“Adinda bukan sekadar makhluk yang tercipta, melainkan insan yang dirindukan hadir untuk larut kedalam sedapnya madu koinonia Sang BAPA-ANAK.”
Tiada yang tahu; misteri ini akan selamanya terkunci, menjadi satu rahasia purba yang tersembunyi abadi di kedalaman diri Sang ILAHI! Andai DIA tidak melabuhkan seuntai isyarat, niscaya maksud keberadaanku hanyalah tanda tanya pekat yang terus menghimpit kalbu—sebuah pencarian makna yang terus memburu jawaban dari getar jiwaku.
Untuk apa daku ada?
Sebuah gugatan purba yang menggetarkan jantung peradaban sepanjang masa. Mungkinkah rahasianya tersembunyi jauh di balik rimbun Taman Eden? Hati yang rindu, sukma yang dahaga, akan terus memburu jawab walau harus menembus hingga ke balik cakrawala. Sebab batin yang lara takkan terhibur, dan jiwa yang gundah takkan menemukan teduh, sebelum ia bersua dengan makna hidup yang sejati di bawah matahari.
Apa gerangan yang berdenyut di palung hati-NYA? Kilat pikiran macam apa yang melintas di benak-NYA? Big Picture apa yang tengah DIA tenun, hingga tiba pada keputusan purba untuk menghadirkan daku dan dikau di hamparan bumi ini? Sungguh, setiap duga yang tak bermuara pada YHWH—Sang Pemilik Gagasan—niscaya akan karam dalam kesia-siaan; hidup kehilangan nyawa, keberadaan hanyalah sekadar debu yang beterbangan dalam proses alam biasa
.
Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan [koinonia] dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (1 Yohanes 1:3)
Tiada desakan yang memicu, tiada paksaan yang memburu; segalanya murni berpangkal dari kehendak hati-NYA. Di suatu ‘saat’ dalam keabadian—di tengah hening yang tak terselami—Sang ADA mengambil langkah yang tak terjangkau nalar: ‘merobek’ tabir ketertutupan koinonia Tritunggal Maha Kudus, lalu mengulurkan tangan bagi daku dan dikau untuk turut mengecap keindahan-NYA. Sebuah keputusan agung yang selamanya mengubah HIStory—Kisah-NYA yang kini menyatu dengan sejarah insani!
“God did not create us because He was lonely… He was so happy in the fellowship of the Trinity that He wanted to share that joy with others.” (Tim Keller)
Bukan lantaran dicekam sepi, bukan pula karena butuh kawan berbagi, apalagi sekadar gila akan puja-puji. Semata-mata karena DIA berkehendak agar madu kesempurnaan communion dalam misteri Tritunggal turut dikecap oleh lidah makhluk insan. Niat-NYA nan luhur: agar relasi kasih abadi antara BAPA dan ANAK (Yohanes 17:24)—yang telah berdenyut jauh sebelum fajar dunia menyingsing—kini merambah Adinda, sang kekasih hati-NYA!
“Apa yang telah kami lihat… kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan (koinonia) dengan kami.”
Ini sebuah undangan agung dari takhta kekekalan bagi Adinda untuk melangkah masuk ke dalam communion Sang Ilahi. Sebuah ajakan purba untuk menemukan makna hidup yang sejati; menyatukan detak jantung Anda dengan ritme Sang PENCIPTA—kini, nanti, hingga menembus sekat dimensi alami menuju keabadian yang hakiki.
Aaahhh… di jantung Eden, peradaban justru menepis uluran tangan untuk menjadi bagian dari Keluarga-NYA. Alih-alih mendekap undangan agung untuk berelasi dalam lingkaran Ilahi yang kekal nan sejati, Adam dan Hawa lebih tergiur oleh bayang-bayang semu yang menawarkan diri sebagai ganti. Sebuah tragedi yang menyayat: the first rebellion—justru meletus di dalam Rumah-NYA sendiri, di bawah atap kasih yang seharusnya mereka huni.
DIA menghendaki relationship, namun peradaban lekas menggantinya dengan keriuhan ritual kurban (Kejadian 4:3-5). DIA merindukan communion dari hati ke hati, namun manusia justru lebih terpikat dengan aturan-aturan sakral.
Betapa dahsyat kasih-NYA: DIA rela menghamparkan waktu, detik demi detik, tanpa jeda dan tanpa jemu menungguku. Namun sungguh ironis, daku cenderung menyekap kehadiran-NYA dalam petak-petak waktu bahkan hanya sebatas formalitas semu di hari-hari tertentu. Seolah-olah sedekah waktu sudah cukup, selebihnya kehadiran-NYA kuanggap tak lagi perlu.
Aaahhh… semoga Puan dan Tuan masih memiliki telinga batin yang peka untuk mendengar undangan agung untuk kembali pulang ke Rumah BAPA.
Itulah puncak seruan rasul Yohanes; sebuah ajakan untuk turut kembali mengecap madu persekutuan yang tiada duanya bersama Sang BAPA dan ANAK. Sebuah koinonia yang bermula dari tarikan napas saat ini, mengalir deras melampaui batas waktu, hingga akhirnya karam dalam samudera keabadian yang tanpa tepi (Yohanes 17:3). (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |



