“Napas Eden adalah janji setia, loyalitas sukma, sebuah ikatan pertunangan suci yang merindukan kepulangan setiap jiwa kembali ke pelukan-NYA.”
Entahlah, agaknya telah menjadi suratan yang terpahat dalam setiap eksistensi; bahwa pada setiap pribadi, senantiasa melekat kerinduan purba untuk dikenal dan mengenal, untuk dicintai dan mencintai. Lumrah kalau dikatakan: ”Tak kenal maka tak sayang.” Jalinan ‘kenal-cinta’ ini hanya mungkin bersemi dalam ruang rahasia di antara dua diri. Manakala relasi kian karib, ikatan hati antar-pribadi pun kian ‘lengket’—bahkan bisa jadi sedemikian menyatu, hingga manakala yang satu tersayat sembilu, yang lain pun ikut menjerit pilu.
Insan, sebagai peziarah bermoral, senantiasa memerlukan kawan ngobrol. Sang PENCIPTA menelisik getar kerinduan paling senyap di palung hati Adam (Kejadian 2:18). Meski nalar Adam terserap penuh dalam menamai segala margasatwa—tugas yang memeras fokus dan logika—tetap saja di ceruk terdalam ‘dada’-nya, ia merasakan sebuah kesunyian eksistensial yang tak sanggup dibungkam oleh keriuhan kerja.
Bagaimanakah melukiskan keintiman purba antara Adam-Hawa dengan Sang PENCIPTA di rimbunnya Taman Eden? Mungkin saja, keakraban itu terjalin dalam relasi cinta yang jauh lebih dalam, melampaui apa yang sanggup diringkas oleh sekadar anak kalimat: ”Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk…” (Kejadian 3:8).
Mungkinkah sang penulis menyisipkan diksi ‘berjalan-jalan’ sebagai isyarat tentang sebuah ritme kebiasaan yang karib? Dan bukankah frasa ‘waktu hari sejuk’ sebagai metafora dari harmoni paling ranum antara sang insan dengan DIA? Di Eden, Kehadiran-NYA bukan sekadar konsep yang mengambang, melainkan realitas yang nyata teraba oleh indra dalam keseharian manusia pertama. Ataukah memang begitulah hukum cinta: manakala dua batin telah luluh menyatu, maka yang tak kasatmata pun mampu terbaca, dan yang tak terucap pun jelas mengiang di telinga.
Apakah ini semua hanyalah sebentuk tafsiran kalbu yang merindu, ataukah memang begitulah hakikat fakta yang melampaui waktu?
“Kalian adalah seperti seorang gadis perawan yang masih suci yang sudah saya janjikan untuk dinikahkan dengan seorang suami, yaitu Kristus.” (2 Korintus 11:2, BIS).
Ribuan musim berlalu, rasul Paulus menyingkapkan cadar misteri dengan melukiskan relasi purba itu sebagai sebuah ‘pertunangan suci’—sebuah ikatan cinta tulus nan murni. Inilah ‘prototipe relasi’ yang sempurna, sebuah kemanunggalan yang paling benderang dibayangkan lewat debar jantung sejoli yang tengah karam dalam mabuk asmara.
Adam dan Hawa hadir bak mempelai jelita yang telah mengikat janji suci dengan Sang Kekasih SEJATI. Adakah mempelai yang sanggup membendung arus rindu untuk selalu berada di sisi belahan jiwanya? Alangkah senangnya: bertaut jemari dan melangkah seiring di tengah sejuknya hari. Di sana, napas mereka adalah harapan, langkah mereka adalah saling percaya, dan tatapan mereka adalah kesetiaan yang tak terbagi. Begitulah esensi koinonia yang hendak dilukiskan bak sejoli yang tengah karam dalam debar cinta yang paling dalam.
“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” (2 Korintus 11:3).
Sayang, apa yang dicemaskan, itu justru terjadi di Eden. Bak sembilu menyayat sukma manakala kekasih berubah setia! Cinta yang baru saja merekah ranum, kini ternoda. Kepercayaan digadaikan, hati mendua, dan harapan akan masa depan yang gemilang mendadak runtuh berantakan—hanya lantaran terbuai oleh bisa rayuan purba yang menghanyutkan ego manusia!
The first rebellion sejatinya bukanlah sekadar narasi tentang ‘makan buah’! Lebih dalam dari itu, inilah tragedi putusnya relasi cinta. Dengan berat hati, DIA mempersilakan sejoli itu melangkah pergi, menuruti jalan yang dipilih sendiri. Tanpa kehadiran Adam dan Hawa, Taman Eden pun raib entah kemana. Sebab sejatinya, Taman Eden ada hanyalah karena kehadiran mereka; tanpa napas sang insan yang menyatu dengan DIA, taman nan megah itu tak lebih dari sekadar hamparan bumi yang sunyi yang telah kehilangan makna.
Namun, DIA tak pernah mengenal putus asa; kesetiaan-NYA tetap teguh berpaut pada niat semula. Bolehlah dimaknai, bahwa Alkitab sejatinya adalah seuntai hikayat cinta-NYA yang panjang—sebuah ikhtiar samawi untuk menyambung kembali relasi cinta yang sempat terputus di rimbunnya Eden.
Pada akhirnya, segalanya bermuara pada satu pilihan yang sunyi namun menentukan. Ini bukanlah isu seputar ritual, bukan pula perkara doktrinal, apalagi sebatas persoalan agama. Ini soal urusan relasi personal antara sukma dengan Sang Kekasih SEJATI!
Ini tentang loyalitas sebagai mempelai! Sebuah gugatan purba bagi setiap nurani sepanjang masa.
Aaahhh… komitmenku mudah goyah untuk tetap setia dan loyal kepada Sang Kekasih SEJATI. Sering daku bak orang bego, gampang mengikuti ego! Moga Adinda tetap waras dan awas terhadap godaan yang membuai sukma. Begitu di Eden, begitu pula di era maya.(nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
