Warisan Babel bukan perkara sepele dalam membentuk pola pikir umat manusia. Sekilas, narasinya tampak sederhana—mungkin selama ini hanya dianggap sebagai konsumsi anak-anak Sekolah Minggu. Namun di balik peristiwa besar Menara Babel tersimpan mindset yang diam-diam ditanamkan ke dalam tubuh peradaban:
Pola pikir yang mempertentangkan nilai pekerjaan duniawi dan spiritual menjalar seperti api liar yang tak terkendali, melanda kebudayaan dari dalam. Pengaruhnya begitu dalam, hingga menjadi darah dan daging kebudayaan. Tak terhitung berapa lama lagi paradigma ini akan terus menawan daku dengan mencabik cara pandang terhadap berbgai jenis pekerjaan.
Rutinitas hidup kaum pekerja rohani, para rohaniawan, tampak damai, tenang, dan memancarkan aura surgawi. Aktivitas harian berputar di sekitar kuil—sebagai wakil yang menghubungkan umat dengan alam supernatural. Kesibukan mencapai puncaknya hanya pada hari-hari tertentu, tatkala prosesi suci diselenggarakan. Momen-momen sakral ini hanya terjadi beberapa kali setahun, selebihnya hidup teratur, menjaga agar dupa tetap menyala tujuh hari dalam seminggu.
Sementara kaum awam, para pekerja sekuler, berjuang dari hari ke hari demi sesuap nasi. Kompetisi sengit merebut peluang yang sempit: sikut kanan-kiri, tekan yang di bawah, gapai yang di atas demi nasib yang lebih baik. Rejeki harus direnggut, takdir pun seakan harus dirampas. Setiap hari adalah pertempuran, bisnis tak kenal kawan atau lawan. Walau sudah bekerja habis-habisan, tetap saja tak ada jaminan pasti untuk masa depan.
Bagi sebagian besar kaum awam, kehidupan para imam lazim dipandang sebagai kehidupan yang teduh, tenang, aman, dan tenteram. Hidup damai sejahtera ini dianggap sebagai buah dari seluruh hidup yang didedikasikan untuk melayani seputar ritual. Mereka seakan hanya mementingkan perkara kekal, tak tergoda oleh hal-hal yang bersifat temporal—seolah kaki tak lagi menyentuh tanah, dan mata hanya menatap langit.
Tak janggal, jika kaum awam tergoda menyisihkan waktu yang tinggal tak seberapa demi mengikuti pola hidup kaum rohaniawan. Seakan Adinda terseret ke dalam pilihan hidup yang bukan untuk dirimu. Tak heran, jika Anda masih bersedia mengambil bagian dalam kegiatan ritual, meski harus mengorbankan waktu untuk keluarga. Karena di balik dupa yang menyala, ada harap yang ingin dianggap suci.
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7)
Tak dapat dipungkiri, apa yang tampak memang menggoda—karena bukankah manusia hanya bisa menilai dari apa yang tampak? Namun sebaliknya, DIA melihat ke dalam hati, melirik motivasi yang tersembunyi di balik segala kategori pekerjaan.
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. (Matius 15:8)
Aaahhh!
Fakta ini bisa mengelabui panca indera. Apa yang terlihat belum tentu seperti yang tampak, dan apa yang terdengar tak otomatis semerdu yang diduga. Yang elok, yang sedap di telinga, ternyata ditentukan oleh niat hati. Sayang, dalam laut dapat diduga, isi hati—siapa yang tahu? Mata-NYA lebih tajam dari pedang bermata dua yang tidak sekadar mendengar suara dan melihat nyala dupa.
Ini menjadi rumit!
Yang dikira pekerjaan rohani—siapa sangka, di hadapan-NYA ternyata hanyalah bersifat duniawi. Dan sebaliknya, yang dianggap duniawi dan fana, justru membuahkan hal-hal surgawi. Karena bukan bentuknya yang menentukan, melainkan nyala batin yang menyertainya. Yang tampak biasa, bisa jadi menyimpan cahaya yang tak terduga.
Kekal atau temporal bukan lagi ditentukan oleh jenis pekerjaan, melainkan oleh motivasi yang tersembunyi. Bisa jadi, berangkat ke kantor pagi-pagi, begitu buru-buru hingga tak sempat mandi demi merebut secuil rejeki— itu sama rohaninya dengan niat hati yang murni untuk beribadah di hari Minggu pagi. Karena TUHAN melihat hati, bukan jenis pekerjaan. Jauhlah dari DIA sekadar menikmati alunan merdu dari paduan suara juara satu.
Dan sebaliknya!
Silakan Adinda ungkapkan sendiri—karena hanya Anda yang tahu nyala batinmu yang terdalam! Semoga Adinda sejahtera, dan menikmati pilihan hidup yang semuanya tak ada yang abadi di bawah matahari. Namun bila hati menyala, buah yang fana sekali pun bisa mengalir sepanjang masa. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |




