Walau para cerdik pandai memiliki beragam pendapat dalam memahami drama di kitab Kejadian 6:1-4, namun satu yang pasti! YHWH kecewa habis dengan prilaku insani. DIA menyesal hingga sampai kepada keputusan untuk melenyapkan manusia dari permukaan bumi (Kejadian 6:5,6).
Penyesalan ini seakan-akan menggambarkan harapan yang begitu tinggi kepada manusia sebagai God’s image sudah tidak dapat diperbaiki lagi! Prilaku sudah melewati batas yang dapat DIA terima. Mungkinkah kejahatan mereka sudah melewati batas sabar-NYA? Kesempatan untuk berbalik dari jalan serong telah tertutup.
Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (Kejadian 6:11)
Tidak ada jalan lain yang lebih bermartabat, kecuali keturunan Adam dibabat! Mungkinkah jika dibiarkan maka manusia akan saling membinasakan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat selamat. Situasi sudah begitu gawat, sampai-sampai satu-satunya jalan ya peradaban dibuat tamat!
Senangkah DIA dengan keputusan ini? Bagaimanakah perasaan-NYA ketika melihat bayi, anak-anak, wanita hamil, orang-orang kurang daya, orangtua, wanita, ibu-ibu jompa meronta-ronta minta tolong? Dan, DIA diam! Tegakah DIA membiarkan mereka semua harus mati lemas tenggelam?
maka Ia menyesal telah membuat mereka. Hati-Nya hancur. (Kejadian 6:6, FAYH)
Aaahhh..! Pembaca dapatlah merasakan hati-NYA! Terjemahan bahasa Indonesia lainnya menggunakan kata hati-NYA pilu. Kata aslinya juga dapat berarti DIA berduka. Sang Maha Pencipta berduka! Sang Maha Bijaksana pilu! Sang Maha Kasih hati-NYA hancur lebur melihat manusia binasa!
Dulu DIA begitu! Sekarang pun DIA seperti itu. Tingkah lakukulah yang dapat membuat hati-NYA pilu bak disayat sembilu! Begitu istimewakah insan di hadapan-NYA sehingga DIA rela menanggung kepedihan yang sejatinya tak perlu? Lebih-lebih lagi, DIA bersedia dikata-katai sebagai pecundang, gagal dalam melaksanakan niat hati-NYA di bumi.
Setelah drama air bah selesai, peradaban mulai lagi dengan Nuh beserta keluarga. Kendatipun rencana-NYA kandas, bak layu sebelum mekar, DIA tetap melaksanakan rencana orisinil dengan lapang dada. Seolah-olah seperti pengalaman traumatik, DIA mengingatkan diri-NYA sendiri, bahwa bencana besar air bah tidak akan pernah lagi melanda bumi.
Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kejadian 9:11)
Nuh beserta keluarga sudah mulai dapat menarik nafas, setelah ke luar dari bahtera mulailah mereka dapat menyelami pengalaman yang begitu dahsyat. Dengan cepat mereka beradaptasi dengan lingkungan yang serba baru. Mereka tidak perlu berlama-lama bingung, karena YHWH langsung menyampaikan tujuan penyelamatan mereka sebagaimana juga itu disampaikan ke Adam (Kejadian 1:27,28).
Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. (Kejadian 9:1)
Beranak cucu dan bertambah banyak serta penuhilah bumi! “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi… (Kejadian 1:28), merupakan maksud dan tujuan Adam diciptakan dan Nuh beserta keluarga diselamatkan dari bencana besar.
Dari sejak semula, DIA rindu melihat bumi dipenuhi manusia. Ini rencana orisinil-NYA sejak sebelum ada matahari dan tidak akan pernah mundur hingga itu tercapai semuanya. Angka, jumlah menjadi penting bagi tuntasnya rencana-NYA di seantero benua.
Setelah ribuan masa, kini lebih dari 7 milyar manusia menempati setiap pelosok bumi. Dari sisi angka dan penyebaran, apakah dengan demikian rencana-NYA semula dapat dikatakan sudah tercapai ataukah sebaliknya?
Ternyata, gerombolan baru bermunculan menyabotase rencana-NYA! Dan sekali ini tindakan-NYA tak terduga! DIA menyerah! Layaknya dalam permainan cinta, DIA kalah! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |




