Kerinduan Akan Yang Kekal

Viewed : 942 views

Sahabat yang terkasih,

Don Richardson di dalam trilogi bukunya, “Anak Perdamaian, Penguasa-Penguasa Bumi dan Kerinduan Akan Allah Yang Sejati”, menggunakan istilah kerinduan akan Allah yang sejati untuk merumuskan temuannya akan kerinduaan akan Allah yang hidup diantara suku-suku yang masih hidup dalam zaman batu di Papua. Kerinduan akan Allah yang hidup adalah sebuah kekekalan di dalam hati setiap manusia.

Kerinduan akan yang kekal, merupakan sebuah kepastian. Baik bagi mereka yang hidup didalam ujung2 peradaban, maupun bagi mereka yang hidup di pusat peradaban.

Jiwa kita merindu yang kekal, yang abadi. Kerinduan itu merupakan sebuah pernyataan umum kepada setiap manusia di bumi. “Ia memberikan kekekalan di dalam hati mereka”, demikian disampaikan dalam Pengkotbah 3:11.’

Kerinduan ini yang menjadi girah semua orang di dalam mencari yang sejati, yang utama, yang suci, yang mulia, yang agung, yang abadi, yang dia sendiri sadari, bahwa ada sebuah misteri kekekalan yang menjadi jawaban atas pencarian jiwa mereka.

Peradaban manusia berkembang dengan luar biasa, namun itu pun tidak mampu menjawab kerinduan tersebut. Semua pencapaian peradaban tersebut tetap meninggalkan ruang kosong di dalam jiwa manusia. Justru semua kemajuan ini bisa menjadi sebuah jebakan bagi jiwa kita, karena sangkanya akan menjawab kebutuhan yang hakiki di dalam jiwa kita.

Jiwa yang merindu akan terus mencari rahasia-rahasia yang akan menjadi jawaban bagi kerinduan mereka.

Kita bisa terhanyut di dalam berbagai jebakan kehidupan ini yang membawa kita lari menjauh dari apa yang kekal. Namun secara subtle, tersembunyi, rahasia, suara panggilan atas kerinduan yang sejati itu selalu ingin mengajak kita pulang pada jalan yang seharusnya kita tempuh.

Di dalam Kristus, kerinduan itu menemukan jawabannya. Kristus adalah anugrah dan kebenaran bagi dunia ini. Dan Kristus adalah jawaban bagi kehausan jiwa kita, karena Dia yang mengaruniakan air hidup yang selalu memuaskan jiwa kita.

“Bagai rusa berteriak,
Cari sumber air sejuk.
Demikian pun jiwaku,
Merindu kepada Mu.

Akan Allah abadi,
Haus ku tiada terperi.
Bilakah tiba waktu ku,
Melihat Mu ya, Allah ku.”

Selamat menempuh perjalanan dengan sepenuh kerinduan.

Salam
Teja, 3/7/2019

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by Steen Møller Laursen from Pixabay

Comments

comments