494. Dikotomi

Viewed : 474 views

Bisa jadi, warisan Menara Babel yang paling mempengaruhi peradaban dan kehidupan umat secara luas adalah cara pandang terhadap jenis pekerjaan. World view ini diwariskan lintas generasi, melalui sistem nilai dari pandangan masyarakat umum terhadap suatu bentuk kegiatan. Paradigma yang membelah alam menjadi dua kutub ekstrem: pekerjaan yang dianggap rohani, dan pekerjaan yang dicap duniawi.

Langsung membumbung ataupun senyap terselubung, paradigma ini telah tertanam dalam hati umat dari semua penganut agama dan keyakinan sepanjang zaman. Kerangka pikir ini disambut dengan antusias oleh masyarakat luas. Sambutan bergairah ini, barangkali karena hati setiap insan memang merindukan perkara yang transenden (Pengkhotbah 3:11), dan sadar bahwa segala yang kelihatan hanyalah sementara.

Kefanaan ini bukan sekadar persepsi, melainkan realita yang dialami setiap insan. Bukankah itu pengalaman harian yang tak dapat dielakkan oleh daku dan dikau? Segala prestasi dan capaian lainnya pun akan ditinggalkan. Tak ada yang abadi di bawah matahari—semuanya fana, seperti jejak kaki di pasir pantai yang seketika hilang tak berbekas diterpa ombak.

Fakta pahit tentang kesementaraan hidup di bumi, secara halus maupun tulus, telah mendorong insan mencari perkara-perkara yang abadi. Ketidakpuasan yang hanya berputar-putar dalam pencarian sesuap nasi membuat batin bergejolak. Pasti ada sesuatu di luar sana—lebih dari sekadar hal-hal duniawi, lebih dari sekadar usaha menjaring angin.

Kelak, jenis pekerjaan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ritual dikategorikan sebagai kegiatan yang bersifat rohani. Disebut demikian, barangkali karena ia berelasi dengan alam dari dunia roh! Sudah menjadi pendapat umum bahwa pekerjaan spiritual menyangkut perkara kekekalan: hal-hal yang seolah lebih dekat ke surga daripada ke tanah tempat kaki berpijak.

Sementara itu, jenis kegiatan lainnya dianggap sebagai lawan—yang berhubungan dengan hal-hal duniawi. Pekerjaan semacam ini dipandang bersifat sementara, karena semua capaian akan ditinggal pergi! Pekerjaan sekuler dianggap tak bersangkut paut dengan dunia yang akan datang.

Secara naluriah, peradaban menganggap pekerjaan rohani lebih mulia daripada hidup yang dihabiskan untuk sekadar menggapai prestasi dan posisi. Tak heran, mereka yang bekerja di bidang kerohanian lebih dihormati daripada daku—yang hanya seorang driver Ojol, yang mengantar harap dari satu pintu ke pintu lainnya, dengan peluh yang tak pernah dianggap sakral.

Dikotomi antara alam rohani dan duniawi, telah membelah kehidupan umat sejak di Babel hingga waktu yang belum tiba. Daku—dan barangkali juga dikau—yang hidup di abad ke-21 ini tak luput dari imbasnya. Pengaruhnya begitu kuat, hingga tanpa sadar turut membentuk cara Adinda memandang kehidupan: seolah langit dan tanah tak bisa berdamai dalam satu langkah yang sama.

Pola pikir dualitas alam ini membuat umat berdecak kagum! Apabila dikau seorang profesional super sibuk namun masih sempat melibatkan diri dalam kegiatan rohani. Dan sebaliknya—rasalah bersalah yang mendalam, disertai tuduhan yang menghujam: bahwa Anda hanya mengejar perkara duniawi, hal-hal yang sementara. Seakan peluh tak layak disebut ibadah, dan kesibukan tak bisa menyentuh kekekalan.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolese 3:23)

Inilah sabda yang konfrontatif—meruntuhkan dikotomi spiritual dan sekuler yang telah tertanam dalam pola pikir peradaban ribuan masa. Jenis pekerjaan bukan lagi penentu, melainkan niat jiwa yang menggerakkannya. Inilah berita Injil yang melegakan, bagi daku yang mungkin hanya sebagai pekerja buruh harian yang penghasilannya sepenuhnya berharap kepada belas kasih-NYA.

Bagaimana dengan warisan Babel?

Isunya bukan lagi dikotomi rohani vs duniawi! Melainkan bagaimana daku yang dianggap rohaniawan dapat membumikan kehidupan spiritual sehingga hal-hal supernatural terasa natural.

Dan bagaimana Adinda yang dianggap kaum awam, menjadikan kehidupan duniawi menyebarkan aroma surgawi dalam kehidupan sehari-hari sehingga yang natural terasa dari alam supernatural!

Dengan demikian, POV Kerajaan Allah: pekerjaan rohani dan duniawi tak dapat lagi dibedakan—karena alam langit dan bumi bersatu dalam satu langkah yang sama! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments