sanalah letak maksud murni sang empunya cerita.
The first rebellion—makar perdana itu seolah tergelar tepat di hadirat-NYA. Di jantung kediaman-NYA, Taman Eden, mahluk bumi pertama justru menyulut pemberontakan. Meski segala nikmat telah terhidang sempurna, manusia lebih memilih jalan selingkuh iman: sebuah pengkhianatan tepat di dalam rumah-NYA.
Sementara dalam the second rebellion, penulis Kejadian 6 sengaja menyitir istilah anak-anak dari dimensi seberang. Ya, anak-anak yang lancang melintasi garis tabu yang telah dipatok oleh Sang BAPA!
Bukankah terasa getar yang kuat bahwa makar ini pecah justru di jantung kediaman YHWH? Inilah nestapa, cerita tentang sebuah keluarga; sebuah kedurhakaan anak terhadap Sang Ayah. Baik benih alam fisik maupun dari alam adi-kodrati, keduanya seakan kompak menelikung kehendak Sang BAPA.
Kurang apa lagi? Segala kebutuhan anggota keluarga telah terhampar tuntas. Tersedia peluang karunia—tanpa tabir penyekat—untuk menikmati hadirat-NYA, menatap mahakarya Sang PENCIPTA, bahkan menyapa Sang MAHA KUASA setiap saat. Inilah jalinan tanpa perantara; tiada retak, apalagi jelaga dosa.
Hak akses dan privillege begitu agung—melampaui daya bayang manusia! Sejak mula, DIA mendamba anak-anak dari dua dimensi alam yang berbeda ini bergandengan tangan, merajut harmoni sempurna di rumah bumi yang baru saja rampung dibangun.
¹BETAPA mengagumkan dan betapa menyenangkan apabila kaum keluarga hidup dalam kerukunan.! (Mazmur 133,FAYH)
Namun, apalah hendak dikata? Bagaimana nalar mampu mencerna drama kolosal keluarga Ilahi ini? Walau kemelut kosmik ini pecah berlaksa-laksa musim silam, getahnya merembes hingga ke nadi Anda di era digital ini. Tiada satu pun insan yang lahir di bumi mampu luput dari racun bisanya.
Ibarat satu keluarga, di mana anak-anak yang telah dewasa justru menempuh langkah hidup yang menikam hati kedua orang tua. Katakanlah hanya ada dua anak dengan perangai yang bertolak belakang, namun anehnya, mereka justru kompak, bersatu dan seia sekata dalam satu hal: mengkhianati rahim asalnya.
Aaahhh… inilah misteri yang sulit diselami! Bagai sejoli yang baru mengecap manisnya pernikahan, tentu ada dambaan untuk segera menimang momongan. Kerinduan ini memicu jwa raga untuk memiliki keturunan, meski mereka sadar: kelak, buah kandung sendiri bisa saja berpaling dan mendurhakai rahim asalnya. Namun, segala gentar itu luluh oleh satu kerinduan purba yang lebih perkasa: hadirnya sang pewaris cinta!
Apakah selaras dengan getar itu pula cinta Sang BAPA, hingga DIA rela menghadirkan daku dan dikau di panggung sejarah meski tahu risiko pengkhianatan itu ada? Mungkinkah itu sebabnya DIA ingin daku menyapa-NYA sebagai BAPA (Roma 8:15)? Agar daku tak sekadar tahu, melainkan dapat juga turut larut merasakan pedihnya ‘ulu hati’ tatkala anak-anak yang dirindukan-NYA justru melabrak kehendak-NYA!
Maka tidaklah berlebihan bila disebut drama ini sesungguhnya adalah kemelut internal keluarga Ilahi. Persis kisah ‘Anak Hilang’ (Lukas 15:11-32) yang memilih membuang diri dari hangatnya dekapan rumah BAPA.
Tak sembrono jika menyebut seluruh narasi Kitab Suci sebagai risalah tentang keluarga Ilahi yang sedang broken home! Namun di tengah puing keretakan itu, DIA terus merawat rindu akan kepulangan sang pengembara; agar kelak daku dan dikau beserta para malaikat yang setia dapat kembali duduk berdampingan sebagai saudara bersaudara di rumah-NYA yang baka.
Kelak di ujung musim, Sang BAPA mengutus Anak Tunggal-NYA demi menjemput dan memulangkan mereka kembali ke rumah. Tidakkah ini menjelaskan mengapa Yesus tidak malu memanggil mereka saudara—bahkan kepada anggota keluarga yang durhaka (Ibrani 2:11-18)?
Aaahhh… narasi ini kian mengusik batin! Demi memulangkan anak-anak yang mendurhaka, Sang Anak Sulung harus melacak hingga ke alam maut, merebut mereka kembali dengan mempertaruhkan nyawa-NYA sendiri.
Ooo… alangkah dalamnya, tak terselami, cinta Sang Orang Tua! Tangan-NYA senantiasa terbentang, melampaui sekat masa, hanya untuk kembali mendekap Puan dan Tuan—sang anak yang pernah membuang muka! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |



